Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Nur Rahma Sagita
TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU SELATAN - Pedagang di Pantai Pasar Bawah, Kabupaten Bengkulu Selatan, mengeluhkan sepinya pengunjung saat momen Idul Fitri 1447 Hijriah tahun 2026.
Kondisi ini berdampak langsung pada penurunan omzet para pedagang yang biasanya meningkat saat libur Lebaran.
Pantai Pasar Bawah merupakan destinasi wisata populer yang terletak di pusat Kota Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan.
Berjarak hanya sekitar 2 km dari pusat Kota Manna, Bengkulu Selatan.
Pantai ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya warga lokal maupun wisatawan luar daerah untuk bersantai menikmati matahari terbenam (sunset) dan kuliner khas pesisir.
Namun, sepinya pengunjung terlihat dari penjualan tiket karcis masuk yang tidak habis terjual serta tidak adanya kepadatan wisatawan.
Terutama pada hari kedua hingga hari ketiga Lebaran di kawasan Pantai Pasar Bawah.
Diketahui, pengelola mulai memberlakukan tarif tiket masuk sejak Sabtu (21/3/2026) hingga Senin (23/3/2026).
Namun selama tiga hari tersebut, jumlah pengunjung terpantau sepi, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang biasanya dipadati wisatawan hingga menyebabkan kemacetan di kawasan wisata tersebut.
Baca juga: Kunjungan Menurun, Pantai Pasar Bawah Bengkulu Selatan Sepi Saat Lebaran 1447 H
“Sedih, sepi pengunjung. Ditambah harga bahan pokok untuk dijual juga hampir semuanya naik,” ujar pedagang Pantai Pasar Bawah, Yopa, saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Senin (6/4/2026).
Dirinya berharap momen libur hari besar seperti Lebaran dapat menjadi waktu utama untuk meningkatkan pendapatan.
Kenyataannya, jumlah pengunjung justru menurun dan tidak berbeda jauh dari hari biasa.
“Sepi sampai Lebaran kedua, seperti hari biasa. Penurunan pengunjung diperkirakan mencapai sepertiga dibanding tahun sebelumnya,” ungkap Yopa.
Menurut Yopa, minimnya minat pengunjung diduga karena banyaknya biaya yang harus dikeluarkan, seperti tiket masuk, parkir, serta sejumlah aturan yang diterapkan di kawasan wisata tersebut.
Selain itu, pedagang juga mengeluhkan mahalnya biaya lapak saat momen Lebaran.
Ia menambahkan, sebelumnya pedagang lama hanya dikenakan iuran sampah bulanan.
Namun setelah terbentuknya kelompok sadar wisata (pokdarwis), pedagang dikenakan biaya Rp5.000 per hari.
Meski begitu, pungutan tersebut saat ini diketahui sedang dihentikan sementara.
“Kami tidak paham kenapa dihentikan. Tapi untuk sementara pembayaran Rp5 ribu per hari itu distop,” jelas Yopa.
Yopa juga menilai, setelah adanya pokdarwis, aturan di Pantai Pasar Bawah menjadi semakin banyak.
Ia berharap pengelolaan wisata dapat kembali seperti sebelumnya, dengan kebijakan yang lebih sederhana dan tidak memberatkan pengunjung.
“Kalau bisa seperti dulu, supaya pengunjung lebih banyak datang. Kalau sekarang terlalu banyak aturan, akhirnya pedagang dan pengunjung sama-sama dirugikan,” tegasnya.
Sepinya pengunjung membuat omzet pedagang menurun drastis.
Pendapatan yang diperoleh saat ini hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, tanpa keuntungan berarti.
“Biasanya tahun sebelumnya kami bisa mendapat keuntungan hingga Rp4 juta per hari mulai Lebaran kedua. Sekarang hanya sekitar Rp1 juta,” ujarnya.
Perbedaan juga terlihat dari waktu kunjungan wisatawan.
Jika sebelumnya pengunjung sudah ramai sejak pagi hingga sore, kini keramaian baru terlihat sekitar pukul 14.00 WIB.
Kondisi ini diharapkan menjadi perhatian pihak terkait agar pengelolaan wisata Pantai Pasar Bawah dapat kembali menarik minat pengunjung dan meningkatkan perekonomian pedagang setempat.