BMKG Prakirakan Musim Kemarau 2026 Lebih Panjang dan Lebih Kering
Wahyu Widiyantoro April 07, 2026 02:22 AM

TRIBUNLOMBOK.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun 2026 akan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal, seiring dengan potensi berkembangnya fenomena El Niño pada paruh kedua tahun 2026.

Hingga akhir Maret 2026, sebanyak 7 persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. 

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan bahwa sejumlah wilayah yang sudah memasuki musim kemarau meliputi sebagian kecil wilayah Aceh, Sumatera Utara, Riau, sebagian Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, sebagian kecil NTB, NTT, Maluku, serta Papua Barat. 

Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi memasuki musim kemarau pada periode April, Mei, dan Juni 2026, diawali dari wilayah Nusa Tenggara kemudian secara bertahap meluas ke wilayah lainnya. 

Awal musim kemarau di sebagian besar wilayah diprediksi datang lebih awal atau maju dari normalnya, mencakup 325 ZOM atau 46,5 % wilayah Indonesia. 

Adapun akumulasi curah hujan pada periode musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia, mencakup 451 ZOM atau 64,5 % , diprediksi berada pada kategori di bawah normal atau lebih kering dari biasanya. 

Baca juga: Pemkab Lombok Timur Siap Siaga Hadapi Kemarau Panjang 2026

Puncak musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026, dengan 429 ZOM atau 61,4 % wilayah mengalaminya. 

Sementara itu, sebagian besar wilayah Indonesia, mencakup 400 ZOM atau 57,2 % , diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih panjang dari normalnya. 

Berkembangnya El Nino

Di sisi lain, BMKG juga mencermati potensi berkembangnya El Niño. 

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan bahwa hingga akhir Maret 2026, kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) masih berada pada fase netral. 

Namun, pemodelan iklim menunjukkan ENSO berpotensi berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua tahun 2026. 

Prediksi intensitas El Niño saat ini berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50–80 % , dengan kemungkinan kecil di bawah 20?nomena ini berkembang menjadi kategori kuat. 

BMKG mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam menafsirkan data prediksi pada periode ini. 

Hal itu disebabkan adanya fenomena spring predictability barrier, yakni penurunan akurasi prediksi model cuaca dan iklim untuk ENSO ketika belahan Bumi utara melewati periode musim semi pada bulan Maret, April, dan Mei. 

Tingkat kepercayaan terhadap intensitas El Niño diperkirakan akan meningkat pada hasil prediksi bulan Mei 2026.

Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya, sebagai dampak dari variabilitas iklim alamiah yang berlangsung di wilayah Indonesia. 

BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mendorong seluruh pemangku kebijakan agar mengacu pada informasi iklim resmi yang disampaikan BMKG melalui berbagai kanal komunikasi yang tersedia.

Prediksi Musim Kemarau 2026

  • La Niña Lemah yang berlangsung sejak Oktober 2025 telah berakhir pada Februari 2026.
  • Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April (114 ZOM; 16,3 % ), Mei (184 ZOM; 26,3 % ), dan Juni 2026 (163 ZOM; 23,3 % ) diawali dari wilayah Nusa Tenggara kemudian secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya.
  • Awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih awal atau MAJU (325 ZOM; 46,5 % ) dan SAMA dengan normalnya (173 ZOM; 23,7 % ).
  • Akumulasi curah hujan pada periode musim kemarau di sebagian besar Indonesia (451 ZOM; 64,5 % ) diprediksi pada kategori BAWAH NORMAL atau lebih kering dari biasanya.
  • Sebagian besar wilayah Indonesia (429 ZOM; 61,4 % ) diprediksi mengalami puncak kemarau pada bulan Agustus 2026.
  • Puncak musim kemarau di Indonesia sebagian besar diprediksi terjadi lebih awal atau MAJU (410 ZOM; 58,7 % ) dan SAMA dengan normalnya (142 ZOM; 20,3 % ).
  • Sebagian besar wilayah Indonesia (400 ZOM; 57,2 % ) diprediksi mengalami musim kemarau yang LEBIH PANJANG dari normalnya.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.