Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Aceh Tengah
TribunGayo.com, TAKENGON - Kenaikan harga kebutuhan pokok pascabencana hidrometeorologi di Tanah Gayo turut berdampak pada harga makanan harian masyarakat.
Salah satunya terlihat pada harga nasi guri atau nasi pagi yang mengalami penyesuaian di sejumlah warung di kawasan Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah.
Seorang penjual nasi guri di kawasan Terminal Takengon menyampaikan bahwa harga beberapa menu mengalami kenaikan karena meningkatnya biaya bahan baku dan distribusi pascabencana.
Menurutnya, harga nasi guri dengan lauk telur yang sebelumnya dijual Rp 13 ribu kini naik menjadi Rp 15 ribu.
Sementara menu nasi dengan gulai ayam yang biasanya Rp 18 ribu kini menjadi Rp 20 ribu per porsi.
“Iya semuanya naik bang,” ujar salah seorang penjual nasi guri di kawasan terminal Takengon yang warungnya dikenal ramai pelanggan setiap pagi menjawab TribunGayo.com, Senin (6/4/2026).
Kenaikan harga ini dinilai sebagai dampak berantai dari terganggunya jalur distribusi dan meningkatnya ongkos transportasi setelah bencana hidrometeorologi yang merusak sejumlah ruas jalan dan infrastruktur penghubung di wilayah dataran tinggi Gayo.
Meski demikian, para pedagang berharap kondisi distribusi bahan kebutuhan pokok dapat segera kembali normal, sehingga harga makanan harian masyarakat dapat kembali stabil dan terjangkau.
Sejumlah ongkos angkutan dan harga bahan pendukung usaha kopi dilaporkan mengalami kenaikan signifikan akibat kerusakan infrastruktur jalan dan jembatan yang belum sepenuhnya pulih.
Hal tersebut disampaikan Aryadi, pengusaha angkutan Taradita sekaligus owner Ortega Coffee, kepada TribunGayo di Takengon, Minggu (5/4/2026).
Menurut Aryadi, tarif angkutan Taradita rute Takengon–Banda Aceh yang sebelumnya Rp 180 ribu kini naik menjadi Rp 200 ribu.
Sementara tarif rute Takengon–Medan juga meningkat dari kisaran sebelumnya menjadi Rp 300 ribu hingga Rp 330 ribu per penumpang.
Selain kenaikan tarif, waktu tempuh perjalanan juga mengalami perubahan akibat kerusakan jalan di sejumlah titik.
“Perjalanan ke Bireuen yang biasanya sekitar dua jam sekarang bisa mencapai tiga jam. Bahkan kalau kondisi macet bisa sampai empat jam,” kata Aryadi.
Ia menjelaskan bahwa kondisi infrastruktur pascabencana masih bersifat darurat, sehingga berdampak langsung pada biaya operasional transportasi. (*)
Baca juga: Perawat RSUD Datu Beru Dinonaktifkan Usai Video Joget Viral, PPNI Aceh Tengah Minta Evaluasi Sanksi
Baca juga: Hujan Es Melanda Atu Lintang Aceh Tengah, Atap Rumah Warga Jebol Dihantam Butiran Es
Baca juga: Serap Aspirasi Publik, Aceh Tengah Gelar Public Hearing Penyempurnaan Qanun Pajak & Retribusi Daerah