TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Masuk masa peralihan musim, BMKG memparakirakan sejumlah wilayah di Indonesia masih diguyur hujan sejak 7 April hingga 13 April 2026.
Pada periode 2 – 5 April 2026, BMKG mendata curah hujan tertinggi dengan intensitas sangat lebat terpantau masih terjadi di sejumlah wilayah.
Kondisi ini dipengaruhi oleh masih aktifnya gelombang atmosfer seperti Rossby Ekuatorial, Kelvin, dan Mixed Rossby-Gravity (MRG) di beberapa wilayah, serta fenomena MJO yang melintasi sebagian besar Sumatra.
Masa peralihan dari Monsun Asia ke Monsun Australia juga turut membentuk pola sirkulasi udara dan daerah konvergensi di sejumlah wilayah.
Baca juga: BMKG Sebut Musim Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering dan Berlangsung Lebih Panjang
Faktor lain seperti perlambatan angin dan pemanasan permukaan yang cukup kuat pada siang hari semakin mendukung pertumbuhan awan-awan konvektif yang berpotensi menimbulkan hujan.
Di sisi lain, terpantau adanya sirkulasi siklonik di Perairan barat daya Aceh, Samudra Hindia barat daya Lampung, Laut Banda, dan Laut Arafuru yang memicu terbentuknya daerah pertemuan angin, konvergensi, dan konfluensi yang dapat meningkatkan pertumbuhan awan hujan, baik di sekitar pusat sirkulasi maupun di sepanjang wilayah yang terdampak pola angin tersebut.
Dalam sepekan ke depan, kondisi cuaca di Indonesia masih dipengaruhi oleh dinamika atmosfer skala global, regional, dan lokal.
Pada skala regional, Monsun Australia terpantau semakin menguat dan diprakirakan masih akan terus menguat dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini mendorong peningkatan massa udara dari Australia menuju Indonesia yang umumnya bersifat lebih kering.
Baca juga: BMKG Sebut NTT Mulai Masuk Musim Kemarau pada April 2026, Petani Diimbau Pilih Varietas Hemat Air
Analisis angin zonal menunjukkan dominasi angin timuran di sebagian besar wilayah Indonesia, yang mengindikasikan bahwa sejumlah wilayah mulai mengalami masa peralihan menuju musim kemarau.
Dinamika atmosfer lain masih turut memengaruhi potensi hujan di sebagian wilayah di Indonesia. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan melintasi sebagian besar wilayah Sumatera, sebagian Kalimantan Barat, dan sebagian Papua, sehingga berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.
Selain itu, Gelombang Rossby Equatorial yang berpropagasi ke arah barat juga diprakirakan aktif melintasi sebagian wilayah Sumatra, Jawa, Bali, NTB, NTT, dan sebagian wilayah Pulau Papua. Sementara itu, Gelombang Kelvin yang berpropagasi ke arah timur diprakirakan turut aktif dan melintasi sebagian besar wilayah Sumatra.
Selain faktor tersebut, sirkulasi siklonik juga berpotensi terbentuk di Laut Cina Selatan, Perairan utara Aceh, Samudra Hindia barat daya Lampung, Laut Jawa, Laut Sulawesi, dan Laut Banda. Sistem-sistem ini membentuk daerah konvergensi dan konfluensi yang berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut.
Pada skala lokal, labilitas atmosfer juga terpantau cukup kuat di sejumlah wilayah, yang turut mendukung proses konvektif. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatra Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, Papua Tengah, Papua, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Dinamika atmosfer yang masih signifikan dalam beberapa hari ke depan, BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat memicu bencana hidrometeorologi.
Sumber: bmkg.go.id