Pesona Puncak Gunuang Ketek Labuhanhaji
mufti April 07, 2026 09:19 AM

NURUL HUSNA, S.Pd., Gr., alumnus Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia UBBG Banda Aceh, guru honorer, dan Anggota FAMe, melaporkan dari Labuhanhaji, Aceh Selatan

Jumat (6/3/2026), sekitar pukul 10.30 WIB cuaca pagi menjelang siang cukup cerah. Matahari bersinar seperti hari sebelumnya. Warga di sekitar Gunuang Ketek Labuhanhaji tampak menjalani rutinitasnya. Para penjual kebutuhan pokok  membuka toko, kedai, untuk menjual dagangannya. Banyak kendaraan berlalu lalang di jalan raya.

Untuk pergi ke Gunuang Ketek kita harus melewati ruas jalan yang belum beraspal di samping jalan raya. Saya pergi dengan berjalan kaki sepulang dari sekolah. Jalannya tergolong kecil, tetapi bisa dilewati sepeda motor, becak, dan para pejalan kaki.

Di sebelah kanan dan kiri jalan terdapat rumput yang mulai tinggi, rumah, dan toko-toko milik warga.

Sebagian warga Labuhanhaji yang menggunakan bahasa Aneuk Jamee, menyebut gunung yang akan saya daki ini dengan “Gunuang Ketek”. Bila diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi “Gunung Kecil”.

Para murid SD Negeri Labuhanhaji Barat yang saya ajar menyebutnya, “Gunung Kuali”. Namun, ada juga yang menyebutnya,  “Gunung Cut”.

Akan tetapi, gunung ini terkenal dengan nama “Gunung Cut Kecamatan Labuhanhaji, Aceh Selatan”.

Lokasinya berada di Gampong Tengah Baru, Dusun Suka Ramai, Kecamatan Labuhanhaji. Saya tahu lokasinya karena berhenti dan melihat sebuah plang terbuat dari semen, di atas tanah. Tulisannya hampir tertutupi rumput yang mulai meninggi. Saya perhatikan sekitarnya, masih asri. Tampak ada dua jalan lagi yang belum beraspal.

Jika dari sini kita harus memilih jalan sebelah kiri, bila ingin menuju Puncak Gunuang Ketek Labuhanhaji. Sekarang mudah mendaki gunung ini, karena sudah ada tangga yang terbuat dari semen. Sehingga, pendaki lebih cepat sampai ke puncak.

Penasaran yang sudah lama tersimpan dalam hati, membuat saya nekat pergi ke sini seorang diri walau sedang puasa.

Saya menaiki anak tangga satu per satu sambil menghitungnya. Baru hitungan puluhan, saya berhenti. Mengembuskan napas sambil berujar dalam hati, “Rupanya gunung ini tinggi juga ya. Menaiki tangga sangat melelahkan, rasanya saya tidak sanggup mencapai puncak.”

Entah karena saya sedang puasa atau merupakan pendakian pertama saya di gunung ini. Tidak tahu apa penyebabnya.

Saya melangkah perlahan tanpa menghitungnya lagi. Di pertengahan gunung sebelah kanan saya ada sebuah pondok terbuat dari papan, bertutup sebagian saja, beratap seng, dan ada lampunya.

Di dalamnya kita bisa duduk-duduk, shalat, dan mengaji.

Ada kain sarung di atas pintu masuk yang tidak ada tutupnya. Tak tahu punya siapa.

Sewaktu saya mendaki tidak ada orang lain di atas gunung ini. Keberanian saya datang ke sana karena berniat baik, sudah berdoa, dan yakin Sang Pencipta selalu melindungi.

Hal tersebut muncul, sebelum melewati jalanan tanah pertama. Sesudah melewati pondok, saya fokus berjalan dengan melihat pijakan sambil berpegangan pada penyangga tangga besi bulat panjang. Saat berpegangan, terasa lebih mudah melangkah. Di situlah saya yakin akan sampai ke puncak walau dengan keringat bercucuran.

Setelah melewati tangga yang sangat panjang, akhirnya sampailah saya di Puncak Gunuang Ketek Labuhanhaji. Di atasnya masih asri, banyak pepohonan di sekitarnya. Tampak sawah-sawah milik warga, rumah-rumah penduduk, dan jalan raya. Seekor burung sedang terbang, ada tumpukan pasir di tanah yang ditumbuhi banyak rumput. Pemandangan sekelilingnya indah.

Sesudah tangga terakhir, ada sebuah bangunan kecil di puncak Gunuang Ketek. Tangganya terbuat dari besi bulat dan licin. Jumlah anak tangganya empat pijakan, tetapi jaraknya tidak dekat. Awalnya saya tidak berniat naik ke atasnya. Namun, rasa penasaran membuat saya naik tanpa pikir panjang. Bangunan tersebut bentuknya persegi empat, semua sisinya terbuka. Hanya bagian atasnya saja yang disemen semua, sehingga aman ketika orang berada di atasnya. Itulah satu-satunya bangunan yang ada di puncak gunung ini.

Dari sini terlihat jelas keindahan panorama yang ada di sekitar Gunuang Ketek. Saya hanya berdiri sambil menikmati embusan angin. Sangat nyaman rasanya, walau sang surya sudah mulai terik. Saya bersyukur bisa sampai ke sini. Rasa penasaran yang sudah lama bersemayan di kalbu perlahan hilang dengan sendirinya.

Setelah puas menikmati pemandangannya, saya pun turun perlahan dari bangunan tersebut. Sampai di bawah saya melihat sekelilingnya, berniat menghitung anak tangga sambil turun dari puncak gunung.

Menurut saya, anak tangga pertama, dimulai sebelum penyangganya. Hitungan berlangsung bersamaan kaki menginjak anak tangga, di pertengahan fokus saya terbagi karena melihat pondok, dari sini tampak jelas dalamnya. Kemudian melangkah turun lagi, sambil melanjutkan menghitung jumlah anak tangganya sampai yang terakhir.

Proses turun dari puncak Gunuang Ketek lebih mudah, tidak ketika naik. Banyak keringat keluar dari wajah, saya mengusap dengan tangan setelah selesai menghitung. Kalau tidak salah hitung, jumlah anak tangganya 170 pijakan.

Waktu masih menghitung anak tangga sambil melangkah, saya sudah melihat ada orang sedang menelepon di pinggir jalan yang belum beraspal. Sepeda motor berada di dekatnya. Dia memperhatikan saya tanpa suara. Lalu saya berkata, “Saya penasaran ada apa di puncaknya,

makanya saya mendaki gunung ini sendirian.”

Kemudian dia menjawab”Ya, tak masalah.”

Latas dia pergi ke jalan kecil dekat tangga dengan berjalan kaki. Setelah itu ia mengendarai sepeda motornya

menuju jalan raya.

Saya berhenti sebentar untuk menghilangkan letih, sambil membaca ulang tulisan alamat daerah tersebut, dan mencatatnya di ponsel.

Setelah itu, saya pulang melewati jalan raya.

Di samping jalan raya sebelum pulang ke rumah, saya menuju tempat tinggal seorang warga, yang belakang rumahnya sejajar dengan Gunuang Ketek. Tampak seorang siswa SMA. Saya bertanya, “Bangunan apa yang ada di atas Puncak Gunuang Ketek?”

Jawabannya, “Itu bangunan untuk tempat air. Yang membuat tangga dan tempat air tersebut adalah pihak Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I).”

Saya juga menanyakan berapa kali dia sudah naik ke puncak gunung. Jawabannya, “Lima kali. Ya, untuk menghilangkan bosan.” Ia juga mengatakan, “Sore hari di Gunuang Ketek tidak panas.”

Teman saya pernah berkata, “Pusat Kajian Tauhid Tasawuf ada di Desa Pawoh.” Desa tersebut berada di Kecamatan Labuhanhaji, Kabupaten Aceh Selatan.

Bagi yang berminat pergi ke Puncak Gunuang Ketek Labuhanhaji, sebaiknya mengenakan busana muslimah bagi perempuan. Untuk laki-laki, pakailah pakaian yang sopan.

Pergi ke gunung mana pun kita harus menjaga tingkah laku, sopan santun, dan jangan membuang sampah sembarangan.

Juga tidak boleh mengambil seuatu dari kawasan gunung tanpa izin serta tak boleh merusak apa pun yang ada di sana.

Dengan demikian, kita dapat menjaga hubungan baik dengan alam semesta. Kita jaga alam, alam jaga kita.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.