Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Kemunculan rumah yang menyerupai kediaman Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), di game Roblox menuai perhatian publik.
Meski disebut-sebut sebagai “Tembok Ratapan Solo”, Jokowi dikabarkan tidak merasa terganggu dan menanggapinya dengan santai.
Dalam game Roblox, muncul sebuah bangunan yang menyerupai kediaman Jokowi di kawasan Sumber, Banjarsari, Solo.
Fenomena ini ramai dibicarakan di media sosial dan menarik perhatian banyak pengguna, terutama generasi muda.
Sebagian orang menyebut lokasi virtual tersebut sebagai “Tembok Ratapan Solo”, merujuk pada istilah yang belakangan viral.
Menanggapi hal ini, ajudan Jokowi, AKBP Syarif Fitriansyah, menyebut kemunculan tersebut sebagai bagian dari kebebasan berekspresi di era digital.
“Bapak juga tidak merasa terganggu. Selama itu positif, tidak ada hoaks, tidak ada unsur negatif, ya kami anggap biasa saja. Justru ini menunjukkan masyarakat, terutama generasi muda, punya cara sendiri untuk berekspresi,” jelasnya saat dihubungi, Rabu (8/4/2026).
Ia menegaskan bahwa pihaknya melihat fenomena ini secara santai dan tidak berlebihan dalam menyikapinya.
“Kami sudah tahu juga soal itu. Ya kami melihatnya santai saja, itu kan bagian dari kreativitas anak-anak muda di era digital sekarang, termasuk di Roblox,” terangnya.
Istilah “Tembok Ratapan” sendiri merujuk pada tempat suci umat Yahudi di Yerusalem.
Dalam konteks lokal, kediaman Jokowi belakangan dijuluki “Tembok Ratapan Solo” karena banyaknya orang yang datang berkunjung.
Di media sosial, beredar berbagai konten yang menampilkan orang seolah-olah meratap menghadap tembok, sering kali disertai narasi bernada sindiran.
Kini, fenomena tersebut merambah ke dunia virtual melalui Roblox, di mana banyak pengguna turut “berkunjung” secara digital.
Baca juga: Roblox Tembok Ratapan Solo Viral, Jokowi Tanggapi Santai : Kebebasan Berekspresi
Meski merespons dengan santai, AKBP Syarif tetap mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam berekspresi, terutama di ruang digital.
“Yang penting tetap dijaga etika, jangan sampai ada informasi yang tidak benar atau membuat gaduh. Selebihnya, Bapak santai saja dan menghargai kreativitas seperti itu,” tuturnya.
(*)