Jejak Laksamana Cheng Hoo hingga Berdirinya Masjid Ikonik di Surabaya
Dwi Prastika April 07, 2026 09:32 PM

TRIBUNMADURA.COM, SURABAYA – Sosok Laksamana Cheng Hoo atau Zheng He (1371-1435) dikenal sebagai pelaut legendaris sekaligus tokoh Muslim berpengaruh dalam sejarah dunia, Selasa (7/4/2026).

Dikutip dari laman disperpusip.jatimprov.go.id, Cheng Hoo memiliki nama asli Ma He, berasal dari marga “Ma” (Muhammad) dan lahir dari keluarga Muslim etnis Hui di wilayah Xi Yu, yang kini termasuk Xinjiang, sebelum akhirnya menetap di Kunming, Provinsi Yunnan, Tiongkok.

Sejak kecil, Cheng Hoo dikenal cerdas, rendah hati, serta memiliki visi luas.

Ia merupakan keturunan keluarga terpandang, di mana ayahnya Ma Hazhi dikenal sebagai sosok bijak dan dermawan.

Kakek dan ayahnya bahkan telah menunaikan ibadah haji ke Makkah, sehingga mendapat gelar kehormatan “Hazhi.”

Karier Cheng Hoo semakin menanjak setelah bergabung dalam pasukan di bawah pimpinan Zhu Di, yang kemudian menjadi Kaisar Dinasti Ming.

Atas jasanya dalam berbagai pertempuran, Ma He dianugerahi nama “Zheng” oleh Kaisar Zhu Di dan diangkat sebagai kasim penting di lingkungan istana.

Baca juga: Sejarah Masjid Al Baitul Amien, Ikon Religi Kabupaten Jember

Tujuh Pelayaran Besar Selama 28 Tahun

Pada tahun 1405, Cheng Hoo memulai ekspedisi besar atas perintah Kaisar Dinasti Ming.

Ia memimpin armada raksasa dalam pelayaran yang dikenal sebagai “Tujuh Kali Mengarungi Samudra Hindia.”

Selama kurun waktu 28 tahun (1405-1433), ia memimpin lebih dari 27.800 awak kapal dengan ratusan armada besar.

Misi utamanya meliputi diplomasi, perdagangan, serta mempererat hubungan antarbangsa di kawasan Asia hingga Afrika.

Armada Cheng Hoo tercatat menjelajahi lebih dari 50 wilayah kerajaan dan membuka lebih dari 40 jalur pelayaran baru.

Total jarak tempuhnya mencapai lebih dari 160.000 mil laut atau sekitar 296.000 kilometer.

Keberhasilan ini menempatkan Cheng Hoo sebagai salah satu pelaut terbesar dalam sejarah, bahkan lebih awal dibandingkan penjelajahan Christopher Columbus, Vasco da Gama, maupun Ferdinand Magellan.

Peran dalam Penyebaran Islam di Nusantara

Dalam pelayarannya, Cheng Hoo juga singgah di sejumlah wilayah Nusantara, seperti Kerajaan Majapahit di Jawa, Palembang, hingga Samudra Pasai di Aceh.

Kota Semarang dan Surabaya menjadi dua pelabuhan penting yang kerap disinggahinya.

Catatan dari Ma Huan, seorang Muslim yang turut serta dalam ekspedisi, menyebutkan adanya komunitas Muslim Tionghoa di Jawa pada awal abad ke-15.

Hal ini menjadi bukti awal keberadaan Muslim Tionghoa di Indonesia.

Ulama besar Indonesia, Buya Hamka, dalam tulisannya tahun 1961 juga menegaskan bahwa nama Cheng Hoo memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan Islam di Indonesia dan kawasan Melayu.

Baca juga: Sejarah dan Pengertian Ludruk, Teater Rakyat Khas Jawa Timur

Masjid Cheng Hoo Surabaya, Simbol Akulturasi Budaya

Sebagai bentuk penghormatan atas jasa Laksamana Cheng Hoo, dibangun Masjid Muhammad Cheng Hoo di Surabaya, Jawa Timur.

Dilansir dari laman tribunvideo.com, masjid ini terletak di Jalan Gading, Ketabang, Kecamatan Genteng, tidak jauh dari Balai Kota Surabaya.

Masjid ini didirikan atas prakarsa Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia Jawa Timur, serta tokoh masyarakat Tionghoa.

Pembangunan dimulai pada 15 Oktober 2001, bertepatan dengan peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW, dan selesai pada Oktober 2002. Masjid ini diresmikan pada 13 Oktober 2002.

Bangunan masjid berdiri di atas lahan seluas 3.070 meter persegi dengan kapasitas sekitar 200 jamaah.

Arsitekturnya merupakan perpaduan gaya Arab dan Tiongkok, terinspirasi dari Masjid Niu Jie di Beijing yang berdiri sejak tahun 996 Masehi.

Baca juga: Sejarah Masjid Jamik Sumenep, Mulai dari Keraton sampai Menjadi Ikon Religi

Filosofi Arsitektur Sarat Makna

Masjid Cheng Hoo memiliki ciri khas warna merah, kuning, biru, dan hijau yang melambangkan kebahagiaan, kemasyhuran, harapan, dan kemakmuran.

Atapnya berbentuk pagoda bertingkat tiga dengan lafaz Allah di puncaknya.

Unsur filosofis juga terlihat dari ukuran bangunan utama 11 x 9 meter, yang melambangkan ukuran Kabah dan Wali Songo, serta delapan sisi bangunan yang mencerminkan angka keberuntungan dalam budaya Tionghoa.

Selain itu, desain tanpa pintu melambangkan keterbukaan, sementara jumlah anak tangga merepresentasikan rukun Islam dan rukun iman.

Warisan Sejarah yang Terus Dikenang

Hingga kini, jejak pelayaran Cheng Hoo masih dapat ditelusuri di berbagai wilayah yang pernah disinggahinya. 

Sosoknya dikenang sebagai pelaut ulung, diplomat perdamaian, sekaligus penyebar nilai-nilai Islam.

Masjid Cheng Hoo Surabaya pun menjadi simbol akulturasi budaya dan bukti kuat hubungan historis antara Tiongkok dan Nusantara yang telah terjalin sejak berabad-abad silam.

Baca juga: Jejak Sejarah Masjid Istiqlal Jakarta yang Lahir dari Semangat Kemerdekaan

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.