MANGGAR, BABEL NEWS - Mengenakan seragam batik sekolah dan hijab putih, Vellysia Dwi Ananda (15) melangkah masuk ke ruang kepala SMPN 2 Manggar secara santun, Selasa (7/4/2026).
Vellysia lalu menyalami para guru yang hadir sebelum akhirnya duduk di sofa ruangan kepsek.
Saat itu, waktu menunjukkan pukul 09.30 WIB. Vellysia dan rekan-rekannya sesama siswa kelas 9 SMPN 2 Manggar baru saja menyelesaikan tes kemampuan akademik (TKA) sebagai asesmen terstandar.
Vellysia memiliki impian yang sama dengan teman-teman sebayanya di Manggar, yaitu melanjutkan pendidikan ke SMAN 1 Manggar jika nanti lulus dari SMP.
Namun, langkahnya menuju sekolah tersebut kini dibarengi oleh regulasi baru yang belum pernah ia dengar sebelumnya.
Adanya kebijakan yang memastikan calon siswa otomatis diterima pada jalur domisili dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 jika tinggal dalam radius 200 meter dari sekolah, cukup mengagetkan Vellysia.
Sebagai remaja yang tinggal sekitar 5 kilometer dari SMAN 1 Manggar, ia merasa kebijakan tersebut seolah membangun tembok tinggi bagi mimpinya.
"Menurut saya pribadi aturan itu kayaknya bakal memberatkan siswa yang jarak rumahnya agak jauh dari sekolah," kata Vellysia kepada Pos Belitung.
Vellysia lebih menyukai sistem seleksi. Sebab, baginya tantangan dalam berkompetisi memberikan kesan semangat dalam dirinya sebagai siswi.
"Kalau menurut saya mending seleksi dulu, bukan bermaksud ingin bersaing, tetapi supaya ada semangat dalam berkompetisi dalam hal baik," ujarnya.
Vellysia sendiri memiliki disiplin belajar yang ketat di rumah. Setiap malam, dia selalu belajar di kamarnya.
Ia bahkan memiliki standar waktu sendiri, yaitu minimal 75 menit setiap malam dia habiskan untuk mengulang materi pelajaran.
Usaha tersebut menjadi modal yang Vellysia harapkan dapat membawanya masuk ke sekolah impian.
Kekhawatiran Vellysia adalah jika kuota jalur prestasi sangat sedikit. Padahal, menurutnya, jalur prestasi menjadi harapan bagi calon siswa yang berdomisili jauh dari sekolah tujuan.
Ia khawatir, meski sudah belajar "berdarah-darah", namanya nanti akan tetap terdepak dan gagal masuk ke SMAN 1 Manggar.
"Adalah sedikit khawatir, soalnya bisa jadi tahun ini banyak yang lewat jalur prestasi," tutur Vellysia.
Jika gagal masuk ke SMAN 1 Manggar, satu-satunya alternatif Vellysia adalah beralih ke sekolah menengah kejuruan (SMK), sebuah pilihan yang belum tentu sejalan dengan cita-citanya.
Meski begitu, Vellysia tidak akan menyerah mengejar sekolah tujuannya.
Ia menyatakan aturan baru tersebut tidak akan mengurangi semangat belajarnya.
"Masih tetap semangat, masih terus belajar. Itu enggak akan banyak memengaruhi saya untuk terus belajar," ujarnya. (z1)