SURYA.CO.ID, SURABAYA - Mohammad Nur Kholis (61) masih menunggu realisasi perbaikan rumah yang dijanjikan oleh perusahaan pasca ledakan yang terjadi di PT Great Wall Steel (GWS) di Desa Janti, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim) pada Senin (6/4/2026) kemarin.
Nur Kholis yang merupakan warga Perumahan Wedoro Regency ini, menjadi satu di antara warga terdampak ledakan dahsyat tersebut.
Sebetulnya, jarak antara rumah Nur Kholis dengan pabrik peleburan baja ini terbilang cukup jauh yakni berkisar 1 kilometer (km).
Namun akibat ledakan sekitar pukul 14.30 WIB ini, serpihan besi berukuran sedang dan berat terlempar dari pabrik tersebut hingga mengenai sejumlah rumah.
Berikut adalah rincian dampak ledakan yang dialami oleh Nur Kholis:
"Suara ledakannya itu seperti bom, dahsyat sekali," kata Nur Kholis saat ditemui SURYA.co.id di kediamannya, Selasa (7/4/2026).
Namun, Nur Kholis merasa beruntung saat kejadian tersebut ia bersama anggota keluarga lainnya sedang tidak berada di dalam rumah.
Kebetulan ia sedang berada di luar, tapi Nur Kholis mendengar secara langsung kerasnya suara ledakan dari arah pabrik.
Ia baru mengetahui kondisi rumahnya yang rusak setelah dihubungi oleh warga sekitar.
Sontak ia terkejut saat mendapati ruang tamunya dipenuhi serpihan plafon yang hancur tertembus besi.
"Untungnya tidak sampai kena orang di sini," ucap Nur Kholis sembari menunjukkan foto besi yang sempat ia abadikan melalui ponsel pribadinya.
Baca juga: Kronologi Ledakan Maut di PT Great Wall Steel Sidoarjo, Seorang Pekerja Tewas
Selain rumah milik Nur Kholis, informasi dari sejumlah warga menyebutkan setidaknya ada dua rumah lain di Perumahan Wedoro Regency yang turut terdampak.
Nur Kholis menjelaskan, bahwa dirinya sudah didata sebagai warga terdampak karena pihak perusahaan sebelumnya berjanji akan bertanggung jawab.
Namun hingga Selasa siang, perbaikan pada bangunan yang rusak akibat hantaman besi tersebut belum juga dilaksanakan.
"Saya masih menunggu. Tadi pagi sudah didata. Katanya kalau tidak hari ini mungkin besok, kami juga tidak tahu," ungkapnya.
Baca juga: Pihak PT Great Wall Steel Sidoarjo Buka Suara Soal Ledakan di Pabrik yang Menewaskan Pekerja
Di sisi lain, perwakilan PT Great Wall Steel (GWS) memberikan penjelasan terkait kronologi ledakan di pabrik peleburan baja yang terletak di Desa Janti, Kecamatan Waru, Sidoarjo tersebut.
HRD General Affair PT GWS, Heri Prasetyo, menyebutkan ledakan terjadi saat sedang dilakukan proses pemotongan besi tua.
Peristiwa tragis ini memakan tiga korban jiwa, dengan rincian satu orang meninggal dunia dan dua orang mengalami luka berat.
"Dua korban luka-luka yang merupakan pekerja PT GWS sedang melakukan pemotongan terhadap besi tua yang kemudian meledak lalu melukai keduanya. Sementara satu orang sopir non karyawan meninggal dunia," kata Heri kepada media di Sidoarjo.
Sopir yang meninggal dunia tersebut, merupakan karyawan dari perusahaan penyedia (supplier) besi.
Saat kejadian, korban sedang beristirahat di lokasi yang berjarak sekitar 50 meter dari titik pusat ledakan.
Baca juga: Ledakan Maut di PT Great Wall Steel Sidoarjo, Tim Jibom Polda Jatim Sisir TKP
Korban meninggal setelah terkena pecahan besi yang terpental dan mengenai badannya.
Heri menyatakan, bahwa sopir tersebut dinyatakan meninggal dunia saat dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Saat ini, pihak kepolisian sedang memeriksa lebih lanjut besi tua yang memicu ledakan hebat tersebut.
Perusahaan belum bisa memastikan asal maupun kandungan zat di dalam besi tua yang meledak itu.
Heri menegaskan, bahwa seluruh prosedur pemotongan besi di pabriknya sebenarnya telah dijalankan sesuai standar peraturan yang berlaku.
"Bahkan sopir dari luar perusahaan yang memasuki area pabrik juga diwajibkan mengenakan helm," ujar Heri.
Pihak PT GWS menyatakan akan bertanggung jawab penuh kepada seluruh korban maupun warga yang rumahnya rusak akibat insiden ini.