Kalah Dari Bali United, Marian Akui Masalah Internal dan Persiapan Jadi Biang Keladi Kekalahan PSBS
Putu Dewi Adi Damayanthi April 07, 2026 09:20 AM

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – PSBS Biak terpaksa menelan pil pahit setelah digulung Bali United dengan skor telak 6-1 dalam lanjutan pekan ke 26 Super League 2025/2026 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, pada Senin 6 April 2026 malam.

Kekalahan memalukan ini semakin membenamkan tim berjuluk Badai Pasifik tersebut di zona merah klasemen sementara.

Pertandingan sebenarnya sempat berjalan sengit di awal babak pertama. 

PSBS Biak sempat memberikan harapan setelah Mohcine Hassan Nader membuka keran gol di menit ke-30.

Baca juga: Bali United Mengamuk, PSBS Biak Digilas 6-1 di Dipta, Johnny Jansen: Seharusnya Bisa 10 Gol

Sayangnya, momentum tersebut sirna seketika ketika Teppei Yachida membawa tuan rumah kembali unggul di menit ke-36, disusul gol Joao Vitor Ferrari Silva pada menit ke-40 yang menutup babak pertama dengan skor 2-1.

Memasuki babak kedua, Bali United semakin menggila dengan tambahan gol dari Joao Vitor di menit 48, Diego Campos menit 63, dan ditutup oleh gol pemain pengganti Boris Kopitovic pada masa injury time 90+2.

Usai laga, pelatih kepala PSBS Biak, Marian Mihail, tidak mampu menyembunyikan kekecewaannya dan secara terbuka mengakui bahwa hancurnya performa timnya disebabkan oleh faktor non-teknis yang krusial.

Mihail mengungkapkan bahwa persiapan tim selama jeda liga terganggu oleh masalah internal yang sangat serius.

"Dari rencana satu bulan persiapan yang kami susun, kami hanya efektif berlatih selama sepuluh hari saja. Ada beberapa masalah internal, kami tidak bisa menjalankan program latihan sesuai rencana," ungkap pelatih asal Rumania tersebut.

Menurutnya, kegagalan di Dipta adalah cerminan dari minimnya dedikasi dan persiapan yang matang di level profesional.

Lebih lanjut, Mihail menyoroti hilangnya identitas dan mentalitas bertarung anak asuhnya, terutama saat tertinggal di babak kedua.

Ia merasa beberapa pemain seolah kehilangan motivasi dan menyerah sebelum laga berakhir.

"Sepak bola adalah tentang persiapan harian dan ambisi di setiap pertandingan resmi. Ketika situasi sulit, pemain harus bermain dengan hati dan pengorbanan," kata dia.

"Namun hari ini hal itu tidak terlihat. Kami kehilangan konsentrasi dan membiarkan lawan mendominasi segala aspek," tegas Mihail.

Senada dengan sang pelatih, pemain PSBS Biak, Yano Putra, mengakui bahwa timnya saat ini sedang berada dalam situasi yang sangat sulit.

Ia menekankan bahwa faktor mental dan kegagalan mencuri poin di laga ini menjadi pukulan telak bagi perjuangan tim keluar dari zona degradasi.

"Kami tahu sedang berada di situasi sulit dan sangat butuh poin. Pertandingan hari ini menjadi pelajaran berharga bagi kami. Kami tidak puas, tapi kami harus segera bangkit karena jarak poin di zona bawah masih cukup rapat," ujar Yano.

Ia pun bertekad untuk segera melakukan evaluasi total demi menatap laga krusial berikutnya melawan Borneo FC.

Di sisi lain, kemenangan besar ini menjadi pesta bagi pendukung Bali United, meski laga digelar tanpa penonton di stadion.

Pelatih Bali United, Johnny Jansen, sukses meramu strategi yang mematikan, walaupun ia sempat diganjar kartu kuning oleh wasit Agung Setiyawan pada menit ke-87 akibat aksi protes di pinggir lapangan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.