Waspada Kemarau Panjang, 29 Desa di Bangkalan Masuk Prioritas Bantuan Air Bersih
Ndaru Wijayanto April 07, 2026 08:14 AM

 

Laporan Wartawan Tribun Jatim Network, Ahmad Faisol

TRIBUNJATIM.COM, BANGKALAN - Pemerintah Kabupaten Bangkalan mulai bersiap menghadapi ancaman musim kemarau panjang yang diprediksi terjadi pada 2026.

Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau diperkirakan mulai terjadi pada Mei hingga Juni, dengan puncaknya pada Juli–Agustus dan berakhir sekitar September–Oktober.

Merespon hal tersebut, BPBD Kabupaten Bangkalan melakukan pemetaan terhadap sejumlah desa yang berpotensi terdampak musim kemarau.

Bupati Bangkalan, Lukman Hakim juga telah memprioritaskan sebanyak 29 desa untuk diberi bantuan air bersih. 

"29 desa prioritas itu tersebar di enam kecamatan meliputi Konang, Tanah Merah, Kokop, Geger, Arosbaya, dan Kecamatan Sepulu," ungkap Kepala Pelasana BPBD Bangkalan, Moh Zainul Qomar kepada Tribun Madura, Senin (6/4/2026). 

Di Kecamatan Konang terdiri dari lima desa; Galis Dajah, Kanagarah, Durin Barat, Batukaban, dan Durin Timur.

Baca juga: Sepekan Cuaca Panas Menyengat, Lamongan Mulai Hadapi Ancaman Kemarau Panjang

Untuk Kecamatan Tanah Merah meliputi tiga desa;  Pangeleyan, Padurunga, dan Tanah Merah Dajah. Sementara di Kecamatan Arosbaya diprioritaskan satu desa, yakni Desa Batonaong. 

Sementara untuk Kecamatan Geger terdiri dari enam desa; Komabangan, Lerpak, Banyeor Dajah, Banyeor Laok, Katol Barat, dan Desa Dabung.

Prioritas bantuan air bersih di Kecamatan Sepulu meliputi lima desa yang terdiri dari Desa Klapayan, Gangseyan, Lergunong, Bangsereh, dan Desa Kelbung. 

"Informasi yang kami himpun dari BMKG bahwa musim kemarau di Bangkalan diprediksi terjadi mulai awal Mei atau akhir April. Jumlah desa terdampak kekeringan diprediksi juga akan bertambah, tergantung permintaan dari pihak kecamatan," jelas Qomar. 

Baca juga: Bantuan Korban Angin Kencang Mojokerto Mulai Disalurkan, Warga Diimbau Waspadai El Nino Godzilla

Kemarau Panjang Dipengaruhi El Nino

Angin kencang disertai hujan deras sesaat dalam tiga hari terakhir masih menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Bangkalan. 

Anomali pancaroba itu seolah mengabarkan bahwa periode musim penghujan sebentar lagi akan berakhir. 

Kepala Pelaksana BPBD Bangkalan, Moh Zainul Qomar menyatakan, dinamika atomosfer sebagaimana disampaikan BMKG menunjukkan bahwa Madden-Julian Oscillation (MOJ) diperkirakan akan aktif pada fase 6 hingga fase 7 sepekan ke depan. 

"Hal ini kurang berkontribusi terhadap proses pembentukan awan-awan hujan di wilayahJawa Timur, termasuk di Kabupaten Bangkalan. Tanggal 4 April kemarin cuaca ekstrem sudah habis namun masih labil atau pancaroba menuju kekeringan, ujar Qomar.

Masa pancaroba saat ini, lanjutnya, dipicu oleh berakhirnya fenomena La Nina Lemah pada Februari 2026 yang mulai bergeser ke fase Netral dan berpotensi menuju El Nino pada pertengahan tahun. 

El Nino menjadi pemicu terjadi musim kekeringan di Indonesia karena suhu permuaan air laur di Samudra Pasifik lebih hangat.

Sementara La Nina meningkatkan curah hujan karena meningkatnya suhu dingin di Samudra Pasifik. 

"Kekeringan tahun ini diprediksi lebih panjang karena pengaruh El Nino, diprediksi sampai akhir 2026," pungkas Qomar

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.