Perang Israel Iran: Ujian Moderasi Berislam
Abdul Azis Alimuddin April 08, 2026 01:20 AM

Oleh: Muammar Bakry
Rektor Universitas Islam Makassar (UIM)

TRIBUN-TIMUR.COM - Konflik yang terjadi di Timur Tengah dipicu oleh politik penjajahan yang dilakukan Zionis Israel dengan mengeksploitasi penguasaan wilayah melalui strategi taktik militer, aliansi diplomatik, dan penguasaan teritorial yang terus diperluas.

Israel terus melakukan penjajahan kepada Bangsa Palestina dengan pendudukan wilayah, perluasan pemukiman ilegal di Tepi Barat, dan blokade bahkan genozida kepada rakyat Gaza.

Tindakannya telah mengakibatkan ribuan warga sipil Gaza gugur, pengungsian besar-besaran, dan pengepungan wilayah secara sepihak.

Amerika Serikat sekutu utama Israel, memberikan dukungan kuat melalui bantuan militer, ekonomi, dan perlindungan diplomatik di kawasan Timur Tengah.

Negara-negara arab yang bersekutu dan "berlindung" ke Amerika Serikat karena faktor keamanan, ekonomi, dan geopolitik yang kompleks, dipastikan tidak berani mengotak-atik kebijakan Israel.

Sekejam apapun yang dilakukan Israel kepada warga Palestina dan sejahat apapun yang dilakukan untuk menodai tempat suci umat Islam yakni Masjid al-Aqsha, bagi negara Arab yang pro Amerika tidak akan pernah peduli pada tindakan itu.

Negara-negara yang dulu pemerintahnya berseberangan dengan Amerika seperti Libiya, Irak telah dieksekusi secara militer.

Kini giliran Iran yang digempur, namun masih memperlihatkan kemampuan militernya yang terus membalas serangan ke pangkalan Amerika yang ada di negara-negara teluk terutama ke wilayah Israel.

Selain Iran, ada kelompok bersenjata berbasis ideologi yang eksis pada perjuangan pembebesan Palestina seperti Hamas, Hizbullah lalu terakhir dibantu oleh Hauthi.

Sekalipun tidak dibackup oleh negaranya masing-masing, tapi masih melakukan perlawanan meski secara sporadis.

Kekuatan inilah yang mengganggu kepentingan Israel dan Amerika di wilayah teluk, selanjutnya bagi Israel dan Amerika, mereka dicap sebagai teroris.

Propaganda Amerika dalam memecah persatuan negara-negara arab bahkan dunia Islam berhasil dijalankan dengan baik melalui taktik adu domba dalam regional kawasan teluk.

Iran digambarkan sebagai ancaman bagi negara-negara teluk, dengan alasan kepemilikan senjata nuklir yang mengancam stabilitas kawasan.

Kepentingan Amerika sebagai pemasok alutsista kepada negara-negara arab yang kaya minyak, dapat berjalan mulus jika propaganda bahaya laten Iran terus diasumsikan.

Perpecahan itu lebih mudah dan lebih langgeng jika sentimen Sunni-Syiah menjadi akar benturan berbasis sektarian yang terus dipelihara.

Sudah maklum jika dua basis ideologi ini semakin meruncing, masing-masing berkeras dalam sikap yang ekstrim, menjadi hal yang paling efektif memupuk pertikaian antar negara-negara teluk bahkan negara-negara muslim lainnya.

Pihak Barat sangat memahami secara literatif, bahwa potensi pertikaian berbasis ideologi dapat menjadi sumbu yang menyala dan sulit dipadamkan.

Barat dan Amerika berkepentingan untuk memelihara kelompok Sunni ekstrim yang tidak pernah melihat baik apapun yang dilakukan oleh orang-orang Syiah.

Sebagaimana Barat dan Amerika memelihara kelompok Syiah ekstrim yang tidak pernah melihat baik apapun yang dilakukan orang-orang Sunni.

Kesimpulannya, mereka menyiapkan panggung, lalu dua sekte ini menari dalam tabuhan genderang Barat dan Amerika dalam perang teologis dan geopolitik yang tak henti.

Santer, yang paling getol medakwahkan kesesatan Syiah yaitu kelompok yang dikenal dengan “salafi”, mereka memandang ajaran Syiah yang dianut Iran sebagai ajaran yang menyimpang.

Akibat pandangan tersebut, mereka enggan membela Iran, meskipun Iran melawan Amerika dan Israel.

Iran bagi mereka sebagai musuh yang lebih berbahaya daripada zionis.

Bahkan tuduhan yang tak berdasar fakta saat ini, bahwa Iran (Syiah) selalu diidentikkan sebagai bagian yang tak dapat dipisahkan dengan Yahudi (Israel).

Meski ada benang merah secara literatur di awal kemunculan sekte sekte dalam Islam, tapi realitasnya justru yang manut kepada Amerika terutama Israel adalah negara-negara yang tumbuh subur ajaran salafi dalam hal ini biasa disebut dengan “Wahabi”.

Hanya sikap “moderat” (wasathiyah) yang bisa mencari titik persamaan Syiah-Sunni, apalagi jika diperhadapkan dengan musuh bersama.

Baitul Maqdis atau secara umum Palestina, akan selalu menjadi tempat ujian hingga mendekati hari kiamat, demikian petikan sebuah riwayat.

Tempat ini menguji keimanan seseorang pada peristiwa Isra’ Mi’raj, menguji peralihan kiblat sebelum dipindahkan ke Ka'bah, menguji solidaritas umat Islam dan umat manusia di seluruh dunia, dan juga menguji moderasi beragama umat Islam. Silahkan uji moderasi keislaman kita pada perang Israel-Iran.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.