Jemaah Haji Ponorogo Siap Berangkat Dua Kloter, 3 Skenario Disiapkan Antisipasi Konflik Timur Tengah
Ndaru Wijayanto April 07, 2026 12:14 PM

 

Laporan Wartawan Tribunjatim.com, Pramita Kusumaningrum 

TRIBUNJATIM .COM, PONOROGO - Ratusan jemaah haji asal Ponorogo, Jawa Timur, dipastikan tetap berangkat menunaikan ibadah haji sesuai rencana, meski masih terjadi konflik di Timur Tengah.

Hingga kini, tidak ada calon jemaah haji Ponorogo yang mengundurkan diri, sementara persiapan pemberangkatan telah mencapai sekitar 90 persen. 

Sesuai jadwal, sebanyak 565 Jemaah Haji termasuk petugas akan diberangkatkan melalui dua kloter, yakni kloter 19 dan 20 Embarkasi Surabaya, pada Minggu (26/4/2026) mendatang.

“Perihal konflik Timur Tengah, jemaah kami tidak ada yang mengundurkan diri. Ada yang tanya tapi tetap berangkat,” ungkap Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umroh Ponorogo, Marjuni, Selasa (7/4/2026).

Dia menjelaskan bahwa hingga kini persiapan pemberangkatan jemaah haji Ponorogo sudah mencapai 90 persen. Lantaran seluruh persiaapan dokumen perjalanan haji sudah siap.

“Termasuk yang terakhir koper. Seluruh jemaah haji Ponorogo telah menerima koper yang akan dibawa,” kata Marjuni saat ditemui di kantornya, Jalan Ir Juanda, Kelurahan Tonatan, Kecamatan/Kabupaten Ponorogo, Jatim.

Baca juga: 1.270 Jemaah Haji Jombang Berangkat Awal Mei 2026, Tak Terpengaruh Konflik Timur Tengah

Dia menjelaskan bahwa jemaah haji Ponorogo berangkat pada gelombang 1 embarkasi Juanda Surabaya. Ratusaan jemaah haji terbagi dalam kloter 19 dan 20

“Kloter 19 total seluruhnya jemaah haji dari Ponorogo termasuk petugas. Kloter 20 gabungan dari Kabupaten Magetan dan Kabupaten Sidoarjo,” tegasnya.

Terkait perang, Marjuni mengaku tidak ada keluhan dari jemaah asal Ponorogo, meski ada yang bertanya soal hal tersebut.

Menurutnya pemerintah telah menyiapkan tiga skenario antisipasi. mulai dari tetap memberangkatkan jemaah dengan pengalihan rute penerbangan, hingga batalkan berangkat demi keamanan.

“Memang ada yang tanya, tapi pemerintah bijaksana dalam mengambil keputusan. Pemerintah sudah menyiapkan skenario yang akan diterapkan,” urainya.

Skenario pertama adalah, jika sampai hari pemberangkatan tidak reda. Jemaah haji tetap berangkat namun mencari rute yang berbeda.

“Manakala eskalasi Timur Timur tengah betul-betul sampai hari H pemberangkatan tidak reda. Skenario pertama diterapkan yaitu kita mengadakan pengalihan rute penerbangan dengan segala konsekuensi,” tambahnya.

Skenario kedua Kementerian Haji dan Umroh tidak memberangkatkan haji sekalipun Pemerintah Arab Saudi tidak menutup haji 2026.

“Artinya haji tetap tapi membahayakan. Alasan menjaga keselamatan jiwa diutamakan. Skenario 2 Kementerian Haji dan Umroh mendapatkan tugas untuk melobi uang yang telah dikeluarkan bisa kembali bisa manfaatkan 2027,” urainya.

Yang ketiga, jika Pemerintah Arab Saudi mengumumkan Haji terbatas untuk negara Arab Saudi dan sekitarnya. Tentu, Indonesia tidak memberangkatkan dan berhak mendapatkan semacam tugas untuk nego.

“Bagaimana uang yang dibayarkan bisa kembali dan bisa dimanfaatkan. Tapi sampai sekarang masih skenario pertama yang diterapkan. Mohon doanya lancar,” ujarnya.

Salah satu calon jemaah haji, Reni menyatakan memang sudah mempersiapkan semuanya. Termasuk lahir dan batin untuk menjalankan rukun islam kelima.

“Mohon doanya semua lancar. Bisa menjadi haji mabrur,” pungkas warga Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, Jatim

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.