Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Luluul isnainiyah
TRIBUNJATIM.COM, MALANG - Pemerintah Kabupaten Malang melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) cukup serius dalam menangani kasus perundungan melalui media sosial.
Upaya yang dilakukan untuk menekan kasus ini, pihaknya intensif melakukan sosialisasi dan edukasi ke setiap sekolah.
Kepala DP3A Kabupaten Malang Arbani Arbani Mukti Wibowo mengatakan jika kasus bullying atau perundungan di sekolah masih terjadi. Baik itu melalui dilakukan secara langsung maupun melalui media sosial.
"Kami melakukan pelayanan bagi anak-anak yang menjadi korban bullying baik itu secara langsung atau dilakukan lewat gawai," kata Arbani saat dikonfirmasi, Senin (6/4/2026).
Ia menjelaskan, perundungan yang dilakukan secara langsung maupun melalui media teknologi gawai bisa berdampak pada kesehatan mental bagi anak. Tentunya, kasus ini menjadi perhatian bagi pemerintah daerah untuk segera ditangani.
Baca juga: Kasus Bullying di Malang Meningkat, Polisi Gelar Sosialisasi Edukasi Anti Perundungan di Sekolah
"Bentuk perundungan lewat medsos misalnya ada anak menunjukkan foto dirinya menggunakan baju baru, oleh netizen kemudian foto anak ini diedit menjadi foto seksi," jelasnya.
Dirinya menyebutkan, keberadan AI (Artificial Intelligence) juga menjadi salah satu kemudahan yang bisa diakses untuk mengedit foto. Namun, hal ini sangat berdampak bagi korban perundungan terutama pada kesehatan mentalnya.
Untuk itu, upaya DP3A Kabupaten Malang untuk menekan kasus perundungan adalah melakukan sosialisasi dan edukasi dampak gawai terhadap kesehatan mental bagi anak.
Dalam menjalan edukasi ini, DP3A tidak bisa bergerak sendirian. Pihaknya telah bekerjasama dengan Forum Anak di Kabupaten Malang untuk turut memberikan edukasi ke sekolah.
"Kami bangun jejaring dan bekerjasama dengan forum anak. Forum anak ini pengurusnya dari anak-anak tingkat SMP dan SMA sederajat," imbuhnya.
Namun, hanya ada beberapa sekolah di Kabupaten Malang yang memiliki Forum Anak. Menurutnya, forum ini dibentuk atas kesadaran sekolah terhadap dampak gawai bagi kesehatan mental.
"Tergantung dari sekolahnya, ada yang sekolah peduli dan ada yang tidak," tukasnya