Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperkuat ekosistem ekonomi dan keuangan digital melalui program digitalisasi pasar di 20 pasar tradisional di bawah pengelolaan BUMD Perumda Pasar Jaya.

"Program Digitalisasi Pasar Inklusif Tahap 3 ini merupakan wujud nyata sinergi berbagai pihak dalam menghadirkan ekosistem pasar yang semakin modern, efisien, dan terintegrasi," kata Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi DKI Jakarta Lily Mochamad Sadeli dalam penutupan Program Digitalisasi Pasar Tahap 3 di Pasar Pal Meriam, Matraman, Jakarta Timur, Rabu.

Program yang merupakan kolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Jabodebek serta Penyedia Jasa Pembayaran (PJP) baik bank maupun nonbank ini resmi diluncurkan pada 13 Februari 2026 dan berlangsung selama satu bulan.

"Program ini diharapkan mampu menjadi sarana unggulan dalam menggerakkan perekonomian DKI Jakarta," ujarnya.

Menurut Lily, inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya strategis mendorong akselerasi ekonomi dan keuangan digital sekaligus memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global.

Selain itu, digitalisasi pasar menjadi salah satu kunci dalam mendorong transformasi ekonomi berbasis kerakyatan yang inklusif dan berkelanjutan.

Lily menjelaskan, salah satu fokus utama program ini adalah meningkatkan pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di lingkungan pasar tradisional.

Untuk itu, Bank Indonesia DKI Jakarta memperluas keterlibatan peserta dengan menggandeng lebih banyak penyedia jasa pembayaran (PJP) dari sektor perbankan maupun nonbank.

Langkah tersebut bertujuan menghadirkan beragam inovasi layanan pembayaran yang tidak hanya cepat dan mudah, tetapi juga murah, aman, dan andal.

"Dengan semakin luasnya akses terhadap layanan pembayaran digital, diharapkan proses transaksi di pasar menjadi lebih efisien sekaligus mempercepat inklusi keuangan di masyarakat," jelasnya.

Menurut Lily, implementasi program selama satu bulan tersebut menunjukkan capaian yang signifikan. Hal ini terlihat dari meningkatnya jumlah pelaku usaha (merchant) baru yang menggunakan QRIS di pasar-pasar tradisional, serta lonjakan volume dan nominal transaksi digital.

Tidak hanya pada transaksi jual beli, digitalisasi juga mulai merambah ekosistem pendukung pasar, seperti sistem pembayaran parkir dan layanan lainnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar tradisional mulai bertransformasi menjadi ekosistem ekonomi digital yang lebih luas dan terintegrasi.

"Perkembangan ini menjadi pintu gerbang dalam mewujudkan pasar sebagai sarana unggulan penggerak perekonomian daerah yang berkelanjutan," ujar Lily.

Selain penguatan infrastruktur pembayaran, program ini juga menitikberatkan pada aspek edukasi.

Selama kegiatan berlangsung, berbagai sesi sosialisasi dan pelatihan diberikan kepada para pedagang guna meningkatkan literasi keuangan digital.

"Edukasi ini penting agar para pedagang tidak hanya mampu menggunakan teknologi pembayaran digital, tetapi juga memahami manfaatnya dalam pengelolaan usaha, seperti pencatatan transaksi yang lebih rapi dan akses terhadap layanan keuangan formal," ucap dia.

Lily berharap, sinergi antara Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi faktor penting dalam keberhasilan program ini.

"Dukungan dari pemerintah daerah, baik dari sisi kebijakan maupun fasilitasi di lapangan, mempercepat adopsi digital di kalangan pelaku usaha pasar tradisional," katanya.

Ke depan, Bank Indonesia bersama Pemprov DKI Jakarta berkomitmen untuk terus memperluas cakupan digitalisasi pasar hingga menjangkau seluruh pasar tradisional di wilayah ibu kota.

Kolaborasi juga akan terus diperkuat dengan OJK, Perumda Pasar Jaya, serta para penyedia jasa pembayaran.

Upaya tersebut tidak hanya difokuskan pada peningkatan transaksi digital, tetapi juga pada penguatan literasi dan inklusi keuangan agar ekosistem digital yang terbentuk dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Dengan penguatan ekosistem digital di pasar tradisional, Lily berharap, Jakarta mampu mempercepat transformasi menuju ekonomi digital yang inklusif sekaligus meningkatkan daya saing sebagai kota global.