Harga Tiket Pesawat Naik, Pakar Prediksi Pariwisata Indonesia Makin Tertekan
GH News April 07, 2026 08:09 PM
Jakarta -

Pemerintah baru saja mengumumkan kenaikan harga tiket pesawat imbas perang Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran. Kondisi itu diprediksi berdampak signifikan buat pariwisata, terutama wisata domestik.

Perkiraan itu disampaikan oleh pengamat kebijakan publik pariwisata Profesor Azril Azhari dalam perbincangan dengan detikTravel, Selasa (7/4/2026).

Dia mengatakan kenaikan harga tiket pesawat akibat gejolak perang AS-Israel dan Iran tidak dapat dihindari karena harga avtur, yang menjadi komponen utama penerbagan, memang sedang tinggi. Selain itu, di saat bersamaan, daya beli masyarakat turun.

"Penurunan harga tiket hanya bisa terjadi jika harga avtur ikut turun," kata Azril.

Azril mengatakan saat ini, harga avtur di Indonesia tergolong paling tinggi. Nah, tingginya biaya avtur itu membuat maskapai asing enggan membuka rute langsung ke Indonesia dan memilih transit di negara lain dengan harga avtur lebih kompetitif.

Poin itu pula yang menurutnya membuat rute domestik justru terkadang lebih murah jika lewat Singapura atau Malaysia.

Tekanan terhadap harga tiket diperkirakan akan semakin berat dengan kebijakan global penggunaan Sustainable Aviation Fuel (SAF) mulai 2026. Bahan bakar ramah lingkungan ini bisa 6-10 kali lebih mahal dari avtur konvensional.

Azril memperingatkan implementasi SAF hingga 2030 akan menambah biaya penerbangan dan sulit bagi pemerintah menekan harga tiket.

Kondisi itu berdampak langsung pada perilaku wisatawan. Banyak masyarakat kini menahan diri untuk bepergian jauh dan memilih liburan di sekitar daerah asal, meninggalkan destinasi populer seperti Bali, Labuan Bajo, atau Raja Ampat.

Penurunan daya beli akibat mahalnya kebutuhan pokok dan biaya hidup tinggi membuat masyarakat semakin selektif dalam membelanjakan uang untuk liburan.

Fenomena di sektor pariwisata juga memperparah situasi. Di Bali, misalnya, meski jumlah wisatawan terbilang tinggi, tingkat hunian hotel resmi hanya sekitar 60 persen, sehingga kontribusi ekonomi terhadap negara tidak optimal.

"Jika tren ini berlanjut, daya saing pariwisata Indonesia akan semakin tertekan, baik dari sisi harga maupun kontribusi ekonomi," kata dia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.