TRIBUNPADANG.COM, SOLOK SELATAN - Kabupaten Solok Selatan kini tidak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran atau hinterland di Sumatera Barat.
Solok Selatan sedang dipersiapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis agroindustri dan pelestarian lingkungan atau ekonomi hijau.
Transformasi ini menjadi fokus utama dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027 yang digelar di Aula Sarantau Sasurambi.
Langkah ini menandai pergeseran paradigma pembangunan yang lebih berkelanjutan di wilayah selatan provinsi tersebut.
Gubernur Sumatera Barat, dalam sambutan yang dibacakan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Firdaus Firman, menegaskan bahwa Solok Selatan memiliki prasyarat yang kuat untuk menjadi motor penggerak ekonomi baru.
Baca juga: Mayoritas Daerah Berawan, Simak Prakiraan Cuaca 7 Kota Sumatera Barat Hari Ini 8 April 2026
Penyelarasan kebijakan antara pemerintah pusat, provinsi, dan daerah menjadi kunci utama.
Strategi besar pertama yang diusung adalah transisi energi. Pemerintah mendorong pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai pilar utama penyediaan energi di kawasan perdesaan dan zona industri.
Penggunaan energi terbarukan ini diharapkan dapat menekan emisi sekaligus menciptakan kemandirian energi di tingkat lokal.
Langkah ini dinilai taktis mengingat topografi Solok Selatan yang kaya akan paparan sinar matahari namun memiliki beberapa wilayah yang sulit dijangkau jaringan listrik konvensional secara maksimal. Dengan energi hijau, biaya operasional industri kecil di desa-desa diharapkan dapat ditekan.
Pilar kedua dalam strategi ini adalah penghentian ekspor bahan mentah. Solok Selatan selama ini dikenal sebagai produsen kopi arabika, madu hutan, talas, hingga pinang. Namun, nilai tambah dari komoditas tersebut seringkali dinikmati oleh pihak luar karena dijual tanpa pengolahan.
Ke depan, pemerintah akan mendorong pembangunan unit pengolahan mini (mini plant). Menariknya, pengelolaan industri hilir ini tidak diserahkan kepada korporasi besar semata, melainkan melalui pemberdayaan Koperasi dan Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag).
Konsep ini bertujuan agar perputaran uang tetap berada di desa. Petani tidak lagi sekadar menjadi buruh tanam, tetapi juga bagian dari ekosistem industri olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar nasional maupun internasional.
Selain aspek industrialisasi, pemerintah tetap menempatkan kelestarian alam sebagai fondasi utama. Sebagai daerah yang berada di kaki Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), Solok Selatan memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga bentang alam dan sumber daya air.
Kawasan hutan yang luas tidak hanya dipandang sebagai paru-paru dunia, tetapi juga diproyeksikan sebagai pusat edukasi lingkungan. Ekowisata dan penelitian berbasis hutan rakyat akan menjadi bagian dari portofolio ekonomi hijau daerah tersebut.
Musrenbang kali ini juga menekankan pentingnya akurasi kebijakan. Firdaus Firman menyebutkan bahwa perencanaan harus benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat.
Tanpa sinkronisasi yang tepat, potensi besar yang dimiliki Solok Selatan dikhawatirkan hanya akan menjadi catatan di atas kertas.
Baca juga: Kerangka Diduga Korban Galodo di Salareh Aia Barat Agam Dievakuasi ke RSUD Lubuk Basung
"Potensi yang dimiliki Solok Selatan sangat jelas menunjukkan arah masa depan daerah ini. Kita harus memastikan setiap program memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan," ujar Firdaus dilansir resmi, Rabu (8/4/2026).
Namun, ambisi ekonomi hijau ini mustahil tercapai tanpa kesiapan sumber daya manusia (SDM). Pemerintah Provinsi Sumatera Barat mengingatkan bahwa pembangunan fisik dan ekonomi harus berjalan beriringan dengan perbaikan kualitas hidup masyarakatnya.
Salah satu indikator yang menjadi sorotan adalah percepatan penanganan tengkes atau stunting. Tenaga kerja yang kompeten di bidang agroindustri hanya bisa lahir dari generasi yang tumbuh sehat dan mendapatkan akses pendidikan yang layak.
Merespons arahan tersebut, Wakil Bupati Solok Selatan, Yulian Efi, menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk menerjemahkan strategi besar tersebut ke dalam program kerja yang konkret.
Ia optimistis bahwa visi ekonomi hijau akan membawa Solok Selatan keluar dari bayang-bayang daerah tertinggal di masa lalu.
Baca juga: Gempa Magnitudo 2,5 Guncang Wilayah Pariaman Selasa Malam
Pemerintah Kabupaten kini mulai memetakan wilayah-wilayah potensial yang akan menjadi proyek percontohan integrasi antara PLTS dan unit pengolahan komoditas unggulan. Dukungan dari masyarakat dan pelaku usaha lokal sangat dinantikan untuk mewujudkan ambisi ini.
Dengan sisa waktu persiapan menjelang 2027, tantangan terbesar terletak pada konsistensi implementasi. Transformasi menuju ekonomi hijau memerlukan investasi yang tidak sedikit, baik dari segi pendanaan maupun komitmen politik jangka panjang.
Jika strategi ini berhasil, Solok Selatan bukan hanya akan menjadi lumbung pangan dan energi bagi Sumatera Barat, tetapi juga menjadi model pembangunan berkelanjutan yang mampu menyeimbangkan antara tuntutan ekonomi dan konservasi alam di Indonesia.(*)