Sekitar 40 persen energi panas bumi dunia berada di Indonesia

Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengungkapkan penyebab dari energi panas bumi (geothermal) belum dapat diaplikasikan secara efektif di Indonesia.

"Kenapa sampai saat ini belum berhasil (implementasi) geothermal adalah masalah harga listrik pada fossil fuel dari batu bara itu sekitar 7-8 cent per kilowatt hours (kWh), sementara geothermal itu masih sekitar 18 cent per kilowatt hours di Indonesia," kata Wamendiktisaintek di Jakarta, Senin.

Mahalnya harga listrik panas bumi ini, lanjut dia, juga menyebabkan banyak negara di dunia belum mengimplementasikan energi terbarukan ini. Sehingga, Indonesia bisa menjadi yang terdepan dalam hal ini, karena memiliki potensi yang besar.

Wamen Stella menuturkan sekitar 40 persen energi panas bumi dunia berada di Indonesia. Maka dari itu, berbagai riset aplikatif perlu dilakukan untuk memanfaatkan potensi energi panas bumi di Indonesia.

"Kita di Indonesia baru menggunakan 10 persen dari geothermal. Sehingga, kita harus sungguh-sungguh seperti apa yang saya katakan, bekerja sama dengan berbagai instansi untuk melihat kembali ekosistem geothermal di Indonesia," ujarnya menegaskan.

Stella menggarisbawahi energi panas bumi harus menjadi salah satu prioritas riset strategis tanah air, sebab selain bersih, energi panas bumi juga dinilai sebagai energi yang konsisten tanpa bergantung cuaca seperti energi panas matahari atau udara.

Diketahui, Pemerintah RI kini memosisikan riset energi sebagai pilar utama dalam Program Riset Strategis Nasional. Langkah ini diambil untuk mengejar target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen yang telah dicanangkan dalam kebijakan energi nasional.

Integrasi riset energi panas bumi ke dalam skala nasional juga menjadi bagian dari komitmen Indonesia terhadap Enhanced Nationally Determined Contribution (E-NDC) untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060 atau lebih cepat.