Donald Trump Batal Lakukan Serangan Bom, Iran Umumkan Kemenangan di hari ke-40 Perang
Imam Saputro April 08, 2026 10:22 AM

TRIBUNPALU.COM - Presiden AS, Trump batal luncurkan serangan mematikan, Iran umumkan kemenangan telak atas AS di hari ke-40 perang.

Ancaman Presiden Amerika Serikat (AS)  Donald Trump untuk meluluhlantakkan Iran tidak terbukti.

Hingga pagi ini, Selasa (8/4/2026), batas waktu yang diberikan Trump dicueki Iran.

Alhasil ancaman Trump ternyata tidak terbukti.

Beberapa jam sebelum serangan yang direncanakan, Trump menggunakan platform Truth Social untuk mengumumkan bahwa ia telah mengubah arah dengan menyetujui gencatan senjata.

"Saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran untuk jangka waktu dua minggu," tulis Trump sebagaimana dilansir BBC. 

Baca juga: Efisiensi BBM Jadi Alasan, Jembatan Palu I dan III Dikaji Kembali Dua Arah

Ultimatum Trump

Trump sebelumnya mengeluarkan ultimatum, hanya untuk mundur pada menit terakhir.

 Pada 21 Maret, ia mengancam akan “menghancurkan” instalasi minyak Iran jika Teheran tidak sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz dalam 48 jam.

Namun, ketika tenggat waktu itu habis, Trump tidak memerintahkan serangan.

Sebaliknya, ia mengumumkan jeda lima hari dalam serangan udara dan menyatakan telah mengadakan “pembicaraan yang sangat baik dan produktif” dengan Iran, mengungkapkan kontak tidak langsung dengan Teheran untuk pertama kalinya.

Trump cenderung mengubah posisi kebijakan, tetapi kali ini ia secara publik dan berulang kali menegaskan sikap yang mungkin sulit dibatalkan tanpa kehilangan muka.

Ini membuatnya menghadapi keputusan paling penting sejak dimulainya perang.

“Kami memiliki rencana, karena kekuatan militer kami, di mana setiap jembatan di Iran akan hancur … setiap pembangkit listrik di Iran akan tidak berfungsi, terbakar, meledak, dan tidak akan digunakan lagi,” katanya.

Namun, para kritikus berpendapat bahwa ini bukan opsi militer yang kredibel untuk memaksa Iran menyerah. “Bahkan serangan signifikan terhadap infrastruktur Iran tidak akan menghasilkan penyerahan,” tulis Danny Citrinowicz, mantan intelijen Israel, di X. “Asumsi bahwa tekanan saja dapat menghancurkan Teheran bukan strategi, ini hanyalah angan-angan.”

Iran klaim menang

Republik Islam Iran telah menyatakan "kekalahan bersejarah dan telak" bagi Amerika Serikat (AS) dan rezim Israel setelah 40 hari perang.

Trump sebelumnya mengancam Iran dengan kalimat “seluruh peradaban akan mati malam ini, dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali” jika tidak ada kesepakatan yang tercapai sebelum tenggat waktu yang dia tetapkan hingga tadi malam.

Sejumlah media Iran mengumumkan bahwa AS terpaksa menerima proposal 10 poin dari Iran yang mencakup gencatan senjata permanen, pencabutan semua sanksi, dan penarikan pasukan tempur AS dari kawasan tersebut.

Sumber resmi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran

Press TV mengutip rilis resmi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang mengatakan bahwa AS dan Israel telah menderita kekalahan yang tak terbantahkan dan sekarang "tidak melihat jalan keluar lain selain tunduk pada kehendak bangsa Iran yang agung dan Poros Perlawanan yang terhormat."

Pengumuman ini disampaikan pada hari ini tepat hari ke-40 perang agresi AS-Israel terhadap Iran.

Perang yang dimulai dengan pembunuhan Pemimpin Revolusi Islam Ayatollah Seyyed Ali Khamenei dan para komandan berpangkat tinggi pada tanggal 28 Februari.

"Iran dan gerakan perlawanan hampir sepenuhnya menghancurkan mesin militer Amerika di kawasan itu," demikian pernyataan resmi Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.

Lebih lanjut dinyatakan bahwa Amerika Serikat memahami sejak 10 hari pertama perang bahwa mereka tidak dapat menang.

"Tidak hanya tidak satu pun dari tujuan utama musuh terwujud, tetapi musuh menyadari sekitar 10 hari setelah dimulainya perang bahwa mereka tidak akan mampu memenangkan perang ini," kata pernyataan itu.

"Karena alasan ini, melalui berbagai saluran dan metode, musuh mulai berupaya menjalin kontak dengan Iran dan meminta gencatan senjata."

Sembari menyatakan kemenangan, badan keamanan tertinggi itu juga mendesak agar kewaspadaan terus ditingkatkan.

"Kami mengucapkan selamat kepada seluruh rakyat Iran atas kemenangan ini," bunyi pernyataan tersebut dan menekankan bahwa sampai rincian kemenangan ini diselesaikan, masih dibutuhkan keteguhan dan kehati-hatian para pejabat serta pelestarian persatuan dan solidaritas di antara rakyat Iran."

Pakistan: AS-Iran Sepakati Gencatan Senjata Sementara

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, yang telah berperan sebagai mediator utama antara AS dan Iran, mengumumkan AS, Iran, serta sekutu-sekutu mereka sepakat untuk melakukan gencatan senjata sementara selama dua minggu.

"Republik Islam Iran dan Amerika Serikat, bersama dengan sekutu-sekutunya, telah sepakat untuk gencatan senjata segera di mana pun, termasuk Lebanon dan tempat lain," tulis Shehbaz Sharif di platform X, Rabu (8/4/2026).

Perdana Menteri itu mengatakan gencatan senjata akan segera berlaku setelah Iran membuka Selat Hormuz.

"Kami mengundang delegasi mereka ke Islamabad pada hari Jumat, 10 April 2026, untuk bernegosiasi lebih lanjut guna mencapai kesepakatan yang konklusif untuk menyelesaikan semua perselisihan," tambahnya. 

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan tercapainya gencatan senjata sementara dengan Iran selama dua minggu.

Sementara itu, Iran akan membuka Selat Hormuz selama dua minggu dan menegaskan bahwa AS-Israel harus menghentikan serangannya.

Awal Mula Munculnya 10 Poin Iran?

Senin (6/4/2026) lalu, Pakistan  memulai menjadi mediator dalam pembicaraan damai antara Iran Vs AS.

Pakistan dikabarkan mengajukan usulan gencatan senjata selama 45 hari setelah pertemuan terpisah dengan pejabat AS dan Iran.

Para negosiator Iran dan AS belum bertemu langsung untuk membahas rencana gencatan senjata 45 hari tersebut.

Pada akhir Maret, Trump mengatakan kepada wartawan bahwa utusannya sedang berbicara dengan seorang pejabat senior Iran, tetapi hal ini tidak dikonfirmasi oleh Iran.

Teheran membantah telah mengadakan pembicaraan dengan para negosiator AS.

Iran dilaporkan menolak usulan gencatan senjata tersebut dan sebagai gantinya menyerukan pengakhiran permusuhan secara permanen.

Proposal Iran terdiri dari 10 klausul, termasuk pengakhiran konflik di kawasan tersebut, protokol untuk jalur aman melalui Selat Hormuz, pencabutan sanksi, dan rekonstruksi, lapor IRNA.

Konflik telah menyebar ke wilayah Teluk dan Lebanon, di mana 1,2 juta warga Lebanon telah mengungsi akibat serangan Israel.

Adapun rincian proposal 10 poin Iran seperti dikutip Tasnim News adalah sebagai berikut:

1- Pada prinsipnya, AS harus berkomitmen untuk menjamin non-agresi.

2. Kontrol Iran yang berkelanjutan atas Selat Hormuz

3. Hak pengayaan uranium Iran harus diterima.

4- Pencabutan semua sanksi utama.

5- Pencabutan semua sanksi sekunder.

6- Pengakhiran semua resolusi Dewan Keamanan PBB.

7- Pembatalan semua resolusi Dewan Gubernur IAEA.

8. Pembayaran ganti rugi atas kerusakan yang diderita Iran.

9. Penarikan pasukan tempur AS dari wilayah tersebut.

10. Penghentian perang di semua lini, termasuk melawan perlawanan Islam yang heroik di Lebanon.

"Dengan menerima syarat-syarat ini sebagai dasar negosiasi, Trump telah menarik diri dari ancaman dan gertakan putus asa yang sebelumnya ia lontarkan," demikian Tasnim News  melaporkan pagi ini.

(Tribunnews.com)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.