Dampak Ketegangan Geopolitik Global, Rupiah Tembus 17.105 Per Dolar AS, Nilai Tukar Melemah
Putu Dewi Adi Damayanthi April 08, 2026 09:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan rekor pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa 7 April 2026, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global. 

Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 17.105 per dolar AS, melemah 0,42 persen dibandingkan posisi Senin 6 April 2026 di Rp 17.035 per dolar AS.

Senasib, rupiah pada Jakarta Interbank Spot Dollar Index (Jisdor) pada level Rp 17.092 per dolar AS atau melemah 0,32 persen dari posisi kemarin Rp 17.037.

Penguatan dolar AS terjadi di tengah meningkatnya permintaan aset safe haven, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah dan penutupan Selat Hormuz oleh Iran, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan energi global.

Baca juga: Pedagang Kecil Di Gianyar Bali Menjerit, Harga Plastik Naik Dampak Perang Timur Tengah

Pelaku pasar juga mencermati tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump kepada Iran untuk membuka kembali jalur tersebut, dengan ancaman serangan terhadap infrastruktur jika tidak dipenuhi. 

Melansir Reuters, Indeks dolar AS tercatat naik tipis 0,05 persen ke level 100,03, mendekati puncak pekan lalu di 100,64 yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2025.

Presiden Spectra Markets Brent Donnelly menilai, pasar saat ini cenderung mengambil posisi menguat pada dolar AS sebagai antisipasi eskalasi lebih lanjut. 

“Pasar cenderung overweight dolar AS jika konflik meningkat. Namun, pergerakan saham, emas, dan yuan offshore masih cukup kuat sehingga menahan kenaikan dolar lebih lanjut,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketidakpastian masih sangat tinggi sehingga sulit membuat proyeksi yang akurat dalam jangka pendek. 

Di pasar global, yen Jepang melemah ke level 159,80 per dolar AS, mendekati titik terendah dalam beberapa dekade yang sebelumnya memicu intervensi pada 2024. 

Sementara itu, won Korea Selatan bertahan di atas level 1.500 per dolar AS—level yang sebelumnya hanya terjadi saat krisis 1998 dan 2009.

Kepala riset valas dan komoditas Commerzbank, Thu Lan Nguyen, menilai Iran kini menunjukkan kendali penuh atas Selat Hormuz dan berpotensi memanfaatkannya untuk kepentingan jangka panjang. 

“Semakin jelas bahwa Iran berniat menggunakan kendali atas Selat Hormuz untuk kepentingan strategisnya,” ujarnya.

Sementara itu, konflik masih terus berlanjut. Iran dan Israel saling melancarkan serangan pada Selasa, dengan Israel mengklaim telah menyasar infrastruktur pemerintah Iran. 

Sistem pertahanan juga dilaporkan berhasil mencegat rudal Iran di wilayah Israel dan Arab Saudi.

Di sisi lain, euro relatif stabil di level US$1,1535, di tengah ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa (ECB) hingga tiga kali sebelum akhir tahun.

Analis Commonwealth Bank of Australia menilai dolar AS masih berpotensi melemah terbatas jika ada optimisme penyelesaian konflik. 

Namun, faktor kunci tetap pada pembukaan kembali Selat Hormuz. 

“Yang terpenting bagi ekonomi global dan mata uang adalah apakah Selat Hormuz kembali dibuka. Keluarnya AS dari konflik tidak otomatis membuka jalur tersebut,” tulis analis tersebut.

Dengan kondisi ini, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih berlanjut seiring tingginya ketidakpastian global dan meningkatnya permintaan terhadap dolar AS sebagai aset lindung nilai utama. (kontan)

BI Intervensi Pasar Valas

Bank Indonesia (BI) telah melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah di pasar spot dan forward non-deliverable.  

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti kepada Reuters mengatakan, intervensi ini dilakukan setelah rupiah mencapai rekor terendah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

“Menstabilkan rupiah tentu menjadi prioritas utama kami saat ini. Kami akan menggunakan setiap instrumen dan kebijakan yang kami miliki, kami akan mengerahkan semua upaya,” katanya, Selasa 7 April 2026.

Destry menambahkan bahwa tekanan pada mata uang tersebut sebagian besar disebabkan oleh dinamika global, termasuk reaksi pasar terhadap perang AS-Israel di Iran.

Destry mengatakan, BI melakukan intervensi di pasar mata uang spot dan forward non-deliverable, dan siap membeli obligasi pemerintah di pasar sekunder jika diperlukan. 

Otoritas juga akan berupaya meningkatkan arus masuk dengan meningkatkan daya tarik sertifikat berdenominasi rupiah yang dikenal sebagai SRBI.

Ia mengatakan pelemahan rupiah pasti akan berdampak negatif pada aktivitas ekonomi, meskipun harga komoditas utama yang lebih tinggi akan membantu mengimbangi dampak tersebut. (kontan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.