TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – RSUD Raden Mattaher Jambi mencatat peningkatan jumlah pasien campak sejak awal 2026.
Kasus penyakit tersebut dilaporkan terus mengalami kenaikan dari bulan ke bulan.
Wakil Direktur Pelayanan RSUD Raden Mattaher, Anton Tri Hartanto, mengungkapkan bahwa pada Januari 2026 terdapat tiga pasien campak yang dirawat.
Jumlah itu kemudian meningkat menjadi sekitar empat pasien pada Februari, dan bertambah menjadi tujuh pasien pada Maret.
Sementara pada awal April ini, pasien yang dirawat mencapai sembilan orang.
“Total 20 lebih pasien yang kita rawat,” katanya, saat ditemui Tribunjambi.com di ruang kerjanya, Selasa (7/4/2026).
Ia menyebutkan, mayoritas pasien merupakan rujukan dari sejumlah wilayah di sekitar Kota Jambi, seperti Muaro Jambi, Batang Hari, hingga Tanjung Jabung.
Untuk mengantisipasi peningkatan kasus, pihak rumah sakit telah menyiapkan ruang isolasi sejak ditemukannya kasus pertama.
“Saat menemukan tiga kasus di Januari, kita sudah menyiapkan ruang isolasi dan ruang penanganan apabila pasien memburuk,” tuturnya.
Anton menjelaskan, RSUD Raden Mattaher telah menyiapkan satu bangsal khusus untuk penanganan pasien campak.
Fasilitas tersebut mencakup ruang isolasi bagi pasien dengan gejala ringan hingga sedang, serta ICU isolasi untuk pasien dengan kondisi berat yang membutuhkan bantuan pernapasan.
“Strateginya, kita siapkan dua sistem. Isolasi untuk pasien ringan sampai sedang, dan ICU isolasi untuk pasien yang membutuhkan alat bantu napas. Insyaallah kita siap menangani,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagian besar pasien yang dirawat telah menunjukkan perkembangan positif dan diperbolehkan pulang untuk melanjutkan perawatan jalan.
“Alhamdulillah sebagian besar pasien sudah kita nyatakan pulang dan sembuh,” terangnya.
Selain itu, kasus campak yang ditemukan saat ini didominasi oleh anak-anak.
Meski demikian, masyarakat diminta untuk tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan.
Masyarakat diimbau untuk mengenali gejala campak sejak dini, seperti demam, batuk, mata merah, serta munculnya ruam pada kulit.
“Yang paling penting masyarakat harus mengenali gejalanya.
"Kalau ada demam, batuk, mata merah, dan ruam, segera lakukan isolasi mandiri dan jangan beraktivitas di tempat umum,” imbaunya.
Anton juga mengingatkan bahwa campak mudah menular melalui droplet, sehingga pasien yang masih dalam kondisi menular berpotensi menyebarkan penyakit ke orang lain.
“Jangan sampai pasien dibawa keluar rumah saat masih infeksius, karena bisa menularkan ke lingkungan sekitar,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala campak, agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Ia juga menekankan pentingnya imunisasi sebagai langkah utama pencegahan.
“Imunisasi sangat berpengaruh dalam mencegah campak. Bahkan ada teori yang menyebutkan perlunya booster,” ucapnya.
Terkait masa perawatan, Anton menyebutkan pasien campak umumnya membutuhkan waktu pemulihan sekitar satu hingga dua minggu, tergantung kondisi masing-masing.
“Rata-rata pasien yang kita rawat itu sekitar satu sampai dua minggu, tergantung kondisi masing-masing pasien,” pungkasnya.
(Tribunjambi.com/Syrillus Krisdianto)
Baca juga: Satu Anak Dilarikan ke IGD akibat Kebakaran di Kenali Besar Tadi Sore
Baca juga: Al Haris Bingung soal Biaya Pulang Korban Scam Kamboja sebab Muncul Angka Baru
Baca juga: Perjuangan Wiwin Hapus Stigma Eks Lokalisasi Payo Sigadung: Saya Cinta Kampung Ini