TRIBUNJAMBI.COM - Polemik penguasaan lahan negara di kawasan Tanah Abang memicu adu argumen antara Ketua Umum GRIB Jaya, Rosario de Marshall, dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait.
Perdebatan tersebut terjadi pada Senin (6/4/2026) dan menjadi sorotan publik setelah video percakapan keduanya beredar di media sosial.
Isu yang diperdebatkan berkaitan dengan lahan kosong milik negara yang selama ini dikelola oleh organisasi kemasyarakatan di bawah komando Hercules.
Pemerintah diketahui berencana memanfaatkan lahan tersebut untuk pembangunan hunian bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Dalam pernyataannya, Maruarar menegaskan bahwa pengambilalihan lahan dilakukan untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan bisnis.
"Tujuan saya mau membangun untuk rumah rakyat di sini. Jadi bukan untuk pengembang-pengembang dan sebagainya," kata Maruarar kepada Hercules.
Baca juga: AS Deadline Iran Buka Selat Hormuz Malam Ini, Trump Siap Matikan Listrik Teheran
Baca juga: Al Haris Siapkan Uang Pribadi Pulangkan 3 Warga Jambi Korban Loker Scam Kamboja
Menanggapi hal tersebut, Hercules memberikan penjelasan terkait status pengelolaan lahan oleh organisasinya.
Ia menyebut bahwa pihaknya hanya memiliki hak pengelolaan, bukan kepemilikan atas lahan tersebut.
"HPL itu untuk mengelola lahan, tapi bukan untuk memiliki. Kalau ini negara punya, hari ini pun saya serahkan," tegas Hercules.
Sosok Hercules di Balik GRIB Jaya
Nama Rosario de Marshall bukanlah figur baru dalam dinamika sosial di Jakarta.
Pria yang dikenal luas dengan julukan Hercules ini berasal dari Timor Timur dan memiliki perjalanan hidup yang penuh lika-liku.
Dalam masa mudanya, ia pernah terlibat membantu operasi militer Tentara Nasional Indonesia di wilayah tersebut.
Seiring waktu, Hercules dikenal sebagai sosok yang memiliki pengaruh kuat di dunia premanisme ibu kota.
Perjalanan hidupnya pun diwarnai berbagai peristiwa kekerasan, termasuk pengakuannya pernah mengalami pembacokan hingga belasan kali.
Kondisi fisiknya juga menjadi sorotan, di mana sebagian anggota tubuhnya merupakan hasil rekonstruksi akibat luka berat yang pernah dialami.
Meski memiliki latar belakang keras, dalam beberapa tahun terakhir Hercules disebut telah meninggalkan dunia tersebut.
Perubahan itu terjadi setelah dirinya menjalani hukuman terkait kasus penguasaan lahan pada 2019.
Sejak saat itu, ia mulai beralih ke dunia usaha dan aktivitas organisasi.
Pernah Dipercaya dalam Operasi Militer
Cerita mengenai peran Hercules di masa lalu juga pernah diungkap oleh mantan Kepala Badan Intelijen Negara, A.M. Hendropriyono.
Menurutnya, Hercules pernah dipercaya memegang peran penting dalam operasi militer di Timor Timur.
"Dulu, dia (Hercules) waktu di Timor Timur sebelum Timor Leste, dia itu kita percaya pegang kunci senjata dan peluru, dia yang pegang, jadi saking kita percayanya," kata Hendropriyono.
Ia bahkan menyebut Hercules telah memberikan pengorbanan besar bagi negara hingga mengalami kehilangan anggota tubuh.
Karena itu, ia menilai sosok Hercules seharusnya dibina, bukan dijauhkan.
Polemik Lahan Masih Jadi Sorotan
Hingga kini, persoalan penguasaan lahan negara di Tanah Abang masih menjadi perhatian publik.
Rencana pemerintah untuk membangun hunian rakyat di atas lahan tersebut dipandang sebagai langkah strategis, namun juga memerlukan pendekatan yang tepat agar tidak menimbulkan konflik baru di lapangan.