Arfianto Perajin Tempe Produksi 7 Kuintal Kedelai Sehari Meski Harga Melonjak, Pilih Kecilkan Ukuran
Ani Susanti April 07, 2026 02:14 AM

TRIBUNJATIM.COM - Dampak perang di Timur Tengah rupanya juga membuat harga kedelai naik.

Kenaikan harga ini membuat para perajin tempe dan pedagang memutar otak.

Ini seperti yang dirasakan perajin tempe di kawasan Sanan, Kota Malang, Jawa Timur.

Satu di antara strategi yang mereka lakukan adalah soal ukuran.

Baca juga: Strategi Pengusaha Tempe di Madiun saat Harga Kedelai & Plastik Melonjak 75 Persen

Kini mereka harus mengecilkan ukuran tempe agar operasional produksi tetap berjalan di tengah lonjakan harga bahan baku.

Salah satu perajin, Arfianto mengatakan, harga kedelai melonjak dari yang sebelumnya Rp 9.800 menjadi Rp 10.600 per kilogram sejak akhir Maret 2026.

Harga tersebut diprediksi masih akan terus merangkak naik dalam beberapa waktu ke depan.

“Kenaikan harga kedelai sudah lama, meskipun enggak langsung banyak tapi terus naik. Enggak tahu ini sampai kapan, sepertinya bakal naik terus harganya,” ujar Arfianto saat ditemui, Senin (6/4/2026), melansir dari Kompas.com.

Arfianto menjelaskan, meskipun harga bahan baku melambung, para perajin tempe di sentra Sanan memilih untuk tidak menaikkan harga jual ke konsumen.

Sebagai alternatif, mereka melakukan penyesuaian pada dimensi tempe, baik dari sisi lebar maupun ketebalan.

“Kami tidak menaikkan harga tempe, hanya ukurannya saja yang kami kecilkan sekitar 1 sentimeter dibandingkan ukuran sebelumnya,” kata Arfianto.

Tetap Laku Keras

Meskipun ukurannya menyusut, penjualan tempe di pasaran dilaporkan tetap stabil dan laku keras.

Di tingkat pedagang pasar, harga tempe saat ini masih berkisar antara Rp 2.000 hingga Rp 5.000 per potong, tergantung pada ukuran yang dipilih konsumen.

Volume produksi harian para perajin pun diklaim tidak mengalami penurunan yang signifikan.

Rata-rata produksi harian masih mampu mencapai angka 5 hingga 7 kuintal kedelai per hari untuk memenuhi permintaan pelanggan.

“Alhamdulillah tetap habis semua produksinya. Kadang bisa 5 kuintal, kadang sampai 7 kuintal, tergantung permintaan pasar,” tambah Arfianto.

Selain persoalan kedelai sebagai bahan baku utama, para perajin juga mulai mengeluhkan kenaikan harga plastik pembungkus.

Kenaikan biaya pendukung ini menambah tekanan operasional yang harus ditanggung oleh pelaku usaha mikro tersebut.

Arfianto menyebut bahwa situasi global saat ini sangat memengaruhi harga-harga barang di tingkat lokal.

Ia berharap para perajin tempe bisa tetap bertahan meski margin keuntungan semakin menipis akibat himpitan biaya produksi.

“Plastik juga naik, semua kebutuhan naik karena perang ini. Semoga perajin tempe tetap bisa bertahan di tengah kenaikan harga bahan baku dan operasional,” kata Arfianto.

Kenaikan Harga Plastik

Konflik di Timur Tengah diketahui memicu harga plastik naik.

Sejumlah pedagang kategori usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) mengaku bimbang.

Dede, seorang pedagang es di Stadion Singaperbangsa Karawang, salah satunya. Ia menyebut kenaikan harga plastik cukup tinggi.

Di antaranya plastik yang awalnya Rp 9.000 tiap bungkus menjadi Rp 14.000 per bungkus dan gelas plastik ukuran 16 dari Rp 9.000 menjadi 14.000 per bungkus.

"Naik empat harian kemarin," kata Dede di Stadion Singaperbangsa, Senin (5/4/2026).

Meski harga kemasan naik, Dede belum menaikkan harga dagangannya, masih Rp 5.000 tiap gelas aneka rasa, meskipun keuntungan berkurang.

Alasannya khawatir dagangannya sepi.

"Daripada sepi," kata Dede.

Baca juga: Dampak Konflik Timur Tengah, Harga Kedelai Naik, Pelaku Usaha Tempe Mojokerto Terdampak

Didi, seorang pelaku usaha seblak di Telukjambe Barat, juga mengutarakan keresahannya.

Ia menyebut harga plastik ukuran 10 x 15 naik dari Rp 10.000 menjadi Rp 15.000 per bungkus.

Selain plastik, harga styrofoam juga naik, dari Rp 20.000 menjadi Rp 28.000 per bal untuk bentuk mangkok.

Ia mengaku belanja setiap tiga hari sekali sehingga harga bisa saja berubah setiap waktu.

Kenaikan harga ini, kata Didi, membuat pedagang resah. Sebab, di tengah harga bahan baku naik usai Lebaran Idul Fitri, harga plastik turut naik.

Adapun menaikkan harga produk saat ini belum memungkinkan.

"Kalau naik harga, saya sulit, jadi sekarang pakai minimal order 10 K (Rp 10.000) Kemarin di bawah itu aku layani," Indriyani, nama lengkap Didi.

Hal sama disampaikan Ahmad, pedagang pukis di Majalaya.

Meskipun harga plastik naik, Ahmad belum menaikkan harga dagangannya.

Ia khawatir pelanggan kabur jika harga naik.

"Masih sama, meski margin makin tipis, kami mencoba bertahan," kata Ahmad.

Baca juga: Konflik AS–Iran Ancam Ekonomi Jatim, Kadin: Harga Kedelai dan Energi Bisa Melonjak

Adapun jika beralih ke kemasan selain plastik, Ahmad masih pikir-pikir sebab bahan kemasan lainnya juga harganya tidak lebih murah.

Misalnya kemasan ramah lingkungan atau kertas harganya juga lebih mahal.

"Sementara masih pakai plastik biasa. Belum berani kemasan lain seperti spunbond yang harganya mulai sekitar Rp 1.000 atau kotak kue mulai dari Rp 500 hingga 5.000 per buah dengan berbagai jenis dan model. Kecuali ada pesanan khusus, misalnya untuk oleh-oleh, dengan harga berbeda," kata dia.

Untuk produk dan kemasan reguler, dengan menjual Rp 2.000 per biji, kata Ahmad, terkadang masih saja ada pembeli yang menawar.

Padahal, ia menggunakan bahan-bahan premium dan kelapa asli.

"Sebenarnya kami bimbang, tetapi bertahan agar pembeli tidak kabur," kata Ahmad.

Baik Dede, Didi, maupun Ahmad, berharap konflik segera berakhir sehingga harga plastik, yang salah satu bahan bakunya diimpor dari Timur Tengah, kembali normal.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.