TRIBUNBANYUMAS.COM, TEHERAN – Ketegangan diplomatik dan militer antara Iran dan Amerika Serikat (AS) mencapai titik didih memasuki minggu kelima operasi militer gabungan AS-Israel.
Teheran melontarkan tuduhan serius bahwa militer AS sengaja menghancurkan pesawat dan personelnya sendiri guna menutupi kegagalan operasi di medan tempur.
Juru bicara komando militer gabungan Iran, Ebrahim Zolfaghari, mengklaim bahwa langkah destruktif tersebut diambil atas perintah Washington demi menjaga citra militer di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump.
“Untuk mencegah rasa malu Presiden Trump dan citra buruk militernya, mereka terpaksa melaksanakan pengeboman pada pesawat sendiri yang sebelumnya telah kami lumpuhkan,” ujar Zolfaghari sebagaimana dikutip dari Associated Press (AP), Senin (6/4/2026).
Tuduhan ini diperkuat dengan tayangan televisi pemerintah Iran yang menunjukkan puing-puing satu pesawat transportasi dan dua helikopter AS.
Namun, klaim ini dibantah oleh pejabat intelijen regional yang menyatakan bahwa peledakan aset tersebut merupakan prosedur standar terhadap pesawat yang mengalami kerusakan teknis agar tidak jatuh ke tangan musuh, bukan akibat serangan langsung Iran.
Baca juga: AS Terpojok di Timur Tengah? Iran Abaikan Diplomasi Trump Usai Gempur Pangkalan Militer di Kuwait
Retorika Trump
Di sisi lain, Presiden Donald Trump justru meningkatkan retorika perangnya. Ia mengeluarkan ultimatum keras kepada Teheran untuk segera membuka Selat Hormuz.
Trump bersumpah akan meluluhlantakkan infrastruktur sipil seperti jembatan dan pembangkit listrik jika tuntutannya diabaikan.
"Iran akan hidup dalam neraka jika tidak segera mencapai kesepakatan," ancam Trump tak lama setelah operasi penyelamatan seorang pilot AS yang terluka parah di wilayah pegunungan Iran berhasil dilaksanakan.
Menanggapi ancaman tersebut, Menteri Kebudayaan Iran, Sayed Reza Salihi-Amiri, menyebut perilaku Trump sebagai fenomena politik yang inkonsisten dan sulit dianalisis.
Sementara itu, Misi Iran di PBB menilai ancaman terhadap infrastruktur sipil adalah bukti nyata niat Washington untuk melakukan kejahatan perang.
Konflik yang bermula sejak 28 Februari ini telah meluas ke berbagai negara kawasan. Iran dilaporkan mulai menyerang fasilitas energi di Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Bahrain.
Baca juga: 14 Jam Pascaanjlok, Jalur KA Bumiayu Kembali Normal, Perjalanan Kereta via Stasiun Purwokerto Pulih
Hingga saat ini, lebih dari 1.900 orang tewas di Iran, sementara ribuan korban jiwa lainnya terus berjatuhan di wilayah Israel dan Lebanon.
Meski jalur diplomasi masih diupayakan melalui mediator seperti Oman, Mesir, dan Rusia, ancaman blokade jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz membayangi stabilitas ekonomi global di tengah kecamuk perang yang kian tidak terkendali. (inas/kps)