Maros Mulai Masuk Musim Panas, BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Kering
Abdul Azis Alimuddin April 07, 2026 01:20 AM

TRIBUN-TIMUR.COM - Kabupaten Maros mulai memasuki masa pancaroba atau peralihan musim.

Kemarau tahun ini diprediksi lebih cepat dibanding tahun sebelumnya.

Perubahan cuaca sudah mulai dirasakan dalam beberapa hari terakhir.

Hujan masih kerap turun pada siang hingga sore hari.

Bahkan, hujan juga disertai guntur di sejumlah wilayah.

Ketua Tim Kerja Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV, Rizky Yudha, mengatakan kondisi ini merupakan ciri khas masa peralihan musim.

Ia menyatakan, musim kemarau di Maros diprediksi akan datang lebih awal pada tahun ini.

“Maros diperkirakan mulai masuk musim kemarau pada dasarian pertama bulan Mei,” ujarnya.

Menurutnya, jika dibandingkan tahun sebelumnya, awal musim kemarau tahun ini maju sekitar tiga dasarian.

Artinya, kemarau datang hampir satu bulan lebih cepat dari biasanya.

Rizky menjelaskan, puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Pada periode tersebut, cuaca diprediksi akan lebih panas dengan curah hujan yang menurun.

BMKG memprediksi adanya potensi fenomena El Nino dengan intensitas lemah pada semester kedua tahun ini.

Fenomena tersebut diperkirakan mulai terasa sejak Juli.

“Kalau El Nino, pengaruhnya biasanya mengurangi curah hujan,” jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, musim kemarau tahun ini berpotensi terasa lebih kering dan berlangsung lebih lama.

Durasi kemarau diperkirakan terjadi hingga Oktober 2026.

Rizky mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan langkah mitigasi sejak dini.

Terutama dalam menghadapi potensi berkurangnya curah hujan.

“Sudah perlu menyiapkan mitigasi menghadapi curah hujan rendah,” katanya.

Sementara itu, Kepala BPBD Maros, Towadeng, mengatakan pihaknya telah melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait potensi kemarau tersebut.

Ia menyebut suhu udara saat musim kemarau berpotensi mencapai 38 derajat Celcius.

Karena itu, warga diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap risiko kebakaran.

“Jangan membakar sampah atau lahan sembarangan,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat memastikan kondisi rumah tetap aman saat ditinggalkan.

“Pastikan peralatan dapur dan listrik dimatikan untuk mencegah potensi kebakaran,” katanya.

BPBD Maros juga telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan.

Salah satunya dengan menyalurkan air bersih ke wilayah yang terdampak.

Sejumlah kecamatan diperkirakan akan terdampak cukup parah.

Di antaranya Kecamatan Bontoa, Lau, Marusu, dan Maros Baru.

Selain itu, dampak kekeringan juga berpotensi meluas ke wilayah lain.

“Bisa sampai delapan sampai sembilan kecamatan, termasuk Turikale, Tanralili, Simbang, dan sebagian Bantimurung,” bebernya.

Towadeng menyebut wilayah Bontoa menjadi salah satu daerah paling rentan.

Hal ini karena keterbatasan akses air bersih, baik dari jaringan PDAM maupun sumber air tanah.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, penyaluran air dari luar wilayah menjadi solusi utama.

“Tahun lalu penyaluran air bersih mencapai lebih dari 500 tangki,” ujarnya.

Ia memperkirakan jumlah itu berpotensi meningkat pada tahun ini, tergantung kondisi di lapangan.

Pemerintah daerah pun diminta terus bersiaga menghadapi potensi kemarau yang lebih cepat dan lebih kering tahun ini.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.