SURYAMALANG.COM, KOTA MALANG – Pedagang tempe di Kota Malang terdampak perang di Timur Tengah yang melibatkan Iran vs Amerika Serikat dan Israel.
Pedagang tersebut adalah Mustakim. Ia bekerja sebagai produsen tempe di Sanan, Kelurahan Purwantoro, Kota Malang.
Bahan baku tempe adalah kedelai. Kedelai yang dikelola oleh Mustakim berasal dari Amerika Serikat.
Akibat perang yang terjadi saat ini, Mustakim mengatakan harga kedelai naik. Saat ini, harganya mencapai Rp 10.500, sedangkan sebelumnya Rp 9.500.
Kenaikan itu dirasa cukup tinggi karena kondisi ekonomi yang ia alami saat ini juga sedang sulit.
Kenaikan sudah dirasakan Mustakim sebelum Lebaran 2026. Sementara penjualan masih belum memperlihatkan peningkatan.
Mustakim mengatakan, daya beli masyarakat saat ini berubah. Lebih rendah dari tahun-tahun sebelumnya.
Kenaikan harga itu pun menjadi tantangan yang tak mudah dihadapi karena di saat yang sama, daya beli publik turun.
“Sekarang harganya Rp 10.500. Sejak sebelum Lebaran naik terus harganya,” ujarnya saat ditemui SURYAMALANG.COM di tempat produksinya, Mekar Jaya, Selasa (7/4/2026).
Baca juga: Janji Donald Trump Perang Berakhir dalam 3 Minggu Tapi Tak Perlu Kesepakatan Damai dengan Iran
Mustakim mengatakan, sejauh ini belum ada tindakan dari Pemkot Malang untuk membantu pedagang kecil seperti dia.
Sebagai pedagang, Mustakim membutuhkan stabilitas harga bahan baku agar usaha yang dijalankan tidak mengeluarkan biaya produksi tinggi.
“Kami berharap ada langkah yang diambil Pemkot Malang agar harga tidak terus naik,” harapnya.
Di saat yang sama, harga plastik juga ikut naik. Plastik digunakan Mustakim untuk membungkus tempe.
Kenaikannya pun cukup tinggi. Plastik dari harga semula Rp 23 ribu per Kg, naik menjadi Rp 51 ribu per Kg.
“Plastik juga ikut naik. Biasanya per bal itu Rp 1,2 juta kini naik Rp 2 juta per bal,” imbuhnya.
Mustakim mengambil pilihan terakhir yakni menaikkan harga jual produknya.
Ia tidak memilih mengurangi kualitas atau mengubah ukuran. Tempe ukuran 200 gram yang biasanya dijual dengan harga Rp 2 tibu per bungkus, kini dijual jadi Rp 2,2 ribu per bungkus.
“Sedangkan yang ukuran agak besar, dulu harganya Rp 3,5 ribu per bungkus dan kini saya naikkan jadi Rp 5 ribu per bungkus,” tambahnya.
Per hari, ia dapat memproduksi 850 Kilogram tempe. Ini turun dibandingkan sebelumnya yang sekitar Rp 1 ton per harinya.
Baca juga: Kisah Tutik, Perajin Tempe di Kepanjen Malang Ketiban Berkah MBG: Pasok 2 Kuintal Keripik ke Jakarta
Yuni, pedagang plastik di Pasar Gadang juga mengatakan hal yang sama tentang harga plastik. Bahkan di tempatnya, harga plastik dijual Rp 56 ribu.
Kenaikan harga plastik ini telah terjadi sekitar dua minggu belakangan ini. Yuni sendiri tidak mengetahui penyebab kenaikan harga plastik.
“Jarang-jarang harga plastik naik. Tapi memang saat ini naik terus, dari Rp 26 ribu menjadi Rp 32 ribu, naik terus sampai menjadi Rp 56 ribu sekarang. Per Kilogramnya,” tegasnya.
Jumlah pembeli plastik di tempatnya pun menurun. Namun Yuni memahami hal tersebut.
Selain ada pembeli yang datang mencari plastik, Yuni sendiri juga membutuhkan plastik untuk kebutuhan dagangannya.
Di Pasar Gadang, Yuni juga jualan sembako. Sejumlah barang dagangannya dibungkus plastik.
“Jadi saya pun juga berhemat karena harga plastik terus naik. Banyak bahan-bahan saya harus dibungkus plastik, loh,” ujarnya.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, belum memberikan keterangan resmi terkait hal ini. Upaya menghubunginya langsung masih belum direspons hingga pukul 16.30, Selasa (7/4/2026).
Di Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok Jawa Timur, harga kedelai di Kota Malang tercatat Rp 13.180 per Kilogram pada Selasa (7/4/2026) pukul 16.50 WIB. Harga kedelai tertinggi di Kabupaten Jombang yakni Rp 13.833.