KPPG Tinjau MBG di SLB Negeri 31, Tekankan Menu Aman dan Tepat bagi Siswa
Asmadi Pandapotan Siregar April 08, 2026 05:03 PM

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Suasana ruang kelas di SLB Negeri 31 Pangkalpinang tampak Anak-anak berkebutuhan khusus menunjukkan beragam kondisi dan kemampuan. Sebagian siswa sudah mampu makan secara mandiri, sementara lainnya masih membutuhkan pendampingan dari guru.

Dalam proses makan, ada siswa yang terlihat fokus dan tenang, namun ada pula yang mudah terdistraksi hingga berlarian serta berteriak. Di Ruangan kelas yang penuh warna, gambar bahkan mainan Interaksi antara guru dan siswa pun berlangsung intensif. Guru kerap memberikan arahan secara langsung, baik melalui ucapan maupun gestur, untuk membantu anak memahami instruksi sederhana seperti cara makan atau duduk dengan benar.

Di balik aktivitas tersebut, tersimpan perhatian besar terhadap kebutuhan mereka anak-anak dengan kondisi khusus yang tidak hanya membutuhkan pendidikan, tetapi juga asupan gizi yang tepat dan aman.

Kondisi ini menjadi bagian dari peninjauan yang dilakukan Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Palembang wilayah kerja Provinsi Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, dan Jambi, Dr. Nurya Hartika Sari saat mengunjungi SLB Negeri 31 Pangkalpinang.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari peninjauan langsung, evaluasi, serta pemberian masukan guna meningkatkan kualitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lapangan.

“Secara keseluruhan sudah berjalan dengan sangat baik. Ke depan kami harapkan tetap berjalan sebagaimana mestinya tanpa kendala. Dari SPPG juga harus memastikan kebutuhan khusus anak-anak, terutama terkait alergi makanan, benar-benar diperhatikan,” katanya kepada Bangkapos, Rabu (8/4/2026).

Ia menjelaskan, siswa di SLB memiliki kebutuhan berbeda dibandingkan sekolah umum, baik dari sisi distribusi, pengolahan makanan, hingga pemilihan menu.

“Di SLB ini tentu berbeda dengan sekolah reguler. Anak-anak memiliki kebutuhan yang sangat beragam, baik dari sisi jenis makanan, pola konsumsi, hingga kondisi kesehatan tertentu. Oleh karena itu, mulai dari proses pengolahan, pemilihan menu, hingga pendistribusian harus benar-benar diperhatikan secara detail,” katanya.

Nurya menekankan pentingnya peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam memastikan kualitas makanan yang diberikan kepada siswa, termasuk keamanan dan kesesuaian dengan kondisi masing-masing anak.

“Kami menekankan kepada SPPG agar benar-benar melakukan pendataan dan pengawasan yang ketat, terutama terkait alergi makanan maupun kebutuhan khusus lainnya. Jangan sampai ada makanan yang justru tidak sesuai atau berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi anak-anak,” ujarnya.

Dari hasil pemantauan, KPPG juga memberikan catatan terkait distribusi makanan, khususnya soal ketepatan waktu agar tidak mengganggu jadwal belajar siswa.

PENINJAUAN MBG - KPPG melakukan Peninjuan kepada Anak-anak berkebutuhan khusus menikmati program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SLB Negeri 31 Pangkalpinang pada Rabu (8/4/2026).
PENINJAUAN MBG - KPPG melakukan Peninjuan kepada Anak-anak berkebutuhan khusus menikmati program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SLB Negeri 31 Pangkalpinang pada Rabu (8/4/2026). (Bangkapos.com/Erlangga)

“Ada masukan agar distribusi di sekolah, terutama di SLB Negeri 31 ini, lebih diperhatikan dari sisi waktu. Jangan sampai terlambat karena di sini ada pembagian jadwal pagi dan siang,” ujarnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Sekolah SLB Negeri 31 Pangkalpinang, Tri Purwanto, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program MBG yang dinilai sangat membantu siswa.

“Alhamdulillah anak-anak kami sangat antusias dan senang dengan program MBG ini. Menu-menunya juga cocok untuk mereka. Kami hanya bisa menyampaikan terima kasih,” katanya.

Ia menambahkan, sejak awal kerja sama dengan pihak SPPG, sekolah telah melakukan pendataan terhadap kondisi masing-masing siswa, termasuk alergi dan preferensi makanan.

“Di awal kami sudah melakukan pendataan melalui angket yang melibatkan orang tua. Jadi kami tahu mana anak yang memiliki alergi, mana yang membutuhkan menu khusus. Ada yang vegetarian, ada yang hanya bisa makan ikan atau ayam,” jelasnya.

Menurutnya, langkah tersebut membuat pelaksanaan program MBG selama kurang lebih empat hingga lima bulan terakhir berjalan lancar.

“Alhamdulillah sejauh ini berjalan lancar dan makanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak,” ujarnya.

Kunjungan ini juga turut dihadiri Koordinator Regional Bangka Belitung, Dhini, sebagai bentuk dukungan dan sinergi antar pihak dalam memperkuat koordinasi pelaksanaan program.

“Melalui evaluasi langsung ini diharapkan program MBG dapat terus ditingkatkan kualitasnya, sehingga manfaatnya semakin optimal dan berkelanjutan,” ucapnya.

Tak hanya dari sisi teknis, program MBG juga mendapat respons dari orang tua siswa. Salah satunya disampaikan oleh Ida, yang mengaku program tersebut sangat membantu dalam memenuhi kebutuhan makan anak.

“Baguslah programnya. Lumayan meringankan beban orang tua, sekarang jadi lebih menghemat biaya. Dulu kan harus siapkan lagi dari rumah,” katanya.

Meski sempat ada keluhan di awal terkait keterlambatan distribusi, ia menilai program ini tetap membawa dampak positif.

“Keluhannya paling dulu itu datangnya lambat. Tapi sekarang sudah lebih baik. Anak-anak juga jadi lebih mau makan, bahkan sayur pun sekarang dimakan,” ujarnya.

Ia berharap ke depan variasi menu dapat lebih ditingkatkan agar anak-anak tidak merasa bosan, terutama untuk lauk seperti tempe dan tahu.

“Kalau bisa jangan terlalu sering tempe dan tahu. Mungkin bisa divariasikan cara masaknya,” katanya. (Bangkapos.com/Erlangga)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.