TRIBUNJABAR.ID, JAKARTA - Situasi geopolitik dunia yang belum menunjukkan tanda mereda mulai memunculkan kekhawatiran baru terhadap keberlanjutan pembangunan infrastruktur di Tanah Air.
Kondisi global yang memanas, khususnya akibat konflik Iran dengan Amerika-Israel, perlahan memberi tekanan terhadap stabilitas sektor konstruksi dalam negeri.
Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, mengingatkan adanya potensi kenaikan harga pada dua material utama, yakni besi dan semen, yang menjadi fondasi dalam berbagai proyek pembangunan.
Meski pergerakan harga saat ini masih relatif stabil, pemerintah melihat kecenderungan kenaikan sebagai sesuatu yang sulit dihindari dalam waktu ke depan.
Konflik yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat dengan Iran dinilai berisiko mengganggu distribusi global. Dampaknya, biaya produksi bahan konstruksi di dalam negeri berpotensi ikut terdorong naik akibat tersendatnya rantai pasok.
Dody memastikan pihaknya akan meningkatkan intensitas pemantauan terhadap dinamika harga di pasar guna mengantisipasi kemungkinan terburuk.
"Sementara ini memang belum ada kenaikan, tapi saya yakin nanti akan ada. Jika harga-harga, terutama besi dan semen, naik tinggi, kami akan melakukan eskalasi kontrak. Nanti akan kami sampaikan kepada publik pada waktu yang tepat," tegas Dody, dikutip Kompas.com, Senin (6/4/2026).
Ia menjelaskan, mekanisme eskalasi kontrak atau penyesuaian nilai proyek akibat lonjakan harga yang tidak wajar dapat menjadi solusi penyeimbang.
Langkah ini diharapkan mampu menjaga kelangsungan proyek strategis nasional (PSN) agar tidak terhenti karena tekanan biaya yang tak tertanggungkan oleh kontraktor.
Hasil pemantauan pasar hingga April 2026 menunjukkan harga bahan bangunan masih berada dalam batas normal. Namun, di level distributor mulai terlihat adanya kecenderungan kenaikan tipis.
Rincian kisaran harga yang berlaku saat ini antara lain: Besi Beton Polos Per Batang (12 meter): Rp 85.000-Rp 115.000 Besi Beton Ulir Per Batang (12 meter): Rp 120.000-Rp 165.000 Semen (PC) Per Sak (40 kg): Rp 58.000-Rp 65.000 Semen (PC) Per Sak (50 kg): Rp 72.000-Rp 82.000 Catatan, harga bervariasi tergantung merek, volume pembelian, dan lokasi proyek.
Keterkaitan dengan Distribusi Logistik
Tekanan terbesar memang dirasakan pada komponen besi dan semen. Ahli konstruksi dari Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), Davy Sukamta, menyebut kedua material tersebut memiliki kontribusi dominan dalam struktur biaya proyek infrastruktur.
Produksi besi sangat dipengaruhi oleh fluktuasi harga bijih besi serta energi batu bara di pasar global. Di sisi lain, industri semen juga membutuhkan energi dalam jumlah besar, terutama dalam proses pembakaran clinker.
Perang yang berlangsung lama turut mendorong kenaikan harga energi dan biaya logistik laut. Kondisi ini otomatis memperberat biaya produksi yang harus ditanggung industri material.
"Perang yang berkepanjangan memicu lonjakan harga energi dan biaya logistik laut (freight cost)," ujar Davy. Jika harga energi tetap tinggi, produsen material domestik tidak akan punya pilihan selain membebankan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen.
Bagi pemerintah, lonjakan harga material konstruksi tidak sekadar persoalan teknis di lapangan. Situasi ini berpotensi mengganggu target pertumbuhan ekonomi nasional karena berdampak langsung pada pembiayaan pembangunan.
Walau eskalasi kontrak dapat menjadi solusi bagi pelaku konstruksi, di sisi lain langkah tersebut berarti adanya tambahan beban terhadap anggaran negara melalui APBN.
Karena itu, Dody mengimbau masyarakat serta pelaku industri untuk bersiap menghadapi kemungkinan pengumuman penyesuaian kontrak jika kondisi global terus memburuk.
Gejolak Global Berdampak Lokal, Warga Jabar Harus Pertimbangkan Harga Material
Bagi masyarakat, termasuk di jabar, kondisi ini bukan sekadar isu industri, tetapi berimbas nyata pada kebutuhan sehari-hari. Rencana pembangunan rumah, renovasi, hingga proyek kecil lainnya bisa terdampak jika harga material melonjak tajam.
Karena itu, warga harus mulai mempertimbangkan waktu pelaksanaan pembangunan dengan lebih matang. Menunda atau mempercepat proyek bisa menjadi pilihan strategis, tergantung pada kesiapan anggaran dan perkembangan harga di pasar.
Selain itu, perencanaan pembelian material secara bertahap juga dapat menjadi langkah mitigasi untuk menghindari lonjakan harga mendadak. Dengan strategi yang tepat, beban biaya bisa lebih terkendali.
Kewaspadaan sejak dini menjadi kunci agar masyarakat tidak terjebak dalam situasi biaya yang tiba-tiba membengkak. Dengan memahami arah pergerakan harga, warga Jawa Barat dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dalam merencanakan kebutuhan pembangunan.