TRIBUNPEKANBARU.COM - Sempat bikin heboh di penghujung bulan Maret 2026, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dipastikan tidak naik di SPBU seluruh Indonesia.
Dalam daftar harga BBM yang dirilis Pertamina Patra Niaga, terpantau harga BBM subsidi dan non subsidi seperti Pertalite, Pertamax, dan Solar tidak naik alias tetap.
BBM bersubsidi seperti Pertalite tetap dipatok di angka Rp 10 ribu per liter, sedangkan solar tetap di harga Rp 6.800 per liter di seluruh SPBU.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan, pemerintah tidak akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi hingga akhir 2026 ini.
Pengumuman itu disampaikan Purbaya karena dirinya mendengar narasi soal akan adanya huru-hara yang akan muncul Juli 2026 mendatang.
Secara garis besar narasinya kata dia, meragukan kemampuan pemerintah yang hingga kini masih menahan harga BBM subsidi tidak naik meski harga minyak mentah global selalu menunjukkan angka fluktuatif hingga 100 dolar AS per barel.
Baca juga: Polda Riau Sikat Jaringan Mafia BBM Subdisi, Lebih Dari 10.000 Liter Solar Diamankan
"Jadi yang saya takut itu, kan beredar dibilang paling dua bulan udah abis, dua minggu udah abis paling bulan Juli naik, nanti juga bulan Juli ada huru-hara," kata Purbaya dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Padahal, pemerintah memiliki banyak cadangan anggaran untuk menambal kebutuhan terhadap subsidi energi di dalam negeri termasuk BBM subsidi.
Bahkan dia berseloroh, meskipun harga minyak mentah dunia mencapai lebih dari 100 barel nantinya, anggaran RI akan tetap siap.
"Padahal kita sudah siapkan sampai akhir tahun dengan asumsi 100 dolar, artinya nanti ada yang di atas 100 dalam periode tertentu kita masih kuat dengan existing anggaran yang ada," ucap dia.
Atas hal tersebut, masyarakat diminta untuk tidak perlu khawatir ataupun takut yang justru menimbulkan panic buying.
Kata dia, pemerintah memiliki bantalan anggaran yang cukup kokoh termasuk dari Saldo Anggaran Lebih (SAL).
"Artinya tidak ada (kenaikan) untuk yang bersubsidi ya, yang non-sunsidi kan itu tidak bukan hitungan kita ya, gak ada di anggaran juga jadi yang subsidi sampai akhir tahun aman, Jadi masyarakat di luar tidak usah ribut tidak usah takut, kita sudah hitung," kata dia.
"Kalau kepepet masih ada lagi buffer yang saya bilang tadi Pak, bantalan yang saya bilang tadi.Jadi kita, negara kita aman pak," tukas Purbaya.
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi seperti Pertalite dan Solar tidak akan mengalami kenaikan harga hingga akhir tahun 2026.
Pernyataan itu disampaikan oleh Purbaya saat rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2026). Purbaya menyebut, kepastian itu didapat berdasarkan perhitungan yang rinci dari pemerintah.
Mulanya, Purbaya menjelaskan soal kondisi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) RI di tahun ini di tengah gejolak geopolitik dunia yang berpengaruh pada harga minyak mentah dunia.
"Di kita sudah hitung asumsi harga minyak dunia 100 dolar (per barel) rata-rata sepanjang tahun 2026 dan dengan exercise tertentu anggaran bisa kita tekan masih di 2,92 persen dari PDB. Jadi sepanjang tahun ini dengan harga rata-rata 100, (kondisi APBN) aman," kata Purbaya dalam ruang rapat Komisi XI DPR RI.
Kata Purbaya, kondisi keamanan terhadap anggaran itu didasarkan karena pemerintah masih memiliki banyak bantalan terhadap anggaran, termasuk salah satunya Saldo Anggaran Lebih (SAL).
Dimana kata Purbaya, SAL yang dimiliki RI mencapai Rp420 Triulun. Purbaya lantas menepis adanya pernyataan-pernyataan atau kritik yang menyebut kalau RI tidak punya uang.
"Terus kalau ada orang yang bilang Purbaya tidak punya uang, Menteri Keuangan tidak punya uang, kita dari desain anggaran saja masih di bawah tiga persen. Selain itu saya masih punya SAL (Saldo Anggaran Lebih), sekarang meningkat rupanya Pak Dolfi. Saya juga tidak mengerti harusnya dihabiskan tidak bisa habis rupanya, ke 420 triliun rupiah. Itu merupakan cushion apa, bantalan," kata Purbaya.
Dengan adanya bantalan tersebut, maka Purbaya menegaskan, kalaupun ada kenaikan harga minyak mentah dunia yang lebih tinggi dari 100 dolar per barel pemerintah masih bisa mengendalikan.
Dia juga memastikan akan turut melibatkan Komisi XI DPR RI untuk mengelola seluruh dana keuangan atau anggaran yang ada.
"Bantalan tersendiri kalau kita diperlukan kalau harga minyak naik tinggi sekali misalnya tidak terkendali. Jadi dari situ kita masih aman Bapak-bapak, Ibu-Ibu. Tentu saya akan ke Komisi XI untuk meminta izin bagaimana mengelola anggaran SAL itu untuk menjaga sustainabilitas, bukan APBN lagi pada waktu nanti, negara kita," sambung dia.
Menyiapkan hal tersebut, Ketua Komisi XI DPR RI M. Misbakhun memastikan ke Purbaya soal kemampuan negara menjamin harga BBM tidak naik.
Misbakhun juga minta kepastian kepada pemerintah kalau kenaikan harga BBM subsidi itu tidak akan terjadi hingga akhir tahun ini.
"Jadi saya ingin memastikan lagi nih Pak. Ini apa yang bapak sampaikan terakhir ini sangat penting ini untuk diketahui masyarakat Pak. Bahwa exercise harga BBM di 80, 90 dan 100 pun negara sudah siap ya Pak?" tanya Misbakhun.
"Sudah siap. Yang kemarin diumumkan itu dengan asumsi 100. Jadi kita sudah siap pola sampai sana," timpal Purbaya.
"Siap sampai akhir tahun?" tanya lagi Misbakhun.
"Sampai akhir tahun," jawab Purbaya.
Dengan hal tersebut, Misbhakun menegaskan kalau kabar yang disampaikan oleh Purbaya tersebut harus diketahui secara luas oleh masyarakat.
"Nah, ini yang harus masyarakat tahu Pak. Bahwa pemerintah siap untuk tidak menaikkan sampai di akhir tahun," sambung Misbakhun.
Meski demikian, Purbaya memastikan kalau pemerintah menjamin harga BBM tidak akan naik hanya untuk jenis BBM subsidi.
Sementara untuk non-subsidi, Purbaya tidak berbicara lebih jauh karena kata dia, hitungan terhadap harga BBM non-subsidi tidak pada anggaran APBN RI.
"Iya Pak. Kami siap tidak menaikkan sampai akhir tahun untuk BBM bersubsidi ya Pak ya, kalau non-subsidi bukan hitungan kita ya, gak ada di anggaran juga," kata dia.
( Tribunpekanbaru.com / Tribunnews )