TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - M Arief Hidayat Annas siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pekanbaru kelas 12 jurusan Sosial Humaniora baru saja menorehkan pencapaian yang tidak main-main.
M Arief Hidayat Annas diterima di 13 kampus luar negeri.
Sebuah prestasi yang bagi banyak orang terasa jauh, bahkan nyaris mustahil.
Tapi bagi Arief, semua berawal dari satu hal sederhana, yakni mimpi untuk memberi arti bagi daerahnya.
13 kampus tersebut yakni RMIT University (Bachelor of Urban Planning), Western Sydney University (Bachelor of Planning), Bond University (Bachelor of International Relations/Business), Wageningen University & Research (Bachelor of Tourism).
Kemudian Deakin University (Bachelor of Laws), University of Canterbury (Bachelor of Science in Geology), Swinburne University of Technology (Bachelor of Laws/Bachelor of Business), University of Wollongong Australia (Bachelor of Business/Bachelor of Laws), University of Southern Queensland (Bachelor of Aviation), Auckland University of Technology (Bachelor of Business), Victoria University of Wellington (Bachelor of Laws), Management and Science University (Bachelor in Economic and Finance), serta Charles Darwin University (Bachelor of Science).
Keputusannya untuk melirik kampus luar negeri bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba.
Sejak kelas 10, ia sudah mulai menelusuri berbagai pilihan.
Ketika teman-temannya sibuk mempertimbangkan perguruan tinggi dalam negeri, Arief justru membuka peta yang lebih luas.
"Awalnya kepikiran untuk kuliah di kampus yang berbeda (luar negeri). Kemudian mencari tahu dengan menelusuri kampus-kampus yang sesuai dengan keinginan," ungkapnya.
Baca juga: Diakui Kemendikdasmen sebagai Sekolah Terbaik, Ternyata Ini yang Dilakukan MAN 2 Pekanbaru
Ia menyeleksi sekitar 20 kampus dari berbagai negara. Mulai dari Australia, Selandia Baru, Belanda, hingga Malaysia.
Tidak hanya memilih kampus, ia juga menelusuri jurusan yang benar-benar sesuai dengan minat dan tujuan hidupnya.
"Ya, ada juga kepikiran untuk mempersiapkan kampus lain. Untuk jaga-jagalah. Makanya mendaftar di banyak kampus," ungkapnya.
Dalam proses pencarian dan pendaftaran pada kampus-kampus luar negeri tersebut, Arief mengaku melakukannya secara mandiri.
Bahkan orangtuanya baru tahu setelah ia mengatakan telah mampu bersaing dan lolos di belasan kampus tersebut.
Itu juga sesuai dengan target yang ingin ia capai. Bahwa ia tak ingin merepotkan orangtua dan mencari kampus yang juga menyediakan beasiswa.
"Karena itu, Arief mencari kampus yang mensuport untuk biaya perkuliahan. Arief tak ingin bebankan orangtua.," ungkapnya.
Meski demikian, tentu saja orangtuanya tidak melepas begitu saja. Tahu sang anak lolos di beberapa kampus luar negeri, antusias menyeruak dan makin mendukung Arief.
"Orangtua bangga. Kemudian mereka bertanya-tanya memberikan dukungan. Termasuk bertanya apa yang bisa mereka bantu," ujar Arief.
Sosok Ibu yang paling dominan menujukkan kebanggaannya pada Arief. Sang ibu kemudian yang kerap bertanya perihal apa saja yang harus dibantu.
"Ya, ibu bangga. Bahkan juga bercerita pada teman-temannya. Dukungan orangtua memberikan motivasi bagi Arief," terangnya.
Dari keinginan kuat Arief meningkatkan kapasitas pendidikannya, ternyata ada cita-cita yang tak kalah besar pula.
Arief mengaku sengaja memilih jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota di kampus luar negeri.
Baginya, pengetahuan pada bidang tersebut menjadi harapannya kedepan untuk bisa bersumbangsih pada daerah.
Arief mengaku ia sangat suka pada geografi. Kemudian ia juga sangat tertarik pada isu-isu sosial. Hal sejalan yang membuatnya makin matang memilih kampus luar negeri karena sehari-hari telah terbiasa dengan bahasa inggris.
Kebiasaan yang memang disengaja orangtuanya dirumah. Bentuk dukungan itulah yang membuat ia juga mandiri dan mampu mengembangkan diri.
Kemudian terkait dengan spesifik jurusan perencanaan bangunan wilayah dan kota, yang ia pilih, karena bapak yang juga punya pekerjaan di bidang pertanahan.
"Makanya Arief makin termotivasi dan sangat ingin merealisasikan apa yang diinginkan dan dicita-citakan," ungkapnya.
Pilihan kuliah di kampus luar negeri tidak sesederhana yang terpikirkan, ternyata Arief termotivasi untuk bisa mengabdi pada daerah.
Terutama untuk perencanaan bangunan. Karena itu, ia ingin sekalian menjadi sosok yang nantinya bisa menyumbangkan pemikiran.
"Ya, pengen jadi diplomat, Menteri atau yang ada di DPR gitulah. Karena Arief sangat tertarik. Terutama untuk bangunan di Kota Pekanbaru ini. Karena masih bisa terus berkembang," ungkapnya.
Kemandiriannya mencari kampus luar negeri, tidak diketahui banyak oleh orangtua dan teman-teman.
Ia mengaku orangtua tidak terlibat jauh pada saat ia hendak mendaftar pada kampus luar negeri.
Keinginan itu lahir dari dirinya sendiri. Pilihan tersebut juga tidak pernah diintervensi.
"Yang penting pilihan Arief jangan sampai membebankan orangtua. Itu juga sejalan dengan keinginan Arief. Makanya Arief terus berusaha agar bisa mendapatkan beasiswa penuh," ujarnya
Perasaan bangga dan emosional juga terlampiaskan oleh teman-teman sekolahnya. Dikatakan Arief, banyak temannya yang kaget atas prestasi yang ia capai.
"Ya, kaget juga. Namun banyak yang mengucapkan selamat. Tentu saja teman-teman juga bangga," beber Arief.
Atas apa yang ia capai itu, Arief mengaku bahwa semua berawal dari mimpi yang besar. Karena itu, ia berharap teman-temannya juga terus bermimpi pada hal yang besar.
Mencapai apa yang jadi keinginan. Jangan hanya terfokus pada informasi yang disuapi.
"Teruslah menggali, mencari. Percaya pada yang ingin dicapai," ujarnya.
Kepala MAN 2 Pekanbaru Ghafardi mengucapkan selamat atas keberhasilan siswa MAN 2 bisa diterima pada 13 universitas di Luar Negeri, menurutnya ini menjadi bukti bahwa siswa madrasah mampu bersaing di tingkat global.
Dikatakan Ghafardi, prestasi ini menunjukkan bahwa madrasah tidak hanya unggul dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga mampu mencetak generasi yang berdaya saing internasional.
"MAN 2 Pekanbaru terus berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan dan membuka akses seluas-luasnya bagi peserta didik untuk meraih masa depan yang gemilang" ujarnya
Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi siswa lainnya untuk terus berprestasi dan berani meraih peluang pendidikan hingga ke tingkat internasional.
(Tribun Pekanbaru/Budi Rahmat)