Kronologi Kecelakaan Maut di Batam Renggut Nyawa 3 Pelajar SMPIT Insan Harapan
Septyan Mulia Rohman April 07, 2026 01:40 PM

 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Polisi ungkap kronologi kecelakaan maut di Batam yang merenggut nyawa 3 pelajar SMPIT Insan Harapan pada Minggu (5/4/2026).

Kecelakaan maut di Batam itu terjadi di jalan Trans Barelang arah Jembatan 5 Barelang, Kelurahan Sembulang, Kecamatan Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) sekira pukul 08.30 WIB.

Tiga pelajar yang terlibat lakalantas di Batam itu di antaranya:

  • Rino Arif Bakhtiar (kelas VIII B) 
  • Safaraz Akma (kelas IX B) dan 
  • Ruhaizan Syakir (kelas IV B)

Ketiganya telah dimakamkan di TPU Sei Temiang, Kota Batam, Provinsi Kepri pada hari yang sama setelah kejadian.

Kecelakaan maut di Batam itu bermula saat Honda Beat putih dengan nomor polisi BP 6859 IG yang dikendarai Safaraz Akma (16) serta membonceng dua rekannya, Ruhaizan Syakir (15) dan Rino Arif Bakhtiar (15) melaju dari arah Kota Batam menuju Barelang.

Kapolresta Barelang, Kombes Pol Anggoro Wicaksono, S.H., S.I.K., M.H melalui Kasatlantas Polresta Barelang Kompol Afiditya Arief Wibowo, S.I.K., M.H mengungkap jika ketiganya hendak memancing.

Namun saat melintasi turunan Bukit Bismillah, sepeda motor diduga mengalami slip hingga lepas kendali.

"Sesampainya di turunan Bukit Bismillah mengalami slip, lepas kendali (out of control) dan menabrak tiang lampu jalan hingga masuk ke parit," ungkap Kasat Lantas Polresta Barelang itu.

Akibat benturan keras tersebut, ketiga pelajar mengalami luka pada bagian kepala dan meninggal dunia di lokasi kejadian.

Selain korban jiwa, kecelakaan maut di Batam tersebut juga menyebabkan kerusakan pada bagian depan sepeda motor.

"Hasil medis sesuai keterangan dokter, tidak ditemukan adanya kadar alkohol dalam darah para korban," tegasnya.

Penyidik Satlantas Polresta Barelang masih menyelidiki lebih lanjut terkait kecelakaan di Batam tersebut.

Barang bukti berupa motor Honda Beat yang terlibat kecelakaan maut di Batam masih berada di Uni Penegakkan Hukum (Gakkum) Satlantas Polresta Barelang.

Kesaksian Ayah Korban Kecelakaan Maut di Batam

Alwani, ayah Safaraz Akma, mengungkap percakapan terakhir dengan anaknya sebelum lakalantas di Batam itu.

TribunBatam.id berkesempatan menemui ayah Safaraz untuk mendengar langsung kesaksian duka di rumahnya, Senin (6/4/2026) siang. 

Kepergian Aras masih meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. 

Berikut wawancara Tribun Batam dengan ayah korban:

Tribun: Safaraz dikenal sebagai anak yang gemar memancing. Apakah Anda tahu betul soal hobinya itu? 

Alwani: Iya, betul. Safaraz memang betul-betul mancing. Hampir setiap hari dia ribut minta pergi mancing,maksudnya antusias, bukan ribut yang negatif. 

Jujur saya katakan, saya membolehkan karena saya pikir itu masih jauh lebih baik dibanding anak-anak lain yang mungkin sudah bergeser ke hal yang negatif.

Saya dapat dukungan dari kawan-kawan senior juga. Mereka bilang, hobi itu positif. Jadi saya tidak mempersempit ruangnya. 

Cuma saya selalu pesan, mancing jangan jauh-jauh, jangan sampai ngumpul di tempat yang tidak jelas.

Tribun: Hasil pancingannya diapakan?

Alwani: Ikan yang didapat kadang dijual, kadang dibawa pulang. 

Tapi lucu juga di rumah kami sendiri yang makan ikan justru saya. 

Istri saya orang Melayu Galang, tapi tidak makan ikan. 

Anak saya yang hobi mancing pun tidak mau makan ikannya (tertawa kecil). 

Anak-anak zaman sekarang, maunya sosis.

Jadi ikan hasil pancingannya, kalau tidak habis dimakan, ya saya yang urus. 

Kadang saya jual sedikit ke tetangga. Tapi buat anak saya, itu bukan soal uang dia memang suka prosesnya. Mancing itu hiburan dia.

Tribun: Bagaimana kejadian hari itu bermula?

Alwani: Malam Minggunya, dia masih main sama kawan di sebelah rumah. Sekira pukul 11 malam balik, buka baju, main HP sebentar, terus bilang "Besok saya mancing." 

Ya sudah, saya jawab iya saja.

Habis subuh, dia pamit. Biasanya yang ngurusin anak itu ibunya. 

Mamaknya waktu itu sedang sibuk mencuci — kebetulan air di rumah kami sedang mati, jadi nyuci di tempat kawan. 

Rupanya Safaraz sudah ditelepon kawannya, sudah janjian memang.

Sebelum pergi, dia tinggalkan HP-nya di rumah. Lalu dia pamit sama mamaknya 'minta cium'. Itu yang sampai sekarang tidak bisa saya lupakan.

Tribun: Soal motor yang dipakai, bagaimana ceritanya?

Alwani: Kami punya tiga motor di rumah. Yang biasa dipakai Safaraz itu motor Beat 2019. 

Tapi pagi itu, motor itu sedang dipakai abangnya yang kerja di PT. 

Safaraz menghubungi abangnya, nanya libur atau tidak. Abangnya bilang tidak libur. Safaraz minta sebentar saja. Abangnya mengizinkan, pesan jangan lama-lama.

Saya sendiri waktu itu tidak ada di rumah. Jadi saya tidak tahu persis. Itu yang sampai sekarang masih berat di hati saya.

Tribun: Bagaimana Anda pertama kali mendengar kabar kecelakaan itu?

Alwani: Hari Minggu itu saya sedang belanja mingguan. Tiba-tiba ada telepon masuk yang tidak terjawab. 

Tidak lama, ada telepon lagi. Saya angkat dari Polsek Galang.

"Selamat siang, Pak. Saya dari Polsek Galang. Motor BM dengan nomor sekian atas nama Bapak apakah itu kendaraan Bapak?"

Saya jawab, iya. Polisi bilang bahwa pengendara motor itu mengalami kecelakaan, dan korban sudah dibawa ke RSUD Embung Fatimah.

Saya langsung bergerak. Saya siapkan semua dokumen BPJS anak, STNK, BPKB dan saya bawa semua ke rumah sakit.

Tribun: Apa yang terjadi saat Anda tiba di RSUD?

Alwani: Saya tanya ke bagian informasi, tidak ada data korban tiga orang dari Galang. Saya bingung. 

Saya coba hubungi polisi lagi, tapi petugas rumah sakit bilang tidak ada. Saya dengar sendiri.

Akhirnya, setelah beberapa kali komunikasi, petugas rumah sakit mengarahkan saya ke belakang ke kamar jenazah.

Begitu masuk kamar jenazah... saya buka. Saya lihat. Tidak ada perasaan apa-apa lagi. Seperti tidak ada nyawa dalam diri saya. Saya tidak bisa berkata-kata.

Tribun: Bagaimana proses identifikasi berjalan?

Alwani: Awalnya tidak ada data apapun dari ketiga jenazah itu. Tidak ada identitas yang terbawa. 

Yang membantu proses identifikasi justru kawan-kawan sekolah Safaraz — sekitar delapan orang datang ke rumah sakit.

Guru dari SMPIT mengarahkan mereka masuk ke kamar jenazah, satu per satu diminta mengenali. 

Di situlah data mulai terkumpul, satu per satu nama ketiga korban berhasil dikenali.

Tribun: Proses selanjutnya berjalan lancar?

Alwani: Tidak langsung. Karena kejadian hari Minggu, dokter forensiknya tidak langsung ada. Kami menunggu cukup lama. Baru sekira pukul 14.00 WIB lebih. 

Setelah semua ahli waris lengkap hadir, proses forensik selesai dan jenazah bisa diserahkan.

Tribun: Bagaimana proses pemakaman berlangsung?

Alwani: Saya sempat meminta agar Safaraz dimakamkan di area perumahan, di lahan keluarga. Tapi setelah dicek, lahan tersebut sudah penuh. 

Akhirnya kami mendapat lokasi pemakaman yang bagus, Alhamdulillah.

Yang membuat hati saya sedikit tenang, makam ketiga anak itu berdekatan. 

Seperti mereka yang selalu bersama semasa hidup, perginya pun bersama. Dimakamkan di tempat yang berdekatan.

Tadi saya sudah kembali ke sana untuk memastikan semuanya baik.

Tribun: Apa yang paling berat bagi Anda setelah kehilangan ini?

Alwani: Saya ini perantau. 13 tahun saya di sini, berjuang. 

Saya guru SD 016 Galang. Istri saya juga mengajar di sini. 

Semua yang kami lakukan, semua yang kami rencanakan rumah, sekolah, masa depan semuanya kami bayangkan bersama anak-anak.

Safaraz sudah besar. Saya sudah mulai bayangkan dia melanjutkan ke sekolah yang lebih baik. 

Alhamdulillah rezeki ada. Tapi sekarang. Yang saya pegang hanya ini: Safaraz anak yang baik. 

Dia pergi dengan cara yang baik. Dan dia pergi bersama sahabat-sahabat terbaiknya.

Semoga Allah menempatkan mereka di tempat yang terbaik. 

Duka Kerabat Korban Kecelakaan Maut di Batam

Tak hanya keluarga, kerabat korban kecelakaan maut di Batam juga berduka dengan kepergian mereka.

Beberapa dari mereka ada yang terkejut dengan meninggalnya tiga pelajar SMPIT Insan Harapan tersebut.

Akun Instagram @ahmd_maolana misalnya yang sedih dengan berpulangnya salahsatu pelajar yang terlibat lakalantas dekat Jembatan 5 Barelang, Jalan Trans Barelang, Kelurahan Sembulang, Kecamatan Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

"Gak kesampaian aku mancing di tempatmu...@nong_rinonggg_14," tulisnya.

Aku lainnnya, @fadz_grid juga mengungkap duka citanya.

"Innalilahi wa innailaihi Raji'un baru kemarin kita kelompok MTK loh nong ????????????????????????," tulisnya.

"parazzz ga nyangkaaa ????????, tenang di sanaa yaa razz????????️," tulis akun @bilqissfnaa. (TribunBatam.id/Ucik Suwaibah/Bereslumbantobing/*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.