Ares Faujian, Guru Sosiologi dari Manggar yang Mendunia Lewat Kekuatan Aksara
Asmadi Pandapotan Siregar April 07, 2026 09:21 PM

POSBELITUNG.CO, BELITUNG -- Sore itu, Selasa (7/4/2026), suasana di SMA Negeri 1 Manggar terasa tenang. Setelah menunaikan salat Asar berjamaah, seorang pria berseragam ASN tampak berjalan santai di tengah riuh siswa yang bersiap pulang. Ia adalah Ares Faujian (38), guru sosiologi yang namanya kini dikenal hingga tingkat internasional.

Dengan senyum ramah, Ares mengajak berbincang di ruang kerjanya. Dari sanalah terungkap perjalanan panjang seorang guru daerah yang mampu menembus panggung dunia lewat tulisan.

Selama 16 tahun mengabdi di sekolah tersebut, Ares menunjukkan bahwa keterbatasan geografis bukan penghalang untuk berprestasi. Salah satu pencapaian besarnya adalah lolos seleksi internasional beasiswa American Field Service (AFS) pada 2024.

"Waktu itu saya hanya coba-coba, menulis esai dalam bahasa Inggris. Ternyata lolos," ujarnya.

Beasiswa itu membawanya berdiskusi dengan guru-guru hebat dari Brazil, Meksiko, hingga Cina. Di sana, ia bukan hanya membawa nama SMAN 1 Manggar, tapi membawa wajah Indonesia ke panggung dunia.

Namun, di balik label Guru Mendunia, Ares tetaplah seorang yang membumi. Ia adalah putra Amiruddin Hamzah, seorang yang dulunya sempat menjadi pendidik juga. Darah guru mengalir di tubuhnya, meski Ares butuh waktu lama untuk menyadari bahwa senjatanya yang paling tajam adalah aksara aksara.

"Saya sebenarnya tidak bercita-cita jadi guru. Dulu saya pikir guru itu harus orang yang sangat pintar," ucap Ares.

Namun, garis hidup membawa Ares ke Universitas Negeri Yogyakarta, menempuh pendidikan Sosiologi, dan akhirnya kembali ke tanah kelahiran untuk mengabdi.

Uniknya, sebelum dikenal sebagai penulis hebat, Ares lebih dikenal sebagai sosok yang atletis. Ia sering berada di lapangan basket, hingga banyak yang mengiranya sebagai guru olahraga.

"Saya punya minat besar di olahraga, tapi jujur, saya tidak berbakat di sana," ungkapnya.

Kesadaran tersebut baru muncul pada tahun 2014. Ares yang mulai jenuh dengan rutinitas monoton mencoba menggoreskan pena.

Ares mulai menulis sebuah opini dan memberikannya kepada seorang teman untuk dinilai. Responnya mengejutkan, tulisan itu dianggap punya nyawa oleh temannya tersebut.

Sejak saat itu, jemari Ares tak pernah berhenti menulis. Ia menemukan bahwa bakat terpendamnya adalah merangkai kata.

Fakta unik bahwa tulisan pertama Ares rilis di Pos Belitung dan sejak saat itu, naskah-naskahnya hampir tak pernah ditolak oleh media massa. Ia telah berubah menjadi seorang pendidik sekaligus penulis yang produktif.

"Bakat itu titipan Tuhan. Saya sadar punya bakat menulis, maka saya paksa diri saya untuk berminat di sana. Kalau punya bakat tapi tidak diasah, itu sia-sia," ujar Ares.

Prinsip inilah yang kemudian ia tularkan kepada murid-muridnya di kelas Sosiologi. Melalui program Sosio-literasi ia menantang siswanya untuk menulis di media massa.

Ares ingin murid-muridnya memiliki bekal menulis sebelum terjun ke dunia perkuliahan. Hasil dari dedikasi ini pun membawanya menjadi Juara 3 Nasional Guru Dedikatif dan Inovatif tahun 2020.

Area merasa menulis dan mengajar adalah seperti dua sisi koin yang tak terpisahkan. Ia mengajar untuk mendapatkan inspirasi dari fenomena sosial siswa, sementara ia menulis untuk mempertajam metode mengajarnya.

Kedua hal tersebut saling mengunci, membentuk identitas Ares sebagai guru muda yang terus bertumbuh.

Meski namanya sudah harum di tingkat nasional hingga internasional, Ares masihlah seorang manusia yang paham artinya kegagalan. Satu di antara kegagalan yang ia ceritakan adalah saat melihat seorang siswanya putus sekolah.

"Ketika ada siswa berhenti sekolah, saya merasa gagal sebagai pendidik. Padahal kita sudah bujuk, sudah persuasif," ucapnya.

Ares menyadari bahwa sebagai guru ia hanyalah satu pilar dalam Tripusat Pendidikan bersama keluarga dan masyarakat.

Kini, di sela kesibukannya mengajar, Ares tengah menyiapkan karya baru yang lebih personal. Sebuah buku kumpulan puisi berjudul Belitong Puake. Nama itu diambil dari bahasa lokal yang berarti bertuah atau keramat.

Melalui puisi, Ares ingin memotret Belitung dengan cara yang lebih puitis dan emosional.

Ares sendiri terinspirasi dari Andrea Hirata, namun gaya tulisan Ares tetaplah orisinal, sebuah gaya jurnalistik sastrawi yang fleksibel.

Ares mengatakan bisa menjadi guru yang sangat formal di kelas, namun menjadi penyair yang sangat bebas saat dihadapkan pada media tulisan.

Saat ditanya tentang pujian yang datang, Ares hanya berucap syukur.

"Saya hanya pohon yang berusaha tumbuh. Di atas sana masih ada langit, masih ada orang-orang yang lebih hebat. Prestasi ini hanya titipan untuk menebar inspirasi," ungkapnya.

Ares juga mengambil teladan dari sosok Bu Muslimah, guru legendaris dari Gantung. Dari beliau, Ares belajar bahwa mengajar adalah soal keikhlasan hati.

Sore semakin larut di SMAN 1 Manggar. Ares merapikan duduknya, bersiap untuk pulang. Ia mungkin akan kembali berhadapan pada layar laptop untuk menuntaskan bait puisi terbarunya.

Pesan terakhirnya untuk para pembaca, terutama generasi muda di Pulau Belitung, adalah tentang penemuan jati diri. Ares mengingatkan bahwa setiap orang punya potensi yang sering kali terkubur karena tidak adanya keberanian untuk mencoba hal baru.

"Temukan bakatmu, dan jika itu bakatmu, kawinkan dia dengan minat. Bakat dan minat akan menghasilkan potensi yang luar biasa," pesannya.

Ares telah membuktikan bahwa guru sosiologi dari kota kecil bisa bersuara hingga ke tingkat dunia melalui dahsyatnya kata-kata. Ares telah melakukannya, dan ia ingin murid-muridnya melakukan hal yang sama.

Ares Faujian telah menunjukkan jalannya, bahwa dari ruang kelas yang sederhana, seorang guru muda bisa mengguncang dunia dengan aksara. Ia adalah bukti bahwa bakat yang dikawinkan dengan kerja keras akan membuahkan hasil yang manis. 

Beberapa prestasi Ares Faujian:

Tingkat Internasional:

  • American Field Service (AFS) Scholarship - Awardee dalam Program AFS Global STEM Educators Tahun 2024

Tingkat Nasional:

  • Terbaik III Nasional Guru Dedikatif dan Inovatif oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 2020.
  • Apresiasi menjadi Agen Penguatan Karakter (APK) dari Pusat Penguatan Karakter (PUSPEKA) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 2020.
  • Anugerah Pegiat Literasi "Parasamya Suratma Nugraha" dari Yayasan Komunitas Pengajar Penulis Jawa Barat Tahun 2021.
  • Penghargaan "10 Penulis Terbaik" Kompetisi Menulis Opini Tingkat Nasional oleh Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) Tahun 2022.
  • Satyalancana Karya Satya X Tahun dari Presiden Republik Indonesia Tahun 2022
  • Penghargaan "Guru Inovatif" oleh Penerbit Erlangga Tahun 2023.

Tingkat Regional:

  • Lulus seleksi dan dipilih sebagai Fasilitator Literasi Baca-Tulis Tk. Regional Sumatra oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 2019.

Tingkat Provinsi:

  • Finalis Sayembara "Jurnalis Menulis" Kantor Bahasa Kep. Bangka Belitung Tahun 2019.
  • Guru Inti Programme for International Student Assessment (PISA) dan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) Prov. Kep. Bangka Belitung 2020.
  • Terbaik III Guru Inovatif Prov. Kep. Bangka Belitung oleh Balai Guru Penggerak Prov. Kep. Bangka Belitung Tahun 2023.

(Posbelitung.co/Kautsar Fakhri Nugraha)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.