Laporan Reporter Tribunjabar.id Rahmat Kurniawan
TRIBUNJABAR.ID, CIMAHI - Produksi tempe dari salah satu produsen di Kota Cimahi mengalami penurunan hingga 30 persen. Penurunan itu merupakan imbas kenaikan harga bahan baku, yaitu kedelai.
"Pengurangan produksi kurang lebih 30 persen, karena di pasar daya beli di pasarnya juga turun," kata Kusnanto, salah satu produsen tempe Kota Cimahi saat ditemui, Selasa (7/4/2026).
Kusnanto mengungkapkan, harga kedelai biasanya di rentang harga Rp 8.000 hingga Rp 9.000 per kilogram. Harga itu saat ini menyentuh Rp10.800 perkilogram.
Baca juga: Viral Menu MBG Tempe Secuil dan Abon Sahuapeun di Sukabumi, Guru: Harus Cukup 3 Hari
Nilai tukar dolar dan adanya pembatasan di Selat Hormuz disebut menjadi faktor utama penyebab kenaikan harga kedelai yang suplainya mengandalkan impor.
"Penyebab kenaikan katanya karena faktor dolar, sama kendala di Selat Hormuz yang ditutup Iran," ujarnya.
Sebagai pengusaha, dirinya tidak bisa berbuat banyak dan memilih tetap produksi untuk memenuhi permintaan pasar meski jumlahnya mengalami penurunan.
"Kita pengusaha mengikuti saja, yang penting ketersediaan (kedelai) ada, daripada murah tapi barang (kedelai) tidak ada repot juga. Tidak apa-apa mahal yang penting tetap ada, tetap bisa produksi," ujarnya.
Meski begitu, Dia berharap pemerintah segera melakukan langkah-langkah strategis agar harga kedelai kembali turun dan stabil.
Baca juga: Bukan Keracunan, Isu Siswa Kuningan Sakit karena MBG Terbantah, Ternyata Cuma Tolak Tempe Bacem Asam
"Kalau harapan segera normal, lebih diperbaiki tata kelola lebih bagus, syukur syukur bisa swasembada kedelai, lebih murah kualitas lebih bagus," tandasnya.