PROHABA.CO - Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang meletus sejak akhir Februari 2026 kini memasuki fase baru.
Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Washington telah menerima rencana 10 poin dari Iran sebagai dasar negosiasi untuk mengakhiri perang.
Keputusan Donald Trump, menunda serangan terhadap Iran selama dua pekan membuka babak baru diplomasi panas di Timur Tengah.
Pengumuman ini menandai titik penting dalam upaya diplomasi yang sebelumnya hampir runtuh akibat ancaman serangan besar-besaran.
Dalam pernyataannya, Trump menyebut proposal Iran sebagai “dasar yang layak untuk bernegosiasi.”
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa kata-kata Presiden sudah jelas: ini adalah dasar yang dapat diterapkan untuk bernegosiasi, dan negosiasi tersebut akan terus berlanjut."
Ia menambahkan bahwa keberhasilan diplomasi Trump dan kekuatan militer AS telah membuat Iran setuju membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital bagi perdagangan minyak dunia.
Isi Rencana yang Diajukan Iran
Iran mengatakan rencana 10 poinnya untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat.
Iran merilis daftar tuntutan melalui media pemerintah, yang mencakup beberapa poin krusial:
Penerimaan program pengayaan uranium oleh Washington.
Pencabutan semua sanksi primer dan sekunder terhadap Iran.
Kontrol berkelanjutan Iran atas Selat Hormuz.
Penarikan pasukan militer AS dari Timur Tengah.
Penghentian serangan terhadap Iran dan sekutunya.
Pembebasan aset Iran yang dibekukan.
Resolusi Dewan Keamanan PBB agar kesepakatan bersifat mengikat secara hukum internasional.
Perluasan kendali Iran atas jalur energi global.
Jaminan keamanan bagi jalur perdagangan minyak.
Kerangka kerja diplomatik jangka panjang untuk menghindari konflik serupa di masa depan.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menekankan bahwa pengesahan resolusi PBB akan menjadi kemenangan diplomatik besar bagi bangsa Iran.
Peran Pakistan dalam Mediasi
Pakistan kembali muncul sebagai mediator penting. Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir mengajukan proposal menit-menit terakhir untuk mencegah serangan besar AS.
Trump bahkan sempat memperingatkan bahwa “seluruh peradaban akan mati malam ini” jika kesepakatan tidak tercapai.
Berkat mediasi Pakistan, ancaman tersebut ditarik kembali.
Gencatan Senjata Sementara
Donald Trump menunda serangan terhadap jembatan, pembangkit listrik, dan target sipil di Iran dengan syarat Teheran menyetujui gencatan senjata selama dua minggu dan pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur air tempat seperlima minyak dunia dikirim selama masa damai.
Dia juga mengatakan Iran telah mengusulkan rencana perdamaian 10 poin yang "dapat diterapkan" yang dapat membantu mengakhiri perang yang dilancarkan oleh AS dan Israel pada 28 Februari 2026.
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran mengatakan telah menerima gencatan senjata selama dua minggu dan akan bernegosiasi dengan Amerika Serikat di Islamabad mulai Jumat.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa jalur melalui Selat Hormuz selama dua minggu di bawah pengelolaan militer Iran.
Belum jelas apakah itu berarti Iran akan melonggarkan kendalinya atas jalur air tersebut.
Dalam sebuah unggahan di media sosialnya, Trump mengatakan bahwa ia akan menangguhkan serangan terhadap Iran selama dua minggu dengan syarat Teheran setuju untuk "membuka selat secara penuh, segera, dan aman".
Tuntutan tersebut menunjukkan upaya untuk membentuk kembali tatanan geopolitik di Timur Tengah dan perdagangan minyak global.
Sejak perang dimulai, Trump berulang kali mengundur tenggat waktu tepat sebelum tenggat waktu tersebut berakhir.
Israel juga telah menyetujui persyaratan perjanjian gencatan senjata selama dua minggu, menurut seorang pejabat Gedung Putih yang tidak berwenang untuk berkomentar secara terbuka dan berbicara dengan syarat anonim.
Namun, ada kekhawatiran di Israel mengenai kesepakatan tersebut, menurut seseorang yang mengetahui situasi tersebut dan berbicara dengan syarat anonim karena tidak diizinkan berbicara kepada media.
Orang tersebut mengatakan Israel ingin mencapai lebih banyak lagi.
Persediaan uranium yang sangat diperkaya milik Iran masih terkubur di lokasi pengayaan.
Program tersebut merupakan salah satu isu utama yang dikutip oleh Israel dan AS dalam melancarkan perang.