TRIBUNNEWS.COM - Bintang Real Madrid, Vinicius Junior, kembali angkat suara soal isu rasisme yang masih menghantui dunia sepak bola.
Kali ini, ia secara terbuka memuji sikap tegas bintang Barcelona, Lamine Yamal, yang berani berbicara setelah menjadi korban pelecehan rasial.
Vinicius menegaskan bahwa rasisme masih menjadi persoalan kompleks yang terus berulang dan butuh semua pihak untuk menghentikannya.
Ia menyoroti kasus yang belum lama ini menimpa Lamine Yamal. Pemain muda 18 tahun ini menjadi korban rasis saat membela Timnas Spanyol dan juga Barcelona.
Momen di level negara bahkan terjadi di Spanyol oleh pendukung sendiri ketika ia tampil di FIFA Matchday melawan Mesir.
Dalam pertandingan yang digelar di Espanyol akhir Maret lalu, terdengar chant islamofobia "siapa yang tidak melompat adalah Muslim" yang kemudian disebut Yamal sebagai tindakan tidak dapat diterima.
Baca juga: Di Balik Aksi Keluar Lapangan Paling Cepat, Ada Kekecewaan Besar Lamine Yamal
Yamal merupakan seorang muslim, ia merespon dengan unggahan di media sosial yang mengungkapkan kekecewaan tentang kejadian tersebut.
"Sepak bola adalah untuk menikmati dan bersorak, bukan untuk tidak menghormati orang untuk siapa mereka atau apa yang mereka yakini," tulis Lamine Yamal dalam unggahan Instagram.
Vinicius menilai langkah Yamal yang mengecam chant rasis saat laga internasional sebagai hal penting.
"Itu masalah yang rumit, dan sering terjadi. Penting bahwa Lamine berani bicara, itu bisa membantu orang lain," ujar Vinicius, dikutip dari Football Espana.
Ia bahkan berharap pemain muda Barcelona tersebut bisa terus berada di garis depan dalam perjuangan melawan diskriminasi.
"Saya harap Lamine bisa terus melanjutkan perjuangan ini," kata Vinicius saat berbicara di konferensi pers jelang melawan Bayern Munchen di 8 besar Liga Champions ini.
Kasus yang menimpa Yamal bukan yang pertama. Dalam laga melawan Atletico Madrid di Stadion Metropolitano, pemain berusia 18 tahun itu kembali menjadi sasaran hinaan rasial dari tribun.
Saat dia datang ke satu sisi untuk mengambil sepak pojok, teriakan 'Pergi ke Maroko' dan kata-N terdengar dari tribun.
Fenomena ini memperkuat kekhawatiran bahwa rasisme di stadion-stadion Spanyol belum sepenuhnya hilang, meski La Liga telah meningkatkan sanksi dan penindakan.
Vinicius sendiri baru-baru ini juga menjadi korban rasial selama pertandingan Liga Champions melawan Benfica di Estadio da Luz, Portugal.
Pemain Brasil itu menuduh dilecehkan secara rasial oleh Gianluca Prestianni sekitar menit ke-50, mengakibatkan pertandingan dihentikan untuk beberapa periode.
Sementara Prestianni kemudian membantah tuduhan itu, mengklaim dia menggunakan penghinaan standar Argentina yang tidak bersifat rasial, insiden itu semakin menyoroti pengawasan dan permusuhan yang terus-menerus dihadapi
Vinicius pun menegaskan bahwa masalah rasisme ini tidak bisa disederhanakan dengan menyalahkan satu negara.
"Saya tidak mengatakan Spanyol, Jerman, atau Portugal adalah negara rasis. Tapi rasis ada di setiap negara," tegasnya.
Baca juga: 6 Insiden Rasis yang Pernah Menimpa Vinicius Junior, Balon Tiruan hingga Kasus Prestianni
Lebih jauh, Vinicius menyoroti bahwa rasisme juga berkaitan erat dengan ketimpangan sosial.
Ia menyebut bahwa orang kulit hitam dari latar belakang kurang mampu sering menghadapi kesulitan yang lebih besar.
Karena itu, ia menekankan pentingnya solidaritas bersama untuk menghentikan diskriminasi.
"Kalau kita melawan bersama-sama, semoga pemain lain dan masyarakat tidak perlu lagi mengalami hal seperti ini," ujarnya.
Dukungan Vinicius kepada Yamal menjadi simbol penting bahwa perang melawan rasisme membutuhkan suara kolektif.
Bukan hanya dari korban, tetapi juga dari sesama pemain dan seluruh elemen sepak bola dunia.
Di tengah sorotan besar sepak bola Eropa, suara para pemain kini menjadi kunci untuk mendorong perubahan yang lebih luas.
(Tribunnews.com/Tio)