TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Harapan warga di pelosok Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) untuk memiliki akses penghubung yang layak mulai terwujud.
Pembangunan Jembatan Garuda resmi dimulai melalui prosesi groundbreaking yang dilakukan serentak di wilayah Kodim 1015/Sampit, Senin (6/4/2026).
Kegiatan tersebut dipusatkan di Dusun Tandang, Desa Barunang Miri, Kecamatan Parenggean serta Desa Tukang Langit, Kecamatan Telaga Antang.
Prosesi itu merupakan bagian dari program Kodam XXII/Tambun Bungai yang dilaksanakan di 15 titik di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Panglima Kodam (Pangdam) XXII/Tambun Bungai, Mayor Jenderal TNI Zainul Arifin, menegaskan bahwa pembangunan jembatan ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan bentuk nyata komitmen TNI dalam membantu percepatan pembangunan daerah.
“Kehadiran jembatan ini diharapkan mampu meningkatkan konektivitas antarwilayah yang selama ini sulit dijangkau serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pembangunan Jembatan Garuda merupakan hasil kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam program bakti TNI untuk negeri.
Menurutnya, nama “Garuda” mengandung filosofi semangat kepeloporan dan keberanian dalam membuka akses baru bagi kemajuan wilayah terpencil.
“Kami berharap kendala geografis yang selama ini menghambat mobilitas warga dapat segera teratasi, sehingga akses pelayanan publik dan distribusi logistik menjadi lebih efisien,” tambahnya.
Sementara itu, Komandan Kodim 1015/Sampit, Letkol Inf Dwi Candra Setiawan, mengungkapkan bahwa pembangunan jembatan di Desa Barunang Miri akan dilakukan secara cepat dengan target penyelesaian sekitar 20 hari.
Jembatan tersebut akan dibangun di atas Sungai Tualan dengan lebar sungai sekitar 70 meter dan bentang jembatan mencapai 80 meter.
“Pengerjaan melibatkan personel dari Zidam XII/Tambun Bungai, Yonif TP 831 Panunjung Tarung, serta masyarakat setempat. Kami juga melibatkan konsultan sipil agar pembangunan berjalan sesuai standar,” jelasnya.
Ia memastikan seluruh proses pembangunan mengacu pada spesifikasi teknis dari Pusat Zeni TNI Angkatan Darat, sehingga jembatan yang dibangun kuat dan memiliki umur pakai panjang.
Disisi lain, Staf Ahli Bupati Kotim Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Rafiq Riswandi, menyebutkan pembangunan infrastruktur seperti jembatan menjadi kunci dalam membuka keterisolasian wilayah.
“Jembatan ini sangat penting, mengingat wilayah Kotim luas dan banyak dipisahkan oleh sungai. Ini akan mempercepat pertumbuhan ekonomi dan memudahkan akses masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah akan terus mendukung program serupa ke depan, mengingat kebutuhan infrastruktur di Kotim masih cukup besar.
Bagi warga setempat, pembangunan jembatan ini bukan sekadar proyek, melainkan jawaban atas kesulitan yang selama ini mereka hadapi.
Siddiq, warga Dusun Kota Baru, Desa Barunang Miri, mengaku sangat bersyukur atas pembangunan tersebut.
“Selama ini kami harus menyeberang pakai klotok atau lanting. Anak-anak sekolah juga kesulitan. Mudah-mudahan dengan jembatan ini, mereka bisa lebih mudah dan cepat ke sekolah,” ungkapnya.
Baca juga: Jembatan Sapihan Besar di MHS Kotim Mulai Rapuh, Truk Sawit Dilarang Melintas
Baca juga: Kodam XXII/Tambun Bungai Bakal Bangun Rindam Pada Lahan 50 Hektar
Ia juga berharap pembangunan berjalan lancar dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat di dua dusun tersebut.
Dengan dimulainya pembangunan Jembatan Garuda ini, harapan baru pun tumbuh di tengah masyarakat.
Tak hanya membuka akses yang selama ini terputus, tetapi juga menjadi awal dari geliat ekonomi baru di wilayah pedalaman Kotim.