SURYAMALANG.COM, KABUPATEN MALANG - Tidak semuanya pekerjaan itu menjanjikan kenyamanan, meskipun telah mendapat banyak pundi-pundi pendapatan.
Kalimat itulah yang ada dibenak Muhammad Azmi, yang kini sedang mengembangkan usaha camilan Rengginang sejak 2020 silam.
Rengginang, merupakan camilan kerupuk tradisional Indonesia yang terbuat dari bahan dasar beras ketan.
Sebelum menekuni bisnis Rengginang, Azmi sempat merantau ke luar negeri sebagai koki di sebuah kapal pesiar.
Ia juga pernah bekerja sebagai kuli bangunan, hingga akhirnya ia memutuskan pulang kampung dan mencoba mengembangkan usaha keluarga.
Tinggal di Dusun Sambigede, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang, Azmi hanya melanjutkan usaha mertua jualan rengginang yang diberi nama Rengginang Kencana.
Desa tempat tinggalnya memang dikenal sebagai sentra penghasil rengginang.
Saat itu, ia jualan rengginang dengan cara tradisional, yakni mengandalkan metode konvensional dari mulut ke mulut.
Namun, kondisi sepi pembeli membuatnya harus memutar otak.
Ia pun nekat berjualan keliling menggunakan obrok motor.
Perjalanan yang ditempuh juga tak main-main. Mulai dari Kabupaten Malang hingga Kanigoro, Kabupaten Blitar.
"Waktu itu saya jualan offline, jalan menggunakan sepeda motor dari Malang sampai Blitar."
"Sehari paling cuma laku dua bungkus," kenangnya, saat ditemui SURYAMALANG.COM, Rabu (8/4/2026).
Baca juga: Jeritan Pedagang Tempe di Kota Malang, Kena Imbas Perang Iran vs Amerika-Israel di Timur Tengah
Meski pendapatannya tak seberapa saat itu, Azmi memiliki keyakinan kuat kalau usahanya nanti akan berhasil.
Perjalanannya tersebut dilakoni menggunakan sepeda motor dengan membawa obrok berisi rengginang mentah.
Tak jarang, dagangannya rusak di perjalanan. Bahkan hasil penjualan sering kali tidak cukup untuk menutup biaya bensin.
Ia harus menutupi jerih payahnya itu dengan senyuman lebar kepada istri dan ketiga anaknya setelah sampai rumah.
Azmi berusaha untuk tetap ceria, meskipun keceriaan itu tak sesuai dengan isi hatinya.
"Kadang orang beli mungkin karena kasihan. Nyari pelanggan pertama itu memang sulit sekali," ujarnya.
Masa itu menjadi titik terendah dalam perjalanan usahanya.
Hampir satu tahun ia menjalani pola jualan keliling tanpa hasil signifikan.
Namun, dari pengalaman tersebut, Azmi belajar satu hal penting, pasar harus dijangkau dengan cara berbeda.
Baca juga: Tebing di Desa Dalisodo Malang Longsor pada 3 Titik, Material Longsor Tutup Akses Jalan Alternatif
Ia mulai mencoba peruntungan dengan berjualan secara online melalui marketplace.
Berbekal belajar mandiri dari YouTube, Azmi perlahan memahami cara memasarkan produknya secara digital melalui aplikasi Shopee
Hasilnya mulai terlihat pada 2023. Pesanan berdatangan, bahkan dari luar pulau seperti Kalimantan hingga Aceh.
"Awalnya itu laku paling ya tiga bungkus, lima bungkus."
"Lalu saya tekuni jualan di online hingga akhirnya bisa ramai. Apalagi saat menerima pesanan dari jauh, rasanya seperti mimpi," katanya.
Berkat menekuni bisnis digital tersebut, usaha Rengginang Kencana milik Azmi kini berkembang cukup pesat.
Dalam kondisi normal, Azmi bisa menjual sekitar 100 bungkus per hari dengan kemasan per bungkus 250 gram.
Bahkan saat momen Ramadan, penjualannya bisa menembus hingga 1.000 bungkus per hari.
Saat ini Rengginang Kencana memiliki kapasitas produksi mencapai tiga ton per bulan dengan satu ton terdiri dari 3.000 bungkus rengginang.
Azmi juga memiliki 10 karyawan yang rata-rata sudah berusia paruh baya.
Karyawan tersebut merupakan para tetangganya yang tinggalnya tak jauh dari rumah produksi.
"Setelah menjual di Shopee itu omzet penjualan saya meningkat drastis."
"Bahkan saat Ramadan 2026 kemarin saya kewalahan, karena penjualan meningkat 20 kali lipat dari hari biasanya," ucapnya.
Rengginang Kencana milik Azmi memiliki tujuh varian rasa, yakni udang, cumi, ketan hitam, terasi, bawang, cumi-cumi, tengiri dan original.
Rasa terasi dan bawang menjadi produk yang paling laris dan banyak diminati oleh pelanggan.
Per bungkus Rengginang Kencana dijual dengan harga Rp 24.000 melalui marketplace dengan kemasan 250 gram.
Dari situ, Azmi hanya mendapatkan Rp 18.000 setelah dipotong oleh biaya admin Shopee.
Namun bagi reseller, bisa mendapatkan rengginang tersebut dengan harga Rp 12.000 untuk pembelian minimal 300 bungkus.
Kini, Azmi memiliki sekitar 10 reseller yang tersebar di seluruh Indonesia mulai dari Jawa, Kalimantan hingga Papua.
"Keunggulan rengginang saya itu kalau kata review pelanggan renyah dan gurih. Terus banyak pilihan rasanya," katanya.
Meski sudah sukses, Azmi tetap memegang kendali pada proses krusial dalam pembuatan rengginang.
Setiap jam 22.00 WIB malam, ia selalu melakukan pencucian beras seorang diri.
Durasi perendaman harus sesuai dengan jenis ketan yang digunakan.
Barulah pada pukul 03.00 WIB dini hari, sejumlah karyawan mulai datang untuk membantu proses penirisan, pengukusan, hingga pencetakan.
Rengginang itu kemudian dijemur di bawah terik matahari.
Semakin panas terik matahari, semakin baik juga kualitasnya.
Proses pengeringan tersebut berlangsung 3-4 hari apabila matahari cukup terik.
Baru setelah itu, rengginang tersebut dibungkus secara manual.
"Setelah proses pengemasan selesai baru saya packing, menyesuaikan dengan jumlah orderan di Shopee."
"Rengginang Kencana bisa bertahan hingga satu tahun asalkan proses penyimpanannya benar dan tidak lembab apalagi sampai berjamur," ucapnya.
Dengan tekad yang cukup kuat inilah, membuat Azmi kini tak perlu repot-repot berjualan dengan menggunakan obrok.
Cukup dari rumah, rengginang-nya bisa melalang buana ke seluruh penjuru Indonesia berkat bantuan teknologi.
Pengalaman jualan menggunakan obrok masih menjadi pengingat bagi bapak yang kini memiliki empat anak itu untuk terus rendah hati dan pantang menyerah dalam berusaha.
"Yang penting terus jalan dulu. Soal hasil, nanti mengikuti," tandasnya.