SURYA.CO.ID, SURABAYA - Kelangkaan LPG 3 kilogram di wilayah Tuban mendapat respons dari pihak Pertamina.
Bersama Pemprov Jatim, Pertamina melakukan tambahan dropping LPG ukuran 3 kilogram guna menanggulangi kelangkaan di Tuban.
Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Iwan Yudha Wibawa, menjelaskan bahwa kondisi di Tuban terjadi karena adanya anomali permintaan dibandingkan daerah lain.
“Jadi di Tuban itu kebetulan ada anomali dibandingkan daerah lain, di mana ada lonjakan permintaan konsumsi,” ujarnya, usai peninjauan pangkalan LPG di Jemursari, Senin (6/4/2026).
Menurutnya, peningkatan kebutuhan LPG tidak hanya berasal dari rumah tangga, tetapi juga dipicu oleh aktivitas wisata.
Baca juga: Langka! Harga LPG 3 Kg di Tuban Jadi Rp27 Ribu, Warga Pakai Kayu Bakar
Terutama karena Tuban yang dikenal sebagai destinasi wisata turut mendorong naiknya konsumsi, termasuk dari sektor UMKM yang kebutuhannya melebihi batas kewajaran.
“Jadi selain peningkatan konsumsi rumah tangga juga dimungkinan masih ada ekses dari libur panjang dan lebaran. Dimana Tuban ini kawasan wisata sehingga konsumsi dari pelaku usaha juga meningkat,” urainya.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pertamina mengambil langkah cepat dengan menambah pasokan LPG subsidi. Tambahan pasokan dilakukan guna memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi.
“Kami melakukan penambahan ekstra dropping untuk mengatasi peningkatan ini. Kami tambah 12 ribu tabung LPG 3 kg,” tegas Iwan.
Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, memastikan bahwa pemerintah provinsi telah turun langsung meninjau kondisi di lapangan.
Baca juga: Aturan Baru Beli LPG 3 Kg di Jatim Pakai KTP dan NIB, Ini Aturan Lengkapnya
“Kemarin katanya langka, tapi saya turun ternyata tidak semua tempat seperti itu,” ungkap Emil.
Ia menegaskan bahwa distribusi LPG subsidi di Jawa Timur sejatinya sudah terjamin dengan keberadaan sekitar 36.600 pangkalan resmi. Pemprov Jatim dan Pertamina telah memberikan jaminan bahwa LPG pasti tersedia di pangkalan.
Sehingga ia menegaskan, masyarakat tidak perlu khawatir selama membeli di pangkalan resmi karena stok dipastikan tersedia dan harga sesuai ketentuan.
“Kalau pangkalan dijamin stok selalu ada. Karena untuk LPG bersubsidi, Pertamina hanya melakukan distribusi ke pangkalan,” jelasnya.
Emil juga menegaskan bahwa distribusi LPG subsidi memang difokuskan melalui pangkalan.
Meski pengecer masih diperbolehkan berjualan, mereka tidak boleh menaikkan harga secara berlebihan yang dapat merugikan konsumen.
Ia pun mengimbau masyarakat untuk lebih memahami harga resmi LPG di tingkat pangkalan, yakni Rp18.000 per tabung.
“Maka konsumen harus tahu harga di pangkalan berapa. Harganya Rp18.000. Maka di pengecer berapa, dihitung sendiri kewajarannya dari pangkalan terdekat,” pungkasnya.