Pengusaha Keripik Tempe di Purwokerto Tertekan Imbas Harga Plastik Naik
khoirul muzaki April 07, 2026 07:26 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Lonjakan harga plastik yang nyaris dua kali lipat justru menjadi pukulan paling berat bagi pelaku usaha oleh-oleh di Sawangan, Purwokerto. 


Bahkan kondisi ini melampaui dampak kenaikan bahan baku utama seperti kedelai.


Kondisi ini dirasakan langsung oleh pengusaha oleh-oleh di Sawangan yaitu Galeri Eco 21, Nanda Amalia Kuswanda. 


Ia mengungkapkan, kenaikan harga bahan baku mulai menekan operasional usahanya, terutama pada dua komponen utama yakni kedelai dan plastik sebagai kemasan.


"Bahan baku naik, otomatis kami juga harus menaikkan harga. 


Dampaknya tentu terasa," ujarnya kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (7/4/2026). 


Menurut Nanda, lonjakan paling signifikan terjadi pada harga plastik. 


Sebelumnya satu pack plastik dibanderol sekitar Rp42 ribu, kini harganya melonjak menjadi Rp72 ribu per pack. 


Dalam satu pack berisi 50 lembar plastik.


Dalam operasional harian, usahanya membutuhkan sekitar 150 lembar plastik atau setara tiga pack. 


Dengan harga terbaru, biaya yang harus dikeluarkan untuk plastik mencapai sekitar Rp216 ribu per hari, meningkat tajam dibanding sebelumnya.


Sementara itu, harga kedelai juga mengalami kenaikan meski tidak setinggi plastik. 


Namun, kenaikan yang terjadi secara bertahap tetap menimbulkan kekhawatiran bagi pelaku usaha.


"Kalau kedelai memang naiknya bertahap, tapi tetap merisaukan," jelasnya.


Situasi ini menempatkan pelaku usaha dalam posisi dilematis. 


Di satu sisi, biaya produksi terus meningkat, namun di sisi lain daya beli masyarakat menjadi pertimbangan utama dalam menentukan harga jual.


"Kalau harga terlalu tinggi dan tidak terjangkau, otomatis ekonomi bisa lesu. 

Baca juga: Wonosobo Peringkat 3 Kunjungan Wisatawan Terbanyak di Jawa Tengah


Konsumen juga akan berpikir ulang untuk membeli," katanya.


Untuk saat ini, Nanda mengaku belum memiliki strategi khusus dalam menghadapi kenaikan harga bahan baku tersebut. 


Ia memilih untuk melihat perkembangan pasar sambil menunggu kemungkinan adanya penyesuaian harga dari pemasok.


Meski demikian, penyesuaian harga tetap tak terhindarkan. 


Salah satu produknya, keripik tempe, kini dijual Rp20 ribu per bungkus, naik dari sebelumnya Rp19 ribu.


Kenaikan ini dipicu oleh lonjakan harga kedelai dan plastik yang sudah terjadi sejak sebelum Lebaran.


Berbeda dari pola sebelumnya, harga bahan baku biasanya menurun setelah Lebaran, tahun ini justru mengalami kenaikan lanjutan.


"Biasanya setelah Lebaran turun, tapi ini malah naik lagi. 


Jadi kami masih menunggu, sambil melihat perkembangan harga dari pabrik plastik," ujarnya.


Dalam sehari, usaha yang dijalankannya mampu memproduksi sekitar 50 hingga 100 bungkus keripik tempe. 


Namun, dengan tren kenaikan bahan baku yang belum menunjukkan tanda mereda, keberlanjutan usaha kini sangat bergantung pada kemampuan pasar dalam menyerap harga baru.


Nanda menegaskan, saat ini kedelai dan plastik menjadi dua faktor paling krusial yang menentukan keberlangsungan usahanya. 


Apabila kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin pelaku usaha kecil akan semakin terjepit di tengah tekanan biaya produksi dan daya beli konsumen yang melemah. (jti) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.