Teka-teki Harga BBM Terjawab! Purbaya Ungkap Alasan Kenapa Prabowo Pilih Tahan Harga: Kasihan Rakyat
jonisetiawan April 07, 2026 06:38 PM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Di tengah tekanan global yang terus mendorong harga energi naik, pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga demi ruang fiskal, atau menahannya demi menjaga daya beli rakyat.

Di balik keputusan yang diambil, tersimpan pertimbangan panjang yang tidak hanya berbicara soal angka, tetapi juga menyangkut stabilitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Keputusan Strategis di Tengah Tekanan Global

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa keputusan pemerintah, di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, untuk menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi bukanlah langkah yang diambil secara spontan.

Menurutnya, kebijakan tersebut lahir dari pertimbangan matang, baik dari sisi sosial maupun ekonomi, di tengah dinamika global yang terus mendorong kenaikan harga energi.

Baca juga: Menkeu Purbaya Akui Coretax Bermasalah, Sistem Sulit Diakses hingga Muncul Joki SPT, Bakal Perbaiki

Dilema Lama dalam Kebijakan Ekonomi

Purbaya menjelaskan bahwa opsi menaikkan harga BBM selalu menjadi perdebatan klasik dalam kebijakan ekonomi.

Di satu sisi, kenaikan harga dapat membuka ruang fiskal yang lebih luas bagi pemerintah. Namun di sisi lain, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.

“Ketika BBM naik, beban hidup rakyat langsung meningkat. Yang paling terdampak pertama tentu masyarakat kecil,” ujarnya.

Ancaman terhadap Daya Beli dan Pertumbuhan

Lebih jauh, ia menilai bahwa kenaikan harga BBM berpotensi menekan daya beli masyarakat. Dampaknya tidak berhenti di situ penurunan konsumsi rumah tangga bisa berujung pada perlambatan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Dalam konteks ini, menjaga stabilitas konsumsi menjadi kunci agar roda ekonomi tetap bergerak.

CURHAT MENKEU PURBAYA - Menteri Keuangan Purbaya
CURHAT MENKEU PURBAYA - Menteri Keuangan Purbaya menegaskan keputusan pemerintah di bawah Prabowo Subianto untuk menahan harga BBM subsidi bertujuan menjaga daya beli, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah yang paling terdampak jika harga naik. (Tribun Trends)

Efisiensi: Masyarakat vs Pemerintah

Secara teori, tambahan ruang fiskal dari kenaikan harga BBM dapat digunakan kembali oleh pemerintah melalui belanja negara. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada cara pengelolaannya.

Purbaya bahkan mempertanyakan apakah pemerintah bisa membelanjakan dana tersebut seefisien masyarakat.

“Kalau masyarakat yang belanjakan, itu sesuai kebutuhan sehingga lebih tepat sasaran. Kalau pemerintah, bisa saja dibagi rata ke kementerian atau lembaga, sehingga efisiensinya berkurang,” kata dia.

Baca juga: Purbaya Minta Masyarakat Tidak Usah Takut, Harga BBM Subsidi Tidak Akan Naik Sampai Akhir Tahun!

Menjaga Keseimbangan di Tengah Ketidakpastian

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, pemerintah memilih menahan harga BBM bersubsidi. Tujuannya jelas: menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan ini juga mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara stabilitas fiskal dan perlindungan sosial, terutama di tengah ketidakpastian global yang belum mereda.

Langkah Hati-hati, Bukan Tanpa Risiko

Meski demikian, langkah ini bukan tanpa risiko. Beban subsidi berpotensi meningkat jika harga energi dunia terus naik.

Namun, pemerintah memilih pendekatan yang lebih berhati-hati tidak serta-merta mengalihkan tekanan kepada masyarakat.

Efisiensi anggaran tetap menjadi agenda, tetapi tidak ditempuh melalui kebijakan yang berisiko langsung menekan konsumsi rakyat.

Keputusan ini pada akhirnya mencerminkan satu hal: dalam situasi sulit, menjaga daya tahan masyarakat menjadi prioritas utama. Sebab ketika daya beli tetap terjaga, harapan terhadap pemulihan ekonomi pun tetap hidup.

***

(TribunTrends/Kompas)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.