POS-KUPANG.COM, WASHINGTON - Ancaman keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Iran menandai pergeseran terget perang negara adidaya tersebut.
Presiden Trump sebelumnya telah mengeluarkan ancaman bahwa pada Selasa 7 April 2026 akan menjadi momentum penghancuran infrastruktur energi dan transportasi di Iran.
Ancaman ini disampaikan di tengah berkecamuknya perang gabungan AS-Israel melawan Teheran.
Baca juga: Ketua Parlemen Iran Ingatkan Amerika: Langkah Gegabah akan Seret Anda ke Neraka
Melalui platform Truth Social pada Minggu, 5 April, Trump mengatakan bahwa serangan tersebut akan menyasar pembangkit listrik dan jembatan secara serentak.
"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik dan Hari Jembatan, semuanya digabung menjadi satu di Iran. Belum pernah ada yang seperti ini!" tulis Trump, seperti dikutip Anadolu, Senin, 6 April 2026.
Trump menegaskan bahwa Teheran harus segera membuka kembali Selat Hormuz jika ingin menghindari kehancuran total. Jalur maritim tersebut merupakan urat nadi energi dunia yang saat ini dibatasi aksesnya oleh otoritas Iran.
"Buka Selat Hormuz atau kalian akan hidup dalam 'neraka'. Lihat saja!" tegas Trump dalam unggahannya.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat tajam sejak AS dan Israel meluncurkan ofensif bersama ke Iran pada 28 Februari 2026. Hingga saat ini, konflik tersebut telah membawa dampak signifikan.
Lebih dari 1.340 orang dilaporkan tewas, termasuk mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat.
Iran memperketat pergerakan kapal di Selat Hormuz sebagai strategi pertahanan, yang memicu reaksi keras dari Washington.
Adapun pernyataan ini menandakan pergeseran target militer AS dari pangkalan pertahanan menuju infrastruktur sipil strategis, yang diprediksi akan memperburuk krisis kemanusiaan dan ekonomi di wilayah tersebut.
Respon Iran
Iran merespon ancaman terbuka Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di media sosia miliknya.
Presiden Amerika Serikat itu merilis unggahan yang sarat kata-kata kasar di media sosial dengan mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika negara itu tidak membuka Selat Hormuz bagi semua kapal, pada Selasa (7/4).
Seperti ancaman sebelumnya, Trump berkata dirinya akan membuat Iran seperti "neraka". Namun, kepada media AS, Trump menyatakan ada "peluang besar" tercapainya kesepakatan dengan Teheran.
Iran mengejek ultimatum Trump, sekaligus menyebut pernyataan Trump "tidak berdaya, gugup, dan bodoh".
Ancaman baru Trump mengemuka setelah dia mengumumkan bahwa awak kedua dari pesawat jet tempur AS yang ditembak jatuh di Iran telah berhasil diselamatkan dalam operasi di wilayah negara tersebut.
Menurut Trump, pilot F-15 itu telah diselamatkan tak lama setelah pesawat yang diawakinya ditembak jatuh pada Jumat (03/04). Insiden ini terjadi setelah lebih dari sebulan perang.
Iran terus membalas gempuran udara AS dan Israel dengan serangan terhadap berbagai fasilitas AS di negara-negara Teluk yang bersekutu dengan kedua negara tersebut.
Iran juga menghambat arus lalu lintas kapal di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang biasanya dilalui kapal-kapal yang mengangkut sekitar seperlima minyak dan gas dunia. Hal ini memicu lonjakan harga minyak global dan kekhawatiran terhadap inflasi yang lebih tinggi di seluruh dunia.
Gangguan tersebut mendorong Trump untuk mengultimatum Iran untuk membuka kembali selat tersebut.(*)