BANGKAPOS.COM, BANGKA – Penurunan antusiasme masyarakat membawa anak ke posyandu pasca pandemi Covid-19 berdampak langsung pada capaian imunisasi dasar lengkap di Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Kondisi ini memicu kekhawatiran meningkatnya risiko penyebaran penyakit menular pada anak.
Pemerintah daerah mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap. Upaya percepatan terus didorong untuk mencegah potensi kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Kabupaten Bangka Selatan, Slamet Wahidin mengatakan capaian imunisasi dasar lengkap pada tahun 2025 masih belum memenuhi target.
Dari target sekitar 4.000 anak, realisasi baru mencapai sekitar 2.880 anak atau setara 72 persen dari target 95 persen. Penurunan ini dipengaruhi oleh berkurangnya kunjungan masyarakat ke posyandu sejak pandemi.
“Memang pasca Covid-19 antusiasme masyarakat yang membawa anaknya ke Posyandu sedikit menurun, misalnya pada tahun 2025 capaian imunisasi dasar lengkap kita hanya 72 persen sementara targetnya 95 persen,” kata dia kepada Bangkapos.com, Selasa (7/4/2026).
Slamet Wahidin menjelaskan masih terdapat sekitar 30 persen anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap. Jika mengacu pada sasaran sekitar 4.000 anak, maka jumlah tersebut setara dengan sekitar 1.200 anak yang belum terlindungi secara optimal. Kondisi ini membuat anak-anak tersebut berisiko tinggi tertular berbagai penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Ia menegaskan bahwa anak yang tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap memiliki risiko tinggi terhadap penyakit berbahaya. Penyakit tersebut antara lain tuberkulosis, hepatitis B, polio, difteri, pertusis, tetanus, campak hingga rubella. Dampak yang ditimbulkan tidak hanya berupa sakit ringan, tetapi juga bisa menyebabkan cacat permanen hingga kematian.
“Masih ada sekitar 30 persen anak yang beresiko tertular penyakit campak ataupun penyakit lainnya yang bisa dicegah dengan imunisasi,” papar Slamet Wahidin.
Selain itu, anak yang tidak diimunisasi juga lebih rentan mengalami penyakit berat dan komplikasi seperti pneumonia serta diare.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berpotensi menjadi sumber penularan di komunitas. Oleh karena itu, imunisasi dasar lengkap menjadi langkah pencegahan yang penting.
Ia juga mengingatkan potensi terjadinya kejadian luar biasa (KLB) campak jika cakupan imunisasi tidak segera ditingkatkan.
Risiko tersebut dinilai cukup besar mengingat masih banyak anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap. Pemerintah daerah terus mengantisipasi agar tidak terjadi lonjakan kasus penyakit menular.
“Harapan kita jangan sampai terjadi KLB campak karena risikonya sangat besar, mengingat masih sekitar 30 persen anak belum mendapatkan imunisasi dasar lengkap,” sebutnya.
Pemerintah daerah mengajak seluruh masyarakat, khususnya orang tua yang memiliki balita agar tidak ragu membawa anak ke posyandu.
Layanan imunisasi telah disediakan secara gratis sebagai bentuk perlindungan pemerintah terhadap kesehatan anak. Partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci keberhasilan program imunisasi.
“Mari kita yang memiliki anak, tolong dibawa ke posyandu. Jangan ragu karena vaksin disediakan gratis dan ini untuk melindungi anak-anak kita,” kata Slamet Wahidin.
(Bangkapos.com/Cepi Marlianto)