Oleh: Niken Arumdati, ST, M.Sc dan Dr. Ir. Heryadi Rachmat, MM
Pada abad ke-13, dunia pernah mengalami periode kelam yang terekam dalam berbagai catatan sejarah. Eropa dilanda musim dingin berkepanjangan, kabut kering menyelimuti langit, panen gagal, dan wabah penyakit menyebar luas.
Di Inggris, seorang rahib sekaligus penulis kronik, Matthew Paris, mencatat kematian massal yang menimpa masyarakat miskin dan ketakutan yang meluas di tengah ketidakpastian. Namun, selama berabad-abad, penyebab dari krisis global tersebut tetap menjadi misteri.
Ilmu pengetahuan modern kemudian membuka tabir itu. Melalui analisis inti es di Greenland dan Antartika, para ilmuwan menemukan jejak anomali sulfat yang mengarah pada satu peristiwa besar di masa lalu. Penelitian lintas disiplin akhirnya menyimpulkan bahwa sumber perubahan iklim ekstrem tersebut berasal dari Nusantara, tepatnya dari letusan dahsyat gunung purba di kawasan Gunung Rinjani, pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang dikenal sebagai Gunung Samalas.
Letusan Samalas pada tahun 1257 merupakan salah satu yang terbesar dalam sejarah manusia. Skala letusannya bahkan diperkirakan melampaui Gunung Tambora. Material vulkanik yang terlontar ke atmosfer dalam jumlah masif membentuk lapisan aerosol yang memantulkan sinar matahari, menurunkan suhu global, dan memicu anomali iklim selama beberapa tahun. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara lokal, tetapi menjangkau berbagai belahan dunia.
Bagi masyarakat Lombok, peristiwa ini bukan sekadar data ilmiah. Ia hidup dalam ingatan kolektif yang diwariskan melalui naskah kuno Babad Lombok. Dalam salah satu kutipannya disebutkan bagaimana Gunung Rinjani longsor dan Gunung Samalas runtuh, disertai hujan batu yang bergemuruh, menghancurkan Desa Pamatan, merobohkan rumah-rumah, dan menyeretnya hingga ke laut. Banyak manusia digambarkan hanyut dan meninggal dunia.
Narasi ini bukan sekadar cerita simbolik, melainkan deskripsi yang sangat kuat tentang sebuah bencana dahsyat yang pernah terjadi.
Apa yang selama ini dianggap sebagai legenda, kini memperoleh legitimasi ilmiah. Sejarah lisan dan tulisan lokal berpadu dengan bukti geologi modern, menghadirkan satu kesimpulan yang utuh tentang peristiwa besar yang mengubah wajah bumi dan peradaban.
Jejak letusan Samalas masih dapat disaksikan hingga kini. Endapan piroklastik yang tersebar di berbagai wilayah Lombok membentuk lanskap yang unik sekaligus menyimpan rekaman peristiwa masa lalu. Penemuan artefak berupa keramik, sisa bangunan, hingga tulang manusia yang terkubur di bawah material vulkanik memperkuat gambaran tentang peradaban yang hilang akibat bencana besar tersebut. Lanskap ini bukan hanya bentang alam, melainkan arsip geologi yang menyimpan cerita tentang relasi antara manusia dan alam.
Dalam konteks kekinian, Samalas menghadirkan peluang besar melalui pengembangan geowisata. Tren pariwisata global menunjukkan pergeseran dari sekadar menikmati keindahan menuju pengalaman yang bermakna dan edukatif.
Geowisata menjawab kebutuhan tersebut dengan menghadirkan pemahaman tentang proses geologi, sejarah bumi, serta dinamika bencana yang membentuk peradaban.
Baca juga: Tambora: Kisah Kerajaan Hilang hingga Inspirasi Frankenstein
Kawasan kaldera yang kini menjadi Danau Segara Anak merupakan contoh nyata bagaimana bencana melahirkan lanskap yang bernilai tinggi. Tebing-tebing endapan piroklastik di pesisir utara Lombok menjadi laboratorium alam terbuka yang dapat dimanfaatkan untuk edukasi dan penelitian. Situs-situs temuan artefak memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai kawasan geoarkeologi yang mengintegrasikan ilmu geologi dan sejarah manusia.
Namun demikian, sebagian potensi tersebut justru terungkap melalui aktivitas eksploitasi seperti penambangan pasir dan batu apung. Kondisi ini menunjukkan bahwa tanpa pengelolaan yang tepat, nilai strategis kawasan dapat tergerus oleh kepentingan jangka pendek.
Pendekatan geowisata menawarkan jalan tengah dengan mengubah kawasan bernilai geologi tinggi menjadi sumber ekonomi berkelanjutan sekaligus objek konservasi.
Samalas merupakan aset global yang dimiliki Indonesia. Letusan ini telah diakui sebagai salah satu peristiwa vulkanik terbesar dalam sejarah Holosen. Narasi tentang sebuah letusan di Lombok yang mampu mengubah iklim dunia adalah kekuatan identitas yang tidak dimiliki banyak daerah.
Dengan pengelolaan yang tepat, Samalas dapat menjadi ikon geowisata internasional yang mengangkat posisi Lombok dan Nusa Tenggara Barat di tingkat global.
Samalas bukan sekadar masa lalu. Ia adalah pengingat tentang kekuatan alam, kerentanan manusia, dan pentingnya pengetahuan dalam menghadapi masa depan. Mengangkat Samalas melalui geowisata berarti merawat ingatan sekaligus membangun arah baru pembangunan yang berkelanjutan.
Jangan lupakan Samalas, karena di dalamnya tersimpan pelajaran besar yang relevan lintas zaman.