Perjuangan Wiwin Hapus Stigma Eks Lokalisasi Payo Sigadung: Saya Cinta Kampung Ini
Mareza Sutan AJ April 06, 2026 08:48 PM

Selama puluhan tahun, Payo Sigadung dikenal sebagai salah satu pusat prostitusi terbesar di Kota Jambi.

Namun kini, kawasan yang akrab disebut Pucuk itu perlahan berubah dan mulai meninggalkan citra lamanya.

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Sejak resmi ditutup oleh Pemerintah Kota Jambi, aktivitas dunia malam yang sempat memuncak pada 2020 dan mulai meredup pada 2025, kini nyaris tak terlihat lagi.

Jurnalis Tribunjambi.com mengunjungi kawasan eks lokalisasi tersebut beberapa waktu lalu.

Kondisinya sudah jauh berbeda. Kini, sudah menyerupai permukiman biasa.

Meski demikian, menghapus stigma negatif yang melekat di masyarakat bukan perkara mudah.

Yang sebagian orang tau, kawasan itu dulu merupakan tempat prostitusi yang juga dikenal dengan istilah Pucuk.

Hal ini dirasakan langsung oleh Wiwin, Ketua RT 05 Kelurahan Rawasari, Kecamatan Alam Barajo, Kota Jambi.

Wiwin yang juga merupakan anak dari mantan muncikari di kawasan itu mengaku kerap memikirkan masa depan anak-anak yang tinggal di sana.

Menurutnya, anak-anak dari kawasan tersebut sering mendapat penilaian kurang baik dari orang luar saat mengetahui latar belakang tempat tinggal mereka.

Stigma tersebut muncul karena kawasan itu telah lebih dari 40 tahun dikenal sebagai lokasi prostitusi.

Di tengah kondisi itu, Wiwin bersama warga mulai melakukan perubahan secara bertahap.

Musala Kecil

anak-anak mengaji di musala eks lokalisasi pucuk 06042026
BELAJAR MENGAJI - Potret anak-anak belajar mengaji di Musala Al Arfa di kawasan eks lokalisasi Payo Sigadung. Ketua RT 05, Wiwin, berjuang mengubah stigma kawasan tersebut.

Pada 2024, ia membangun sebuah musala kecil di rumahnya sebagai pusat kegiatan keagamaan.

Musala tersebut kini menjadi tempat anak-anak belajar mengaji setiap sore.

Selain itu, para ibu juga rutin menggelar pengajian mingguan serta membaca Surah Yasin bersama.

"Saya cinta kampung ini, saya lahir di sini," kata Wiwin saat menceritakan kegiatan warganya.

Musala itu diberi nama “Al Arfa”, terinspirasi dari nama anaknya yang sempat meminta dibangunkan masjid.

"Tapi kalau diartikan secara bahasa Arab bisa diartikan sebagai tempat yang tinggi atau pengetahuan," jelasnya.

Rencana Menjadi Masjid

Perubahan tersebut perlahan membuka jalan bagi rencana yang lebih besar.

Belum lama ini, Wali Kota Jambi Maulana meninjau lokasi tersebut dan menyampaikan rencana pembangunan masjid di kawasan itu.

Menurut Wiwin, rencana tersebut sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengubah wajah eks lokalisasi Payo Sigadung menjadi lebih positif.

"Pak Wali kemarin cek lokasi, beliau bilang ingin membangun masjid. Tetapi sedang mencari tanah wakaf," ujarnya.

Menanggapi hal itu, Wiwin bersama keluarganya memutuskan untuk menghibahkan tanah yang saat ini ditempati rumah mereka sebagai lokasi pembangunan masjid.

"Ibu saya sudah tua, rasanya sudah cukup dunia. Ingin ini jadi bekal akhirat. Tapi nanti, kami minta Pak Wali, dibangunkan rumah di samping masjid ini," jelasnya.

Rencananya, lahan seluas tujuh tumbuk termasuk rumah Wiwin akan digunakan untuk pembangunan masjid tersebut.

Ia berharap, selain menjadi tempat ibadah, masjid itu juga bisa berfungsi sebagai pusat pendidikan dan destinasi baru yang memberi dampak positif bagi masyarakat.

"Semoga bisa juga menggerakan ekonomi masyarakat di sini," sebutnya.

Wiwin berharap, langkah-langkah kecil yang dilakukan warga dapat membawa perubahan besar dan menghapus stigma negatif yang selama ini melekat pada kawasan tersebut.

(Tribunjambi.com/Srituti Apriliani Putri)

 

Baca juga: Satu Anak Dilarikan ke IGD akibat Kebakaran di Kenali Besar Tadi Sore

Baca juga: Daftar 29 Desa/Kelurahan Rawan Karhutla di Tanjab Barat pada Kemarau 2026

Baca juga: Kisah Wiwin, Anak Muncikari yang Bangun Mushola di Eks Lokalisasi Payo Sigadung Jambi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.