BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - Genangan air yang tak kunjung surut kembali memicu aksi sejumlah warga Desa Bukitmulya, Kecamatan Kintap, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan.
Puluhan warga yang kebun karetnya terendam dan aktivitasnya terganggu, Rabu (8/4/2026) pagi, mendatangi jalan hauling perusahaan tambang batu bara setempat dan mendirikan tenda sebagai bentuk protes. Juga meletakkan kendaraan bermotor di jalan tambang.
Aksi ini dipicu dampak banjir berkepanjangan yang merendam sekitar 30 hektare kebun karet warga.
Ssebagian tanaman bahkan dilaporkan mati karena terlalu lama terendam, sejak beberapa bulan silam hingga sekarang.
Di sisi lain, warga yang kebunnya tidak terdampak langsung pun tetap kesulitan beraktivitas lantaran akses menuju lokasi kebun terputus.
Baca juga: Serunya Merambah Jalan Tembus Kiram Banjar Ke Desa Imban Tanahlaut, Disuguhi Pemandangan Alam
Baca juga: Tangis Tunangan Pecatan Polisi Pecah di Sidang Pembunuhan Mahasiswi ULM, Ungkap Soal Rencana Menikah
“Bukan cuma kebun yang terendam, jalan juga tenggelam. Kami tidak bisa lagi menyadap karet,” keluh salah satu warga saat berada di lokasi.
Genangan air juga melumpuhkan jalur vital menuju Dusun 5, termasuk jalan TSM dan sejumlah akses alternatif lainnya.
Ketinggian air bahkan mencapai dada orang dewasa, membuat jalur tersebut tidak bisa dilintasi sama sekali.
Dusun 5 terpisah dari dusun lainnya dengan jarak beberapa kilometer dari permukiman induk. Warga di kawasan itu mayoritas bekerja di perusahaan perkebunan kelapa sawit, sehingga akses jalan menjadi kebutuhan utama.
Warga menyebut banjir bukan disebabkan curah hujan dari hulu, melainkan dampak aktivitas tambang.
Tumpukan overburden (OB) yang longsor disebut menutup aliran sungai, sehingga air meluap dan menggenangi kebun serta jalan warga.
Aksi warga mendapat pengawalan dari aparat Polsek Kintap dan Koramil setempat. Kapolsek Kintap, AKP Baysory, yang turut hadir di lokasi memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib.
“Alhamdulillah, aksi berjalan kondusif. Warga menyampaikan aspirasi dengan baik,” ujarnya.
Perwakilan perusahaan kemudian menemui massa aksi dan menyatakan kesiapan untuk merespons tuntutan warga.
Kepala Dusun 3 Bukitmulya Nur Wahyudi hanya memberikan penjelasan singkat saat ke luar dari kantor desa.
Ia mengatakan pihak perusahaan telah merespons tuntutan. “Intinya tuntutan masyarakat sudah direspons oleh pihak perusahaan,” ujarnya singkat usai ppertemuan.
Catatan media ini, aksi ini bukan yang pertama kali dilakukan warga. Genangan yang terjadi dalam waktu lama tanpa solusi tuntas membuat warga kembali turun ke lapangan.
Kini, warga berharap respons perusahaan kian lebih baik, diikuti langkah nyata untuk memulihkan aliran sungai, mengeringkan lahan.
Tanpa langkah itu, bukan hanya penghasilan dari kebun karet yang terancam hilang, tetapi juga aktivitas ekonomi warga di wilayah terpencil seperti Dusun 5 yang semakin terisolasi.
Sementara itu pihak perushaan tambang juga enggan memberikan penjelasan.
(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)