Dari Yesus hingga Prajurit, Ini Deretan Pemeran Jalan Salib GPM Syaloom - Batu Meja
Fandi Wattimena April 06, 2026 04:52 PM

Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis

AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Prosesi Jalan Salib Jemaat GPM Syaloom Batu Meja di Kota Ambon, Minggu (5/4/2026) dini hari, menghadirkan bukan sekadar pertunjukan.

Tetapi sebuah dramatika iman yang diperkuat oleh totalitas 59 pemeran dari berbagai karakter Alkitab.

Ketua Panitia Jalan Salib, Jessy Radjawane, menjelaskan bahwa seluruh pemeran dipilih dan dipersiapkan secara khusus untuk menghidupkan setiap fragmen kisah penyaliban Yesus Kristus secara utuh dan menyentuh.

Di barisan terdepan, sosok Gino Pattihahuan memerankan Yesus dan menjadi pusat perhatian. 

Penghayatannya yang mendalam berpadu dengan peran Sella Tousalwa sebagai Maria, ibu Yesus, serta Jean Pattiradjawane sebagai Maria Magdalena, membentuk inti emosional yang kuat sepanjang pementasan.

Konflik kekuasaan tergambar melalui karakter Valen Haruway sebagai Pilatus yang didampingi Christo Maitimu, serta Jefry Amanupunjo sebagai Kayafas. 

Sementara itu, peran Herodes dimainkan Pierre Engko bersama dua pendampingnya, Kenny Fransiscus dan Gill Matitakapa, yang memperkuat nuansa politik dan intrik dalam kisah tersebut.

Tokoh pengkhianat Yudas diperankan Edy Tuhehay, menghadirkan dinamika batin yang kontras dengan sosok Simon dari Kirene yang dimainkan Alfaris Seipattiratu.

Baca juga: Akses Pendakian Gunung Salahutu Rusak Parah, Dikeluhkan Warga hingga Turis

Baca juga: Buka Tes Akademik SMP 2026, Pemkab SBT Tekan Generasi Unggul dan Berdaya Saing

Serta Veronika yang diperankan Amanda Pattipeilohy, figur-figur yang menampilkan sisi kemanusiaan di tengah penderitaan.

Dani Muskitta memerankan Barabas, seorang narapidana atau tahanan politik Yahudi yang dibebaskan oleh Gubernur Pontius Pilatus saat Paskah, alih-alih Yesus Kristus, atas permintaan orang banyak.

Pelis Latuheru sebagai narator turut memperkaya alur cerita, menjembatani setiap adegan agar mudah dipahami oleh ribuan penonton.

Di sisi lain, kekuatan dramatik juga dibangun oleh pasukan prajurit yang dipimpin Corneles Palapessy sebagai kepala prajurit. 

Ia didukung deretan prajurit mulai dari Hendro Hehareuw, Dio Muskitta, Ando Maghyn, Rido Wattimena, hingga Yopi Wenno, Steward Manuputty, Gil Patty, Anes Leimena, Kanu Ritawaemahu, Yerry Leimena, Ronald Diaz, Marvin Souhuken, Patrick de Fretes, Pierre Tamtelahittu, Sesar, Juan, Orel Muskitta, dan Tino.

Adegan penyiksaan semakin kuat dengan kehadiran para algojo yang diperankan Valen, Ampi, Frento Corputty, dan Andre Hehareuw.

Sementara itu, kelompok pemuka agama dan masyarakat turut dihidupkan oleh Deni Tuankotta, William Diaz, dan Yopi Wenno sebagai imam, kemudian Brian Loupatty, Hendrik Lemosol dan Millian Hehareuw sebagai orang Farisi.

Serta Dennis Mahury, Brandon Loupatty, dan Angky Radjawane sebagai orang Yahudi.

Nuansa penderitaan dan refleksi juga diperkuat oleh kehadiran dua penyamun yang diperankan Hena Amanupunjo dan Xlasanta Hiariej.

Sementara para murid Yesus yang dimainkan Valino Pattipeilohy, Stevy Huwae, dan Greggy Tumalang.

Tak kalah penting, sembilan perempuan Samaria—Mizzel Lawalatta, Jessi Tousalwa, Wilta de Queljoe, Gloria Pesiwarissa, Julian Eipepa, Gebby Tuankotta, Ella Radjoelan, Ella Tupan, dan Tya Loppies, menghadirkan warna empati dan dukungan moral dalam perjalanan Via Dolorosa.

Seluruh karakter ini menyatu dalam satu panggung besar di sepanjang Jalan Pattimura, menciptakan suasana dramatis yang membuat ribuan warga larut dalam emosi.

Untuk pertama kalinya memerankan tokoh tersebut, ia mengaku menjalani proses spiritual yang mendalam.

“Persiapan saya adalah menjadikan diri sebagai wadah yang nanti diisi oleh Tuhan. Apa yang kami persembahkan bukan karena kami hebat, tetapi Tuhan Yesus pakai untuk kemuliaan-Nya,” ungkapnya saat diwawancarai TribunAmbon.com, Minggu (5/4/2026).

Ia bahkan merasakan langsung makna penderitaan saat adegan cambukan berlangsung.

“Ketika dicambuk, saya merasakan betapa sengsaranya Tuhan Yesus. Kita sebagai manusia tidak akan mampu membalas pengorbanan itu,” katanya.

Pementasan ini merupakan hasil proses panjang sejak Oktober 2025, dilanjutkan latihan intensif sejak Februari 2026 hingga gladi resik awal April. 

Seluruh pemeran juga menjalani puasa selama 18 jam sebagai bentuk penghayatan iman.

Prosesi dimulai dari Gereja Maranatha pukul 01.00 WIT dan berakhir di Gapura Syaloom Batu Meja sekitar pukul 02.45 WIT, dengan ribuan warga memadati sepanjang Jalan Pattimura.

Ketua Paduan Suara Ora Et Labora, Non Tatipikalawan, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan refleksi iman.

“Ini bukan cerita fiktif, tetapi kisah nyata yang dihadirkan kembali. Harapannya tidak hanya ditonton, tetapi juga dirasakan,” ujarnya.

Melalui totalitas para pemeran, Jalan Salib ini menjadi pengingat akan pengorbanan Yesus Kristus, sekaligus membawa pesan harapan, kemenangan, dan kehidupan baru melalui kebangkitan-Nya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.