Pekerja Indonesia: Sudah Kerja Keras dan Lembur, Kenapa Hidup Belum Sejahtera?
Tribunnews April 07, 2026 07:33 PM

Berapa lamakah Anda bekerja dalam satu hari? Delapan jam? Sepuluh jam? Atau bahkan lebih?

Jika bekerja delapan jam sehari atau kurang, mungkin Anda termasuk yang beruntung. Bagi banyak pekerja di Indonesia, lembur sudah menjadi bagian dari rutinitas dan hari kerja yang panjang dianggap sebagai "dedikasi".

Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2023 dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sekitar seperempat pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam dalam seminggu. Jumlahnya mencapai lebih dari 36 juta orang.

Padahal, aturan jam kerja formal di Indonesia menetapkan sekitar 40 jam kerja per minggu. Artinya, cukup banyak pekerja yang bekerja jauh lebih lama dari standar tersebut.

Menariknya, bekerja lebih lama tidak selalu berarti menghasilkan lebih banyak. Data dari World Bank dan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan bahwa rata-rata satu jam kerja di Indonesia menghasilkan sekitar 15–20 dolar AS (sekitar Rp235 ribu–Rp315 ribu) setelah disesuaikan dengan perbedaan biaya hidup antarnegara.

Sebagai perbandingan, di Jerman satu jam kerja bisa menghasilkan sekitar 65–70 dolar AS (sekitar Rp1,02 juta–Rp1,1 juta), meskipun rata-rata jam kerja di sana justru lebih pendek. Perbandingan ini menunjukkan bahwa lamanya waktu bekerja tidak selalu sejalan dengan besarnya nilai ekonomi yang dihasilkan.

Jika jutaan orang Indonesia bekerja lebih dari 40 jam seminggu, apakah jernih payah mereka membuahkan hidup yang lebih layak dan sejahtera?

Ketika jam kerja panjang menjadi cara bertahan

Bagi banyak pekerja, jam kerja panjang bukan semata-mata pilihan. Ia sering kali menjadi cara untuk bertahan di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat. Jumisih, Ketua Bidang Politik Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia, mengatakan bahwa di lapangan jam kerja panjang sering berkaitan langsung dengan kondisi ekonomi pekerja.

“Banyak buruh bekerja lebih dari 40 jam seminggu karena ingin mendapatkan penghasilan tambahan. Upah memang naik setiap tahun, tetapi kenaikannya sering hanya nominal. Secara nilai belum tentu meningkatkan daya beli pekerja,” ujarnya.

Menurutnya, ketika kebutuhan hidup terus meningkat sementara penghasilan tidak berubah secara signifikan, sebagian pekerja mencoba menutup kekurangan tersebut dengan bekerja lebih lama. Namun, situasi di tempat kerja tidak selalu sesederhana pilihan ekonomi.

“Sering kali buruh bekerja lebih lama bukan hanya karena ingin menambah penghasilan, tetapi juga karena ada kekhawatiran kontrak kerja tidak diperpanjang jika menolak lembur. Ada juga target produksi yang tinggi yang membuat buruh harus bekerja lebih dari 40 jam seminggu,” kata Jumisih.

Persoalan jam kerja juga tidak berhenti pada lamanya waktu bekerja, tetapi juga pada bagaimana jam kerja itu dihitung. Dalam praktik di lapangan, menurut Jumisih, tidak semua jam kerja tambahan tercatat sebagai lembur.

“Banyak pekerja yang bekerja lebih dari 40 jam seminggu, tetapi tambahan waktunya tidak dihitung sebagai lembur. Di beberapa tempat bahkan sudah seperti kebiasaan. Kalau satu perusahaan bisa menerapkannya, perusahaan lain sering mengikuti pola yang sama,” jelasnya.

Di kalangan buruh perempuan, praktik ini bahkan memiliki istilah tersendiri. “Kami menyebutnya ‘skor’. Artinya buruh tetap bekerja lebih lama, tetapi jam kerjanya tidak tercatat sebagai lembur,” kata Jumisih.

“Tubuh manusia bukan mesin”

Bagi sebagian pekerja muda di media sosial, ada ungkapan yang sering terdengar: Sabtu adalah hari yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai di Jumat, dan Minggu adalah hari yang digunakan untuk mempersiapkan pekerjaan pada Senin.

Ungkapan ini mungkin terdengar seperti candaan, tetapi bagi banyak orang ia mencerminkan kenyataan bahwa waktu istirahat sering kali ikut terserap oleh pekerjaan. Ketika hari libur pun masih diisi pekerjaan atau memikirkan pekerjaan berikutnya, kelelahan bisa terus menumpuk dari hari ke hari tanpa waktu pemulihan yang cukup.

“Kita ini tubuh manusia, bukan mesin. Mesin saja harus diistirahatkan, apalagi manusia,” kata Jumisih.

Menurutnya, kelelahan akibat jam kerja panjang tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga mental dan psikologis. Ketika pekerja terus bekerja dalam durasi panjang tanpa istirahat yang memadai, risiko kesehatan pun meningkat.

“Jam kerja yang terlalu panjang bisa memicu penyakit akibat kerja dan juga meningkatkan risiko kecelakaan kerja karena tubuh sudah terlalu lelah,” ujarnya.

Temuan ini sejalan dengan kajian global yang diterbitkan pada 2021 oleh International Labour Organization bersama World Health Organization. Studi tersebut menganalisis data dari 194 negara dan menemukan bahwa orang yang bekerja lebih dari 55 jam per minggu memiliki risiko lebih tinggi mengalami stroke dan penyakit jantung. Penelitian itu juga memperkirakan sekitar 745.000 kematian setiap tahun di dunia berkaitan dengan jam kerja yang terlalu panjang.

Karena itu, menurut Jumisih, jam kerja tidak seharusnya hanya dilihat dari sisi ekonomi sempit. “Jam kerja bukan hanya soal berapa banyak kita bisa menghasilkan, tetapi juga soal kesehatan dan kualitas hidup pekerja. Kalau waktu habis untuk bekerja, tubuh lelah, dan tidak ada waktu untuk istirahat, dampaknya akan kembali ke pekerja itu sendiri,” katanya.

Produktivitas bukan sekadar soal keterampilan pekerja

Ketika produktivitas dibahas, pekerja kerap menjadi pihak yang paling sering disorot. Namun, Deniey Adi Purwanto, dosen di Institut Pertanian Bogor, melihat persoalan ini tidak sesederhana itu.

“Produktivitas bukan hanya soal pekerjanya. Ia juga dipengaruhi oleh struktur industri, teknologi yang digunakan, dan bagaimana pekerjaan itu diorganisasi,” ujarnya.

Menurut Deniey, banyak pekerja Indonesia sebenarnya bekerja di sektor yang memang memiliki nilai tambah relatif rendah, seperti pertanian tradisional, perdagangan kecil, atau berbagai bentuk usaha informal.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Februari 2025 sekitar 59,4% pekerja, sekitar 86,6 juta orang, masih bekerja di sektor informal.

“Sektor informal biasanya usaha kecil, akses modal terbatas, dan teknologinya sederhana. Dalam kondisi seperti itu, nilai yang dihasilkan per pekerja juga cenderung rendah,” jelasnya.

Artinya, menurut Deniey, persoalan produktivitas tidak semata-mata karena pekerja tidak mampu bekerja dengan baik. Sektor tempat mereka bekerja juga sangat menentukan.

Ia juga menambahkan bahwa banyak usaha, terutama usaha kecil dan menengah, masih menggunakan teknologi produksi yang sederhana. “Tanpa dukungan teknologi dan manajemen produksi yang lebih baik, peningkatan produktivitas akan berjalan lambat,” tambahnya.

Mengapa bekerja keras saja tidak cukup?

Jika banyak orang bekerja lebih lama, tetapi produktivitas per jam tetap rendah, mungkin persoalannya bukan sekadar pada lamanya waktu kerja.

Deniey menilai salah satu tantangan lain berkaitan dengan hubungan antara pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. “Produktivitas di ekonomi modern sangat bergantung pada keterampilan teknis dan kemampuan menggunakan teknologi. Ketika keterampilan tenaga kerja tidak sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan industri, produktivitas sulit meningkat,” katanya.

Karena itu, menurutnya, peningkatan produktivitas tidak bisa sepihak hanya dibebankan pada pekerja. “Perlu upaya yang lebih luas, mulai dari peningkatan keterampilan tenaga kerja, investasi teknologi, sampai perubahan struktur ekonomi,” pungkasnya.

Jika jutaan orang sudah bekerja keras setiap hari tetapi produktivitas tetap rendah, mungkin persoalannya bukan hanya pada pekerjanya. Bisa jadi ada hal lain dalam cara kerja ekonomi yang belum berjalan optimal. Jadi, apakah bekerja lebih lama adalah jawabannya, atau justru sistem kerjanya yang perlu diperbaiki?

Editor: Yuniman Farid

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.