96 Kasus DBD di Kabupaten Lamongan Sepanjang Tahun 2026, Dinkes Lakukan Ini
Titis Jati Permata April 06, 2026 04:32 PM

 

SURYA.co.id LAMONGAN - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Lamongan sepanjang tahun 2026 masih menjadi perhatian serius. 

Hingga awal April 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan mencatat sedikitnya 96 kasus DBD terjadi di berbagai wilayah di Lamongan.

Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat laporan korban meninggal dunia akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

Kondisi tersebut membuat masyarakat diminta lebih waspada dan meningkatkan kebersihan lingkungan sekitar sebagai langkah pencegahan.

Alami Gejala Ringan

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Lamongan, dr. Yani Khoirurahmahwati, menjelaskan, dari total 96 kasus yang tercatat, sebagian besar pasien mengalami gejala ringan.

"Dari 96 kasus tersebut, sebanyak 48 orang mengalami infeksi virus dengue ringan. Sementara 11 orang lainnya sudah menunjukkan gejala klinis awal demam berdarah," kata  Yani kepada SURYA.co.id, Senin (6/4/2026).

Ia menjelaskan, kasus-kasus lainnya masih dalam pengawasan dan sebagian pasien menjalani perawatan maupun observasi di fasilitas kesehatan.

Cuaca Sering Turun Hujan

Menurut Yani, meningkatnya kasus DBD tidak lepas dari kondisi cuaca yang masih sering turun hujan disertai genangan air di sejumlah lingkungan permukiman. 

Genangan air tersebut kerap menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.

Nyamuk penyebab DBD biasanya berkembang biak di tempat-tempat penampungan air bersih, seperti bak mandi, drum, ember, tempat minum hewan, hingga barang bekas yang menampung air hujan.

Karena itu, Dinkes Lamongan terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat agar lebih disiplin menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Penerapan 3M

Salah satu langkah yang terus diimbau adalah penerapan 3 M, yakni Menguras, Menutup, dan Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

"Kami terus mengimbau masyarakat menerapkan 3 M secara rutin, terutama rutin membersihkan penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, dan tidak membiarkan barang bekas menumpuk di sekitar rumah," ujar  Yani.

Ia menegaskan, langkah sederhana tersebut terbukti efektif memutus rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti yang menjadi pembawa virus dengue penyebab DBD.

Kuras Bak Mandi dan Penampungan Air Seminggu Sekali

Selain menguras bak mandi dan tempat penampungan air sedikitnya seminggu sekali, masyarakat juga diminta menutup rapat wadah air serta memanfaatkan kembali atau membuang barang bekas seperti kaleng, botol, ban bekas, dan wadah plastik yang dapat menampung air.

Tidak hanya itu, warga juga diimbau menggunakan obat pembasmi jentik nyamuk pada tempat-tempat yang sulit dikuras.

Penggunaan obat anti nyamuk, memasang kawat kasa di ventilasi rumah, hingga menjaga kebersihan saluran air juga dinilai penting untuk mencegah penularan.

"Masyarakat harus waspada. Jangan menunggu ada anggota keluarga yang sakit baru melakukan pembersihan lingkungan," katanya.

Penanganan Sejak Dini

Dinkes Lamongan juga meminta warga segera membawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, mual, muntah, lemas, hingga muncul bintik merah di kulit.

Sebab, penanganan sejak dini dinilai penting agar kondisi pasien tidak berkembang menjadi demam berdarah berat.

Selain menggencarkan edukasi, Dinkes Lamongan kini juga mulai melakukan pengasapan atau fogging di sejumlah kawasan permukiman padat penduduk.

Fogging dilakukan terutama di wilayah yang ditemukan kasus DBD maupun lingkungan yang dinilai berpotensi tinggi menjadi lokasi penyebaran nyamuk.

Tak hanya lingkungan rumah warga, pengasapan juga dilakukan di area saluran got dan tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Putus Rantai Penyebaran Nyamuk

Langkah tersebut dilakukan untuk memutus rantai penyebaran nyamuk Aedes aegypti sekaligus menekan kemungkinan munculnya kasus baru.

Meski begitu, Yani menegaskan bahwa fogging bukan menjadi solusi utama. Sebab, pengasapan hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan telur dan jentik nyamuk masih bisa bertahan apabila lingkungan tetap kotor.

"Fogging hanya salah satu upaya tambahan. Yang paling penting tetap menjaga kebersihan lingkungan dan rutin menjalankan 3 M," tegasnya.

Dinkes Lamongan berharap seluruh masyarakat ikut terlibat aktif menjaga kebersihan lingkungan, sehingga kasus DBD di Lamongan tidak terus bertambah selama 2026. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.