Pertama di Dunia! Embarkasi Haji Kulon Progo Operasikan Layanan Berbasis Hotel Berbintang
Hari Susmayanti April 08, 2026 01:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Daerah Istimewa Yogyakarta mencatatkan sejarah baru dalam manajemen pelayanan publik dengan mengoperasikan Embarkasi Haji Kulon Progo mulai 21 April 2026.

Berbeda dengan pakem konvensional yang menggunakan asrama haji milik pemerintah, embarkasi ini sepenuhnya berbasis hotel berbintang. 

Langkah ini tidak hanya bertujuan memangkas jarak transportasi, tetapi juga menjadi sarana edukasi adaptif bagi jemaah sebelum menghadapi realitas akomodasi di Arab Saudi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kanwil Kemenhaj DIY, M. Jauhar Mustofa, menyatakan bahwa seluruh persiapan teknis dan administratif telah memasuki fase final. 

Kehadiran embarkasi di dekat Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) ini merupakan buah dari studi kelayakan panjang yang diinisiasi bersama Pemerintah Daerah DIY dan pemangku kepentingan terkait sejak 2024.

"Insyaallah di embarkasi ini akan mulai beroperasional resmi tanggal 21 April 2026 ini. Jam pertama ini jam 6 pagi sudah masuk. Dan kalau jadwal terakhir itu tanggal 22 jam 06.30, cuma kemarin (maskapai) Garuda merilis akan ada perubahan jadwal keberangkatan, lah ini kita tunggu. Yang sementara ini jadwalnya tanggal 21 masuk jam 6 pagi, kemudian diberangkatkan kloter pertama itu tanggal 22 jam 06.30 pagi," ujar Jauhar, Rabu (8/4/2026).

Keunikan Embarkasi Kulon Progo terletak pada penggunaan fasilitas Hotel Ibis (bintang 3) dan Hotel Novotel (bintang 4).

Jauhar menegaskan bahwa penggunaan hotel bukan sekadar memberikan kemewahan, melainkan bentuk simulasi nyata bagi jemaah.

"Karena ini memang embarkasi ini beda dengan embarkasi yang lain. Kalau di luar Jogja kan tidak pakai hotel tetapi asrama haji. Nah, ini karena hotel, memang ya include layanan hotel. Nantinya untuk akomodasi hotel, kemudian konsumsi juga include paket full board yang memang ini menjadi paketnya dari hotel. Semuanya sudah kita siapkan. Jadi insyaallah mohon doa restunya ini agar embarkasi perdana ini nanti juga menjadi pelayanan yang inovatif dan lebih baik dibandingkan dengan embarkasi yang lain," tuturnya.

Ia menambahkan bahwa skema ini memberikan keuntungan psikologis bagi jemaah. 

"Jadi satu-satunya embarkasi yang berbasis hotel ya Yogyakarta ini. Bahkan saya sampaikan itu, tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Kalau Jogja, ya jelas kan memangkas jaraknya, lebih mendekatkan layanan. Kalau dari Jogja kan Asrama Haji (Donohudan) kan jauh. Jadi hotel berbintang 3 tentu fasilitasnya juga jauh lebih baik dibandingkan dengan asrama haji. Dan nanti pun jemaah itu kan ketika di Tanah Suci, baik di Madinah maupun di Makkah, itu juga menempati hotel. Sehingga mereka tidak kaget lagi ketika nanti mereka sudah diberangkatkan dan tiba di Arab Saudi. Karena di sini selama di embarkasi kurang lebih sehari semalam itu sudah belajar untuk menggunakan hotel, menggunakan fasilitas hotel. Sehingga ketika sampai di Makkah, sampai di Madinah sudah tidak kaget lagi," paparnya.

Baca juga: Konflik Timur Tengah Tak Pengaruhi Rute Perjalanan Haji 

Cakupan Wilayah dan Sterilisasi Fasilitas

Secara operasional, embarkasi ini akan melayani 9.320 jemaah yang terbagi ke dalam 26 kelompok terbang (kloter).

Selain melayani seluruh wilayah DIY, fasilitas ini juga menjadi titik keberangkatan utama bagi jemaah dari eks-Karesidenan Kedu di Jawa Tengah.

"Dua puluh enam kloter yang diberangkatkan dari Embarkasi Kulon Progo. Jemaahnya jumlahnya 9.320. Itu dari seluruh DIY dan eks-Karesidenan Kedu. Jadi Kebumen, Purworejo, Magelang, Kota Magelang, Wonosobo, dan Temanggung nanti masuk di embarkasi Yogyakarta ini," jelas Jauhar.

Untuk menjamin standar pelayanan haji, manajemen hotel telah menyetujui protokol sterilisasi.

Hotel Ibis akan dikosongkan sepenuhnya dari tamu umum selama musim haji guna menjaga privasi dan keamanan jemaah.

Sementara itu, Novotel akan berfungsi ganda; sebagian kamarnya digunakan untuk operasional Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dan ruang rapat koordinasi, namun tetap menerima tamu reguler.

Fasilitas ini juga dirancang untuk mengedepankan prinsip ramah lansia. 

"Karena pelayanannya jenis ramah lansia, tentu kita juga menyediakan fasilitas. Meskipun hotel, juga akan disediakan misalnya kursi roda dan lain-lain, juga petugasnya, para satgasnya juga sudah disediakan. Sehingga ini yang harap-harapannya memang lebih memberikan rasa kenyamanan bagi jemaah kita," tambahnya.

Di sisi lain, Kemenhaj memantau ketat dinamika keamanan di Timur Tengah yang saat ini tengah memanas.

Jauhar meminta jemaah untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh isu pembatalan atau perubahan jadwal yang tidak resmi.

"Sampai saat ini masih on schedule. Jadi kan hari ini pun Pak Wamen ada di sana, Pak Dirjen juga ada di sana, beberapa Dirjen ada di Arab Saudi, memastikan terkait dengan persiapan-persiapan haji, terutamanya untuk jemaah Indonesia. Dan Pak Wamen, infonya sudah ketemu Kementerian Haji, Pak Menteri Haji Arab Saudi. Sampai saat ini masih on schedule. Nah, tentu nanti menunggu perkembangan yang lebih lanjut, ya. Tapi untuk yang daerah ini, ya, kita menunggu kebijakan pusat. Jadi apapun yang diputuskan oleh pusat nanti ya kami akan ikuti. Tetapi sampai saat ini kita sampaikan kepada jemaah bahwa jadwal-jadwal yang sudah ditetapkan sesuai dengan jadwal semula," pungkasnya.

Proses keberangkatan akan dimulai pada tanggal 21 April mendatang dengan standar protokol minus lima jam (H-5) sebelum penerbangan.

Artinya, jemaah yang dijadwalkan terbang pukul 06.30 WIB sudah harus memulai prosesi pemberangkatan dari hotel menuju terminal keberangkatan YIA sejak pukul 01.00 dini hari. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.