Okupansi Hotel di Jogja selama Long Weekend Paskah Tak Sesuai Harapan
Yoseph Hary W April 06, 2026 07:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Libur panjang atau long weekend Paskah digadang-gadang bisa membawa angin segar bagi geliat industri pariwisata di DI Yogyakarta. 

Akan tetapi, yang terjadi, tingkat hunian kamar hotel atau okupansi rupanya belum mampu menyentuh angka yang memuaskan para pelaku usaha.

Di bawah ekspektasi

​Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengungkapkan, selama tiga hari libur Paskah, okupansi hotel di DIY berada di angka 40 hingga 60 persen.

Fenomena serupa, sejatinya sudah dirasakan para penyedia jasa akomodasi di Kota Pelajar, sepanjang momen libur panjang Lebaran beberapa waktu lalu.

​"Kita patut bersyukur ada kenaikan sekitar 10 persen dari hari biasa. Tapi jujur, ini masih di bawah ekspektasi kita," tandasnya, Senin (6/4/26).

Deddy tak menampik bahwa kondisi ekonomi saat ini, terutama turunnya daya beli masyarakat dan kebijakan efisiensi bahan bakar, turut memengaruhi minat pelancong. 

Namun, ia juga menyoroti kabar mengenai prediksi ledakan 8,2 juta wisatawan masuk ke Yogyakarta saat libur Lebaran yang jadi semacam bumerang bagi kalangannya.

​"Prediksi Yogyakarta dikunjungi jutaan orang itu malah bikin orang takut datang. Mereka takut jalanan padat, takut nggak kebagian kamar. Akhirnya, wisatawan beralih ke tetangga sebelah, seperti Wonosobo dan Kebumen," keluhnya.

​"Padahal, ketersediaan kamar hotel di Yogyakarta sebenarnya sangat mencukupi. Bahkan, teman-teman homestay saja kemarin mengeluh sepi. Artinya, narasi yang beredar itu dampaknya sangat luas dan merugikan pelaku wisata, termasuk UMKM," tambah Deddy.

Hanya singgah

​Menurut pantauannya, banyak wisatawan yang turun di stasiun atau melintas di Yogyakarta sebenarnya hanya singgah untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke daerah asal seperti Magelang, Klaten, hingga Purwokerto.

Namun, dalam prediksi yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) RI sebelum libur Lebaran lalu, tren semacam itu turut masuk hitungan.

​"Mereka tidak stay, mungkin cuma mampir atau ke tempat saudara. Narasi seperti ini harus diperjelas ke depannya. Jangan sampai narasi 8,2 juta itu hanya angka yang 'lewat', tapi malah mematikan potensi tamu yang benar-benar ingin menginap," tambahnya.

Berharap pada libur sekolah

Kini, pelaku usaha jasa perhotelan di Yogyakarta pun menaruh harapan besar pada bulan Mei mendatang, bertepatan dengan musim libur sekolah. 

Selaras data reservasi sementara, angka pemesanan kamar untuk bulan Mei sudah menyentuh 60 persen, yang diharapkan tetap stabil dan tidak ada pembatalan di kemudian hari. 

​"Semoga tidak ada yang cancel. Harapannya ini bisa 'nomboki' atau menambal kekurangan dari periode Januari sampai Maret yang cenderung sepi," katanya. 

Lebih lanjut, Deddy mengajak seluruh pihak, mulai dari asosiasi hingga Pemerintah Daerah, untuk terus mengedepankan semangat "guyub sesarengan". 

Sinergi dalam meng-counter isu negatif dan memperjelas informasi kepada publik dianggap menjadi kunci agar pariwisata DIY tetap menjadi pilihan utama.

​"Perlu ada kolaborasi. Pemerintah DIY harus bisa meng-counter narasi yang bisa merugikan pelaku wisata. Kita ingin okupansi hotel dan restoran lebih baik dari apa yang kita capai saat ini," pungkasnya. (aka)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.